alexametrics
26.4 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Oleh-Oleh Jamaah Haji dari Tanah Suci

Mobile_AP_Rectangle 1

Biasanya minggu-minggu ini, bagi masyarakat terutama kerabat dan keluarga, adalah saat-saat menunggu menyambut kedatangan jamaah haji dari Tanah Suci. Acara penyambutan dilakukan mulai dari yang sederhana sampai yang sangat meriah, seperti konvoi berupa rombongan mobil dan motor dengan berbagai aksesorisnya. Sudah dua tahun ini kemeriahan itu lenyap begitu saja, karena untuk kedua kalinya jamaah haji Indonesia tidak dapat berangkat ke Tanah Suci Makkah. Apa pun penyebabnya, yang terang benderang adalah saudara-saudara kita yang telah menabung sekian lama dan rencana akan berangkat tahun ini, tertunda lagi. Semoga peristiwa ini dapat menjadikan pelajaran bagi kita bahwa manusia hanya punya usaha, Allah Yang Mahakuasa”.

Dengan tidak berangkatnya calon jamaah haji tahun 2020 dan 2021, berarti kita sudah dua kali tidak mendapatkan oleh-oleh dari Tanah Suci. Entah bagaimana sejarahnya, di beberapa daerah di Indonesia, bagi orang yang baru kembali dari perjalanan haji, ada kebiasaan memberikan suvenir untuk para tamu yang datang berkunjung walau sebenarnya kunjungan mereka bukanlah untuk suvenir. Tujuan utama mereka adalah menghormati serta meminta doa kepada para haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Selebihnya, para tamu berharap mendapatkan cerita perjalanan mereka terutama yang terkait dengan pengalaman rohani para haji.

Oleh-oleh yang diberikan jamaah haji sangat beragam mulai dari yang sangat bagus untuk orang-orang khusus sampai yang biasa-biasa saja. Dari yang dibawa dari Makkah/Madinah sampai yang dibeli di dekat rumah. Semua itu dilakukan untuk menghormati para tamu yang sering sekali di luar dugaan, baik jumlah maupun asalnya. Dengan demikian, jumlah suvenir yang harus dipersiapkan pun agak sulit diprediksi. Bahkan, tidak jarang ada tamu yang tidak dikenal oleh tuan rumah. Untuk tamu yang tidak dikenal ini, biasanya datangnya bersama rombongan dari komunitas tertentu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama bahwa oleh-oleh seperti apa pun bentuknya, bukanlah sesuatu yang istimewa dalam perjalanan haji. Mereka hanyalah buah tangan yang merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh mereka yang baru pulang dari perjalanan haji. Ada hal penting yang harus dibawa sebagai oleh-oleh bukan hanya untuk orang yang datang berkunjung, tetapi untuk semua makhluk Tuhan, yaitu haji mabrur. Oleh-oleh berupa haji mabrur ini menjadi idaman setiap orang yang secara normatif mengaku beragama Islam, serta harapan siapa saja yang berada di sekitar mereka yang telah berhaji.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah telah menjanjikan balasan bagi haji mabrur yakni surga (H.R Bukhari). Untuk menjadi haji mabrur para jamaah haji harus memenuhi semua syarat rukun, serta wajib haji yang sudah diatur dalam manasik haji. Tetapi tidak berhenti di situ karena setiap haji mabrur harus dapat mengemban pesan moral ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan moral ini sangat penting dalam setiap ibadah. Bahkan karena pentingnya pesan moral ini, Rasulullah SAW menilai bahwa kualitas sebuah ritual ibadah sangat tergantung kepada bagaimana kita mampu menjalankan pesan moralnya, yaitu akhlaqul-karimah. Ibadah apa pun yang dilakukan kalau tidak dibarengi dengan menebarkan akhlak karimah di tengah-tengah masyarakat, maka ibadahnya tidak sempurna atau bahkan tertolak. Prinsip moral inilah yang sangat ditekankan sebagai buah ibadah ritual yang dilakukan. Rasulullah SAW diutus bukanlah sekadar untuk mengajarkan zikir dan doa, tetapi dengan tegas dikatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, oleh-oleh jamaah haji dari Tanah Suci adalah perubahan akhlak menjadi lebih baik, dalam dimensi ritual maupun sosial.

