alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Ambeien, Apa Penyebab dan Tata Laksananya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Hemorrhoid atau biasa disebut dengan wasir/ambeien merupakan kondisi adanya pelebaran pembuluh darah pada anus akibat perubahan pada jaringan pendukung bantalan anus (anal cushion). Perubahan ini meliputi pelebaran pembuluh darah yang abnormal, trombosis (sumbatan) pembuluh darah, berkurangnya serat kolagen dan jaringan fibroelastik anus akibat proses penuaan, lifestyle, ataupun genetik.

Adapun gejala penyakit ini antara lain perdarahan berwarna merah terang setelah buang air besar (BAB), dan gatal sekitar anus. Selain itu, adanya lendir atau bahkan kotoran/feses tersisa di celana dalam setelah BAB, nyeri sekitar anus, dan benjolan yang keluar dari anus. Pada keadaan tertentu dapat membengkak dan tidak dapat masuk kembali (prolapse).

Beberapa faktor risiko dan lifestyle masa kini yang dapat meningkatkan insidensi hemorrhoid ada beberapa hal. Ada body mass index yang tinggi (obesitas), konstipasi, lifestyle/gaya hidup, dan kehamilan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada body mass index yang tinggi (obesitas), beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penyakit hemorrhoid dengan obesitas. Pada orang dengan obesitas akan terjadi beberapa mekanisme pada tubuhnya yang menjadi faktor risiko terjadinya penyakit ini. Antara lain peningkatan tekanan di dalam perut, pelebaran pembuluh darah balik/vena, dan peradangan kronis. Untuk mencegah terjadinya hemorrhoid atau bahkan meningkatkan upaya pengobatan disarankan untuk evaluasi rutin lingkar pinggang (waist circumference) dan menjaga indeks massa tubuh dalam kisaran normal.

Sementara Konstipasi adalah gangguan pencernaan yang membuat seseorang BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu. Konstipasi, feses yang keras dan mengejan saat BAB meningkatkan prevalensi terjadinya penyakit hemorrhoid, bahkan dapat menyebabkan terjadinya prolapse (benjolan keluar dari anus dan tidak bias masuk kembali) pada seseorang yg sudah menderita. Diet seimbang antara makanan tinggi serat, minum air yang cukup sangat disarankan agar konsistensi feses tidak keras dan menghindari mengejan saat BAB.

Sedangkan lifestyle/gaya hidup yang juga disebut sedentary lifestyle, seseorang dalam hal ini kurang melakukan aktivitas fisik berarti merupakan salah satu faktor risiko penyakit hemorrhoid. Pada pasien hemorrhoid dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang dapat memperbaiki gerakan usus, sirkulasi darah dan memperkuat otot didaerah panggul dan punggung belakang antara lain; jogging, renang, senam yoga. Olahraga yang disarankan untuk dihindari antara lain bersepeda, dayung, menunggang kuda, atau angkat beban. Kegiatan olahraga dianjurkan dilakukan rutin selama 20–60 menit, 3–5 hari dalam seminggu.

Nah, untuk Kehamilan juga menjadi faktor risiko karena pada wanita hamil sering terjadi konstipasi dan gangguan pembuluh darah/vena hemorrhoid karena peningkatan sirkulasi dan hormon progesterone. Keluhan hemorrhoid akan hilang sendiri setelah melahirkan. Dianjurkan untuk mengkonsumsi buah segar, sayuran, dan cukup air selama kehamilan untuk mengurangi risiko ataupun keluhan.

Untuk itu, penting melakukan Diagnosis. The American Society of Colon and Rectal Surgeons merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan fisik dengan anoskopi, menelusuri riwayat penyakit dan evaluasi lengkap lebih lanjut dengan colonoscopy jika ada kekhawatiran untuk penyakit radang usus atau kanker.

- Advertisement -

Hemorrhoid atau biasa disebut dengan wasir/ambeien merupakan kondisi adanya pelebaran pembuluh darah pada anus akibat perubahan pada jaringan pendukung bantalan anus (anal cushion). Perubahan ini meliputi pelebaran pembuluh darah yang abnormal, trombosis (sumbatan) pembuluh darah, berkurangnya serat kolagen dan jaringan fibroelastik anus akibat proses penuaan, lifestyle, ataupun genetik.

Adapun gejala penyakit ini antara lain perdarahan berwarna merah terang setelah buang air besar (BAB), dan gatal sekitar anus. Selain itu, adanya lendir atau bahkan kotoran/feses tersisa di celana dalam setelah BAB, nyeri sekitar anus, dan benjolan yang keluar dari anus. Pada keadaan tertentu dapat membengkak dan tidak dapat masuk kembali (prolapse).

Beberapa faktor risiko dan lifestyle masa kini yang dapat meningkatkan insidensi hemorrhoid ada beberapa hal. Ada body mass index yang tinggi (obesitas), konstipasi, lifestyle/gaya hidup, dan kehamilan.

Pada body mass index yang tinggi (obesitas), beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penyakit hemorrhoid dengan obesitas. Pada orang dengan obesitas akan terjadi beberapa mekanisme pada tubuhnya yang menjadi faktor risiko terjadinya penyakit ini. Antara lain peningkatan tekanan di dalam perut, pelebaran pembuluh darah balik/vena, dan peradangan kronis. Untuk mencegah terjadinya hemorrhoid atau bahkan meningkatkan upaya pengobatan disarankan untuk evaluasi rutin lingkar pinggang (waist circumference) dan menjaga indeks massa tubuh dalam kisaran normal.

