alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Menyoal Rendahnya Capaian Pembangunan Manusia di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

Pembangunan manusia terdefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging people choice) yang merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam upaya membangun kualitas hidup penduduknya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diperkenalkan United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 ini, menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga penghasil data pemerintah, juga menggunakan IPM sebagai alat ukur profil kualitas hidup manusia di Indonesia.

Angka IPM tahun 2018 yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur memperlihatkan capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih stagnan di peringkat 31 dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Walaupun angka IPM Jember pada tahun 2018 ini mengalami peningkatan secara substansial sebesar 1,00 poin dari tahun sebelumnya (64,96), namun Kabupaten Jember masih berada di ranking bawah dan terpaut jauh dari Kabupaten sebelah, Banyuwangi, yang bertengger di urutan ke-20 pada capaian IPM tahun 2018 ini.

Selain status pencapaian diatas, untuk melihat kemajuan pembangunan manusia di Jember, terdapat satu aspek lagi yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan. Pembangunan manusia di Jember sebenarnya terus mengalami kemajuan selama periode 2014 – 2018. Dari 62,64 (2014) meningkat menjadi 65,96 (2018) atau selama periode tersebut tumbuh 5,30 persen, dengan rata-rata pertumbuhan selama kurun waktu 2014-2018 sebesar 1,30 persen per tahun. IPM sendiri dibentuk oleh tiga aspek esensial dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standard hidup layak (decent standard of living).

Mobile_AP_Rectangle 2

Mahatma Gandhi, seorang spiritual dan tokoh berpengaruh dari India, pernah mengatakan bahwa harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.  Benar, kesehatan yang terefleksikan dengan umur panjang dan hidup sehat memang menjadi hal terpenting bagi setiap orang. Di Jember, umur harapan hidup setiap bayi yang baru lahir pada tahun 2018 memiliki peluang hidup 68 tahun 9 bulan atau lebih lama 0,2 tahun dari mereka yang lahir pada 2017.

Umur Harapan Hidup (UHH) Jember ini lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian UHH Jawa Timur yang pada tahun 2018 sudah mencapai 70,97 tahun. Di wilayah tapal kuda sendiri, angka UHH Jember ini juga masih terpaut jauh dengan Kabupaten Banyuwangi dan berada satu tingkat dibawah Kabupaten Lumajang yang memiliki kualitas umur panjang dan hidup sehat lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian pembangunan di bidang kesehatan di Jember masih belum optimal.

Aspek pengetahuan dikuantifikasi oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Anak-anak berumur tujuh tahun di Jember pada 2018 dapat berharap untuk menikmati sekolah selama 13,21 tahun ke depan atau 0,42 tahun lebih lama dari mereka yang memiliki usia yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, Pemerintah Kabupaten Jember dapat sedikit berbangga. Berdasarkan data yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur, angka Harapan Lama Sekolah di Jember ini melampaui angka HLS Provinsi Jawa Timur dan kabupaten-kabupaten disekitarnya.

Sementara itu, orang yang berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Jember, rata-rata telah menyelesaikan pendidikan selama 6,07 tahun pada 2018 atau 0,01 tahun lebih lama daripada mereka pada usia yang sama pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum rata-rata penduduk Jember usia 25 tahun ke atas sebagian besar hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas VI Sekolah Dasar. Berbeda dengan angka HLS Jember yang mampu melesat, data RLS Jember hanya mampu bertengger di posisi keempat di wilayah tapal kuda setelah Banyuwangi, Lumajang dan Situbondo.

Aspek terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita. Progress capaian pembangunan manusia pada aspek terakhir ini dijelaskan oleh peningkatan signifikan dalam pengeluaran per kapita dari Rp 8,69 juta per tahun pada 2017 menjadi Rp 9,09 juta per tahun pada 2018.

Peningkatan pengeluaran per kapita ini menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi masyarakat Jember semakin meningkat, kondisi ini sejalan dengan makro ekonomi yang ditunjukkan dari angka Produk Domestik Regional Bruto yang juga mengalami kenaikan selama beberapa tahun terakhir. Begitu pula dengan perkembangan Indeks Harga Konsumen, selama tahun 2018, harga-harga barang dan jasa khususnya kebutuhan pokok inflasinya cukup terjaga. Dengan keadaan tersebut, memberikan dampak menguatnya daya beli masyarakat Jember.