- Advertisement -

Biasanya minggu-minggu ini, bagi masyarakat terutama kerabat dan keluarga, adalah saat-saat menunggu menyambut kedatangan jamaah haji dari Tanah Suci. Acara penyambutan dilakukan mulai dari yang sederhana sampai yang sangat meriah, seperti konvoi berupa rombongan mobil dan motor dengan berbagai aksesorisnya. Sudah dua tahun ini kemeriahan itu lenyap begitu saja, karena untuk kedua kalinya jamaah haji Indonesia tidak dapat berangkat ke Tanah Suci Makkah. Apa pun penyebabnya, yang terang benderang adalah saudara-saudara kita yang telah menabung sekian lama dan rencana akan berangkat tahun ini, tertunda lagi. Semoga peristiwa ini dapat menjadikan pelajaran bagi kita bahwa manusia hanya punya usaha, Allah Yang Mahakuasa”.

Dengan tidak berangkatnya calon jamaah haji tahun 2020 dan 2021, berarti kita sudah dua kali tidak mendapatkan oleh-oleh dari Tanah Suci. Entah bagaimana sejarahnya, di beberapa daerah di Indonesia, bagi orang yang baru kembali dari perjalanan haji, ada kebiasaan memberikan suvenir untuk para tamu yang datang berkunjung walau sebenarnya kunjungan mereka bukanlah untuk suvenir. Tujuan utama mereka adalah menghormati serta meminta doa kepada para haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Selebihnya, para tamu berharap mendapatkan cerita perjalanan mereka terutama yang terkait dengan pengalaman rohani para haji.

Oleh-oleh yang diberikan jamaah haji sangat beragam mulai dari yang sangat bagus untuk orang-orang khusus sampai yang biasa-biasa saja. Dari yang dibawa dari Makkah/Madinah sampai yang dibeli di dekat rumah. Semua itu dilakukan untuk menghormati para tamu yang sering sekali di luar dugaan, baik jumlah maupun asalnya. Dengan demikian, jumlah suvenir yang harus dipersiapkan pun agak sulit diprediksi. Bahkan, tidak jarang ada tamu yang tidak dikenal oleh tuan rumah. Untuk tamu yang tidak dikenal ini, biasanya datangnya bersama rombongan dari komunitas tertentu.

Ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama bahwa oleh-oleh seperti apa pun bentuknya, bukanlah sesuatu yang istimewa dalam perjalanan haji. Mereka hanyalah buah tangan yang merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh mereka yang baru pulang dari perjalanan haji. Ada hal penting yang harus dibawa sebagai oleh-oleh bukan hanya untuk orang yang datang berkunjung, tetapi untuk semua makhluk Tuhan, yaitu haji mabrur. Oleh-oleh berupa haji mabrur ini menjadi idaman setiap orang yang secara normatif mengaku beragama Islam, serta harapan siapa saja yang berada di sekitar mereka yang telah berhaji.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah telah menjanjikan balasan bagi haji mabrur yakni surga (H.R Bukhari). Untuk menjadi haji mabrur para jamaah haji harus memenuhi semua syarat rukun, serta wajib haji yang sudah diatur dalam manasik haji. Tetapi tidak berhenti di situ karena setiap haji mabrur harus dapat mengemban pesan moral ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan moral ini sangat penting dalam setiap ibadah. Bahkan karena pentingnya pesan moral ini, Rasulullah SAW menilai bahwa kualitas sebuah ritual ibadah sangat tergantung kepada bagaimana kita mampu menjalankan pesan moralnya, yaitu akhlaqul-karimah. Ibadah apa pun yang dilakukan kalau tidak dibarengi dengan menebarkan akhlak karimah di tengah-tengah masyarakat, maka ibadahnya tidak sempurna atau bahkan tertolak. Prinsip moral inilah yang sangat ditekankan sebagai buah ibadah ritual yang dilakukan. Rasulullah SAW diutus bukanlah sekadar untuk mengajarkan zikir dan doa, tetapi dengan tegas dikatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, oleh-oleh jamaah haji dari Tanah Suci adalah perubahan akhlak menjadi lebih baik, dalam dimensi ritual maupun sosial.