Sementara Konstipasi adalah gangguan pencernaan yang membuat seseorang BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu. Konstipasi, feses yang keras dan mengejan saat BAB meningkatkan prevalensi terjadinya penyakit hemorrhoid, bahkan dapat menyebabkan terjadinya prolapse (benjolan keluar dari anus dan tidak bias masuk kembali) pada seseorang yg sudah menderita. Diet seimbang antara makanan tinggi serat, minum air yang cukup sangat disarankan agar konsistensi feses tidak keras dan menghindari mengejan saat BAB.

Sedangkan lifestyle/gaya hidup yang juga disebut sedentary lifestyle, seseorang dalam hal ini kurang melakukan aktivitas fisik berarti merupakan salah satu faktor risiko penyakit hemorrhoid. Pada pasien hemorrhoid dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang dapat memperbaiki gerakan usus, sirkulasi darah dan memperkuat otot didaerah panggul dan punggung belakang antara lain; jogging, renang, senam yoga. Olahraga yang disarankan untuk dihindari antara lain bersepeda, dayung, menunggang kuda, atau angkat beban. Kegiatan olahraga dianjurkan dilakukan rutin selama 20–60 menit, 3–5 hari dalam seminggu.

Nah, untuk Kehamilan juga menjadi faktor risiko karena pada wanita hamil sering terjadi konstipasi dan gangguan pembuluh darah/vena hemorrhoid karena peningkatan sirkulasi dan hormon progesterone. Keluhan hemorrhoid akan hilang sendiri setelah melahirkan. Dianjurkan untuk mengkonsumsi buah segar, sayuran, dan cukup air selama kehamilan untuk mengurangi risiko ataupun keluhan.

Untuk itu, penting melakukan Diagnosis. The American Society of Colon and Rectal Surgeons merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan fisik dengan anoskopi, menelusuri riwayat penyakit dan evaluasi lengkap lebih lanjut dengan colonoscopy jika ada kekhawatiran untuk penyakit radang usus atau kanker.

Hemorrhoid atau biasa disebut dengan wasir/ambeien merupakan kondisi adanya pelebaran pembuluh darah pada anus akibat perubahan pada jaringan pendukung bantalan anus (anal cushion). Perubahan ini meliputi pelebaran pembuluh darah yang abnormal, trombosis (sumbatan) pembuluh darah, berkurangnya serat kolagen dan jaringan fibroelastik anus akibat proses penuaan, lifestyle, ataupun genetik.

Adapun gejala penyakit ini antara lain perdarahan berwarna merah terang setelah buang air besar (BAB), dan gatal sekitar anus. Selain itu, adanya lendir atau bahkan kotoran/feses tersisa di celana dalam setelah BAB, nyeri sekitar anus, dan benjolan yang keluar dari anus. Pada keadaan tertentu dapat membengkak dan tidak dapat masuk kembali (prolapse).

Beberapa faktor risiko dan lifestyle masa kini yang dapat meningkatkan insidensi hemorrhoid ada beberapa hal. Ada body mass index yang tinggi (obesitas), konstipasi, lifestyle/gaya hidup, dan kehamilan.

Pada body mass index yang tinggi (obesitas), beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara penyakit hemorrhoid dengan obesitas. Pada orang dengan obesitas akan terjadi beberapa mekanisme pada tubuhnya yang menjadi faktor risiko terjadinya penyakit ini. Antara lain peningkatan tekanan di dalam perut, pelebaran pembuluh darah balik/vena, dan peradangan kronis. Untuk mencegah terjadinya hemorrhoid atau bahkan meningkatkan upaya pengobatan disarankan untuk evaluasi rutin lingkar pinggang (waist circumference) dan menjaga indeks massa tubuh dalam kisaran normal.

Sementara Konstipasi adalah gangguan pencernaan yang membuat seseorang BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu. Konstipasi, feses yang keras dan mengejan saat BAB meningkatkan prevalensi terjadinya penyakit hemorrhoid, bahkan dapat menyebabkan terjadinya prolapse (benjolan keluar dari anus dan tidak bias masuk kembali) pada seseorang yg sudah menderita. Diet seimbang antara makanan tinggi serat, minum air yang cukup sangat disarankan agar konsistensi feses tidak keras dan menghindari mengejan saat BAB.

Sedangkan lifestyle/gaya hidup yang juga disebut sedentary lifestyle, seseorang dalam hal ini kurang melakukan aktivitas fisik berarti merupakan salah satu faktor risiko penyakit hemorrhoid. Pada pasien hemorrhoid dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang dapat memperbaiki gerakan usus, sirkulasi darah dan memperkuat otot didaerah panggul dan punggung belakang antara lain; jogging, renang, senam yoga. Olahraga yang disarankan untuk dihindari antara lain bersepeda, dayung, menunggang kuda, atau angkat beban. Kegiatan olahraga dianjurkan dilakukan rutin selama 20–60 menit, 3–5 hari dalam seminggu.

Nah, untuk Kehamilan juga menjadi faktor risiko karena pada wanita hamil sering terjadi konstipasi dan gangguan pembuluh darah/vena hemorrhoid karena peningkatan sirkulasi dan hormon progesterone. Keluhan hemorrhoid akan hilang sendiri setelah melahirkan. Dianjurkan untuk mengkonsumsi buah segar, sayuran, dan cukup air selama kehamilan untuk mengurangi risiko ataupun keluhan.

Untuk itu, penting melakukan Diagnosis. The American Society of Colon and Rectal Surgeons merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan fisik dengan anoskopi, menelusuri riwayat penyakit dan evaluasi lengkap lebih lanjut dengan colonoscopy jika ada kekhawatiran untuk penyakit radang usus atau kanker.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/