Meskipun pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir telah menurunkan tingkat kemiskinan Jember menjadi satu digit, yakni sekitar 9 persen dari total populasi, yang merupakan level kemiskinan terendah dalam sejarah, namun setiap penduduk Jember tidak mendapatkan manfaat yang sama dari hasil pertumbuhan ekonomi tersebut. Dalam data terakhir yang dilaporkan BPS, bahwa rasio Gini pengeluaran Jember yang dihitung berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) masih mencapai 0,34. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian kecil penduduk masih mendominasi bagian terbesar dari total agregat pendapatan.

Beberapa aspek esensial yang menjadi dasar ukuran capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember yang masih rendah dan berada dibawah angka Provinsi Jawa Timur, bahkan kabupaten-kabupaten disebelahnya, harus menjadi catatan para pengambil kebijakan untuk meningkatkan menjadi lebih baik lagi. Ketertinggalan dalam Aspek Kesehatan, Rata-rata Lama Sekolah dan Standar Hidup Layak, seyogyanya harus menjadi bagian yang perlu difokuskan oleh stakeholders jika menginginkan angka IPM berada diatas rata-rata angka IPM Jawa Timur. Peran tokoh masyarakat dan penduduk Jember sendiri dalam ikut serta mendukung program pemerintah daerah juga merupakan hal yang tidak kalah penting.

Intinya, walaupun capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih terbilang rendah, yang terpenting kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dan layanan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan manusia.

*) Penulis adalah peneliti / Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

- Advertisement -

Pembangunan manusia terdefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging people choice) yang merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam upaya membangun kualitas hidup penduduknya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diperkenalkan United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 ini, menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga penghasil data pemerintah, juga menggunakan IPM sebagai alat ukur profil kualitas hidup manusia di Indonesia.

Angka IPM tahun 2018 yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur memperlihatkan capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih stagnan di peringkat 31 dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Walaupun angka IPM Jember pada tahun 2018 ini mengalami peningkatan secara substansial sebesar 1,00 poin dari tahun sebelumnya (64,96), namun Kabupaten Jember masih berada di ranking bawah dan terpaut jauh dari Kabupaten sebelah, Banyuwangi, yang bertengger di urutan ke-20 pada capaian IPM tahun 2018 ini.

Selain status pencapaian diatas, untuk melihat kemajuan pembangunan manusia di Jember, terdapat satu aspek lagi yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan. Pembangunan manusia di Jember sebenarnya terus mengalami kemajuan selama periode 2014 – 2018. Dari 62,64 (2014) meningkat menjadi 65,96 (2018) atau selama periode tersebut tumbuh 5,30 persen, dengan rata-rata pertumbuhan selama kurun waktu 2014-2018 sebesar 1,30 persen per tahun. IPM sendiri dibentuk oleh tiga aspek esensial dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standard hidup layak (decent standard of living).

Mahatma Gandhi, seorang spiritual dan tokoh berpengaruh dari India, pernah mengatakan bahwa harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.  Benar, kesehatan yang terefleksikan dengan umur panjang dan hidup sehat memang menjadi hal terpenting bagi setiap orang. Di Jember, umur harapan hidup setiap bayi yang baru lahir pada tahun 2018 memiliki peluang hidup 68 tahun 9 bulan atau lebih lama 0,2 tahun dari mereka yang lahir pada 2017.

Umur Harapan Hidup (UHH) Jember ini lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian UHH Jawa Timur yang pada tahun 2018 sudah mencapai 70,97 tahun. Di wilayah tapal kuda sendiri, angka UHH Jember ini juga masih terpaut jauh dengan Kabupaten Banyuwangi dan berada satu tingkat dibawah Kabupaten Lumajang yang memiliki kualitas umur panjang dan hidup sehat lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian pembangunan di bidang kesehatan di Jember masih belum optimal.

Aspek pengetahuan dikuantifikasi oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Anak-anak berumur tujuh tahun di Jember pada 2018 dapat berharap untuk menikmati sekolah selama 13,21 tahun ke depan atau 0,42 tahun lebih lama dari mereka yang memiliki usia yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, Pemerintah Kabupaten Jember dapat sedikit berbangga. Berdasarkan data yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur, angka Harapan Lama Sekolah di Jember ini melampaui angka HLS Provinsi Jawa Timur dan kabupaten-kabupaten disekitarnya.