Biasanya minggu-minggu ini, bagi masyarakat terutama kerabat dan keluarga, adalah saat-saat menunggu menyambut kedatangan jamaah haji dari Tanah Suci. Acara penyambutan dilakukan mulai dari yang sederhana sampai yang sangat meriah, seperti konvoi berupa rombongan mobil dan motor dengan berbagai aksesorisnya. Sudah dua tahun ini kemeriahan itu lenyap begitu saja, karena untuk kedua kalinya jamaah haji Indonesia tidak dapat berangkat ke Tanah Suci Makkah. Apa pun penyebabnya, yang terang benderang adalah saudara-saudara kita yang telah menabung sekian lama dan rencana akan berangkat tahun ini, tertunda lagi. Semoga peristiwa ini dapat menjadikan pelajaran bagi kita bahwa manusia hanya punya usaha, Allah Yang Mahakuasa”.

Dengan tidak berangkatnya calon jamaah haji tahun 2020 dan 2021, berarti kita sudah dua kali tidak mendapatkan oleh-oleh dari Tanah Suci. Entah bagaimana sejarahnya, di beberapa daerah di Indonesia, bagi orang yang baru kembali dari perjalanan haji, ada kebiasaan memberikan suvenir untuk para tamu yang datang berkunjung walau sebenarnya kunjungan mereka bukanlah untuk suvenir. Tujuan utama mereka adalah menghormati serta meminta doa kepada para haji yang baru pulang dari Tanah Suci. Selebihnya, para tamu berharap mendapatkan cerita perjalanan mereka terutama yang terkait dengan pengalaman rohani para haji.

Oleh-oleh yang diberikan jamaah haji sangat beragam mulai dari yang sangat bagus untuk orang-orang khusus sampai yang biasa-biasa saja. Dari yang dibawa dari Makkah/Madinah sampai yang dibeli di dekat rumah. Semua itu dilakukan untuk menghormati para tamu yang sering sekali di luar dugaan, baik jumlah maupun asalnya. Dengan demikian, jumlah suvenir yang harus dipersiapkan pun agak sulit diprediksi. Bahkan, tidak jarang ada tamu yang tidak dikenal oleh tuan rumah. Untuk tamu yang tidak dikenal ini, biasanya datangnya bersama rombongan dari komunitas tertentu.

Ada sesuatu yang perlu direnungkan bersama bahwa oleh-oleh seperti apa pun bentuknya, bukanlah sesuatu yang istimewa dalam perjalanan haji. Mereka hanyalah buah tangan yang merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh mereka yang baru pulang dari perjalanan haji. Ada hal penting yang harus dibawa sebagai oleh-oleh bukan hanya untuk orang yang datang berkunjung, tetapi untuk semua makhluk Tuhan, yaitu haji mabrur. Oleh-oleh berupa haji mabrur ini menjadi idaman setiap orang yang secara normatif mengaku beragama Islam, serta harapan siapa saja yang berada di sekitar mereka yang telah berhaji.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah telah menjanjikan balasan bagi haji mabrur yakni surga (H.R Bukhari). Untuk menjadi haji mabrur para jamaah haji harus memenuhi semua syarat rukun, serta wajib haji yang sudah diatur dalam manasik haji. Tetapi tidak berhenti di situ karena setiap haji mabrur harus dapat mengemban pesan moral ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan moral ini sangat penting dalam setiap ibadah. Bahkan karena pentingnya pesan moral ini, Rasulullah SAW menilai bahwa kualitas sebuah ritual ibadah sangat tergantung kepada bagaimana kita mampu menjalankan pesan moralnya, yaitu akhlaqul-karimah. Ibadah apa pun yang dilakukan kalau tidak dibarengi dengan menebarkan akhlak karimah di tengah-tengah masyarakat, maka ibadahnya tidak sempurna atau bahkan tertolak. Prinsip moral inilah yang sangat ditekankan sebagai buah ibadah ritual yang dilakukan. Rasulullah SAW diutus bukanlah sekadar untuk mengajarkan zikir dan doa, tetapi dengan tegas dikatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, oleh-oleh jamaah haji dari Tanah Suci adalah perubahan akhlak menjadi lebih baik, dalam dimensi ritual maupun sosial.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/