Sementara itu, orang yang berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Jember, rata-rata telah menyelesaikan pendidikan selama 6,07 tahun pada 2018 atau 0,01 tahun lebih lama daripada mereka pada usia yang sama pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum rata-rata penduduk Jember usia 25 tahun ke atas sebagian besar hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas VI Sekolah Dasar. Berbeda dengan angka HLS Jember yang mampu melesat, data RLS Jember hanya mampu bertengger di posisi keempat di wilayah tapal kuda setelah Banyuwangi, Lumajang dan Situbondo.

Aspek terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita. Progress capaian pembangunan manusia pada aspek terakhir ini dijelaskan oleh peningkatan signifikan dalam pengeluaran per kapita dari Rp 8,69 juta per tahun pada 2017 menjadi Rp 9,09 juta per tahun pada 2018.

Peningkatan pengeluaran per kapita ini menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi masyarakat Jember semakin meningkat, kondisi ini sejalan dengan makro ekonomi yang ditunjukkan dari angka Produk Domestik Regional Bruto yang juga mengalami kenaikan selama beberapa tahun terakhir. Begitu pula dengan perkembangan Indeks Harga Konsumen, selama tahun 2018, harga-harga barang dan jasa khususnya kebutuhan pokok inflasinya cukup terjaga. Dengan keadaan tersebut, memberikan dampak menguatnya daya beli masyarakat Jember.

Meskipun pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir telah menurunkan tingkat kemiskinan Jember menjadi satu digit, yakni sekitar 9 persen dari total populasi, yang merupakan level kemiskinan terendah dalam sejarah, namun setiap penduduk Jember tidak mendapatkan manfaat yang sama dari hasil pertumbuhan ekonomi tersebut. Dalam data terakhir yang dilaporkan BPS, bahwa rasio Gini pengeluaran Jember yang dihitung berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) masih mencapai 0,34. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian kecil penduduk masih mendominasi bagian terbesar dari total agregat pendapatan.

Beberapa aspek esensial yang menjadi dasar ukuran capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember yang masih rendah dan berada dibawah angka Provinsi Jawa Timur, bahkan kabupaten-kabupaten disebelahnya, harus menjadi catatan para pengambil kebijakan untuk meningkatkan menjadi lebih baik lagi. Ketertinggalan dalam Aspek Kesehatan, Rata-rata Lama Sekolah dan Standar Hidup Layak, seyogyanya harus menjadi bagian yang perlu difokuskan oleh stakeholders jika menginginkan angka IPM berada diatas rata-rata angka IPM Jawa Timur. Peran tokoh masyarakat dan penduduk Jember sendiri dalam ikut serta mendukung program pemerintah daerah juga merupakan hal yang tidak kalah penting.

Intinya, walaupun capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih terbilang rendah, yang terpenting kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dan layanan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan manusia.

*) Penulis adalah peneliti / Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

Pembangunan manusia terdefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (enlarging people choice) yang merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan pemerintah dalam upaya membangun kualitas hidup penduduknya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diperkenalkan United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 ini, menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga penghasil data pemerintah, juga menggunakan IPM sebagai alat ukur profil kualitas hidup manusia di Indonesia.

Angka IPM tahun 2018 yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur memperlihatkan capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih stagnan di peringkat 31 dari 38 Kabupaten/Kota se-Jawa Timur. Walaupun angka IPM Jember pada tahun 2018 ini mengalami peningkatan secara substansial sebesar 1,00 poin dari tahun sebelumnya (64,96), namun Kabupaten Jember masih berada di ranking bawah dan terpaut jauh dari Kabupaten sebelah, Banyuwangi, yang bertengger di urutan ke-20 pada capaian IPM tahun 2018 ini.

Selain status pencapaian diatas, untuk melihat kemajuan pembangunan manusia di Jember, terdapat satu aspek lagi yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan. Pembangunan manusia di Jember sebenarnya terus mengalami kemajuan selama periode 2014 – 2018. Dari 62,64 (2014) meningkat menjadi 65,96 (2018) atau selama periode tersebut tumbuh 5,30 persen, dengan rata-rata pertumbuhan selama kurun waktu 2014-2018 sebesar 1,30 persen per tahun. IPM sendiri dibentuk oleh tiga aspek esensial dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standard hidup layak (decent standard of living).

Mahatma Gandhi, seorang spiritual dan tokoh berpengaruh dari India, pernah mengatakan bahwa harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.  Benar, kesehatan yang terefleksikan dengan umur panjang dan hidup sehat memang menjadi hal terpenting bagi setiap orang. Di Jember, umur harapan hidup setiap bayi yang baru lahir pada tahun 2018 memiliki peluang hidup 68 tahun 9 bulan atau lebih lama 0,2 tahun dari mereka yang lahir pada 2017.

Umur Harapan Hidup (UHH) Jember ini lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian UHH Jawa Timur yang pada tahun 2018 sudah mencapai 70,97 tahun. Di wilayah tapal kuda sendiri, angka UHH Jember ini juga masih terpaut jauh dengan Kabupaten Banyuwangi dan berada satu tingkat dibawah Kabupaten Lumajang yang memiliki kualitas umur panjang dan hidup sehat lebih baik. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian pembangunan di bidang kesehatan di Jember masih belum optimal.

Aspek pengetahuan dikuantifikasi oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Anak-anak berumur tujuh tahun di Jember pada 2018 dapat berharap untuk menikmati sekolah selama 13,21 tahun ke depan atau 0,42 tahun lebih lama dari mereka yang memiliki usia yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan capaian ini, Pemerintah Kabupaten Jember dapat sedikit berbangga. Berdasarkan data yang dirilis BPS Provinsi Jawa Timur, angka Harapan Lama Sekolah di Jember ini melampaui angka HLS Provinsi Jawa Timur dan kabupaten-kabupaten disekitarnya.

Sementara itu, orang yang berusia 25 tahun ke atas di Kabupaten Jember, rata-rata telah menyelesaikan pendidikan selama 6,07 tahun pada 2018 atau 0,01 tahun lebih lama daripada mereka pada usia yang sama pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum rata-rata penduduk Jember usia 25 tahun ke atas sebagian besar hanya mampu mengenyam pendidikan hingga kelas VI Sekolah Dasar. Berbeda dengan angka HLS Jember yang mampu melesat, data RLS Jember hanya mampu bertengger di posisi keempat di wilayah tapal kuda setelah Banyuwangi, Lumajang dan Situbondo.

Aspek terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran per kapita. Progress capaian pembangunan manusia pada aspek terakhir ini dijelaskan oleh peningkatan signifikan dalam pengeluaran per kapita dari Rp 8,69 juta per tahun pada 2017 menjadi Rp 9,09 juta per tahun pada 2018.

Peningkatan pengeluaran per kapita ini menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi masyarakat Jember semakin meningkat, kondisi ini sejalan dengan makro ekonomi yang ditunjukkan dari angka Produk Domestik Regional Bruto yang juga mengalami kenaikan selama beberapa tahun terakhir. Begitu pula dengan perkembangan Indeks Harga Konsumen, selama tahun 2018, harga-harga barang dan jasa khususnya kebutuhan pokok inflasinya cukup terjaga. Dengan keadaan tersebut, memberikan dampak menguatnya daya beli masyarakat Jember.

Meskipun pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir telah menurunkan tingkat kemiskinan Jember menjadi satu digit, yakni sekitar 9 persen dari total populasi, yang merupakan level kemiskinan terendah dalam sejarah, namun setiap penduduk Jember tidak mendapatkan manfaat yang sama dari hasil pertumbuhan ekonomi tersebut. Dalam data terakhir yang dilaporkan BPS, bahwa rasio Gini pengeluaran Jember yang dihitung berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) masih mencapai 0,34. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian kecil penduduk masih mendominasi bagian terbesar dari total agregat pendapatan.

Beberapa aspek esensial yang menjadi dasar ukuran capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember yang masih rendah dan berada dibawah angka Provinsi Jawa Timur, bahkan kabupaten-kabupaten disebelahnya, harus menjadi catatan para pengambil kebijakan untuk meningkatkan menjadi lebih baik lagi. Ketertinggalan dalam Aspek Kesehatan, Rata-rata Lama Sekolah dan Standar Hidup Layak, seyogyanya harus menjadi bagian yang perlu difokuskan oleh stakeholders jika menginginkan angka IPM berada diatas rata-rata angka IPM Jawa Timur. Peran tokoh masyarakat dan penduduk Jember sendiri dalam ikut serta mendukung program pemerintah daerah juga merupakan hal yang tidak kalah penting.

Intinya, walaupun capaian pembangunan manusia di Kabupaten Jember masih terbilang rendah, yang terpenting kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dan layanan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam pembangunan manusia.

*) Penulis adalah peneliti / Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/