alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Diversifikasi Produk, Halau Stigma Negatif Tembakau

Mobile_AP_Rectangle 1

Pada 31 Mei setiap tahunnya, seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Ide ini dicetuskan oleh WHO sejak tahun 1967. Artinya, selama tiga setengah dasawarsa, persepsi masyarakat telah digiring agar anti terhadap tembakau dengan produk rokoknya yang disinyalir menjadi musuh bebuyutan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kecuali itu, WHO juga “menelurkan” Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), yakni perjanjian internasional yang berisi aturan global untuk mengendalikan tembakau.

Benarkah tembakau hanya bisa dijadikan rokok? Atau paradigma berpikir kita yang cenderung skeptis dalam menyikapi kehadiran tembakau di bumi ini? Di era kekinian, mulai banyak penelitian yang merambah sektor hilir tembakau, yang mengungkap bahwa tembakau tidak identik dengan rokok saja. Mari kita kupas dari proses budi daya hingga penanganan pascapanen tembakau guna menyibak tabir yang selama ini belum banyak diketahui dan dipahami oleh publik sehingga tembakau karib dicap sebagai komoditas perkebunan yang kontroversial.

Dalam aktivitas budi daya, bagian tembakau yang diambil untuk diproses adalah daun produktif, yakni daun yang memiliki spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh pasar. Selebihnya, organ tembakau yang lain seperti bunga, biji, daun pucuk, batang, dan akar hanya menjadi limbah di lahan (on farm). Penanganannya jika tidak dibakar, maka ditimbun dalam tanah. Kedua proses tersebut sama-sama berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi limbah dari daun reject pada proses sortasi dan grading di gudang (off farm).

Mobile_AP_Rectangle 2

Batang tembakau memiliki porsi terbanyak (73,66 persen) dari total limbah. Selanjutnya, daun pucuk dengan porsi 16,1 persen. Sisanya sebesar 10,24 persen terbagi atas bunga, biji, dan akar. Ternyata limbah tembakau tersebut masih bisa diolah menjadi beragam produk baru yang memiliki add value dan prospektif untuk dikembangkan. Produk-produk tersebut ada yang diolah menggunakan teknologi yang modern dan canggih. Namun, tak sedikit pula yang bisa dihasilkan dari teknologi tepat guna yang sederhana. Merujuk dari Pohon Industri yang dimiliki PTPN X tahun 2022, diketahui bahwa dari daun pucuk tembakau bisa diciptakan 21 produk, antara lain antidiabetik artifisial, pasta gigi, biohepatoprotector, tobacco absolute, homogenized tobacco leaf (HTL), dan nikotin cair. Sedangkan dari batang tembakau bisa dirilis 20 produk, di antaranya biochar, tobaccoxylitol, hydrogel, papan partikel, biobriket, dan asap cair. Sementara bunga, biji, dan akar menyumbangkan 13 produk, contohnya tripleks, penyedap rasa alami, pakan ternak, dan parfum. Ragam diversifikasi produk ini murni menggunakan limbah tembakau sehingga tidak mengganggu rantai pasok daun produktif.

Ditilik dari aspek kemanfaatan, diversifikasi produk tembakau saat ini dapat diklasifikasikan ke dalam delapan ranah. Pertama, kesehatan (bioearmuff, nanofiber, larvasida Aedes aegypty, obat kumur, lotion antilintah, hand sanitizer, biohepatoprotector, tablet effervescent, pasta gigi, dan nikotin cair); Kedua, bioenergi (biobriket, biopellet, bioethanol). Ranah ketiga adalah kecantikan dengan produk berupa pasta gigi, tobaccolagen, sabun alami, aromaterapi, parfum, tobacco absolute. Keempat adalah ranah pertanian dengan delapan produk, meliputi biochar, biomulsa, kompos, hydrogel, asap cair, biopestisida, polybag serta biofungisida. Ranah kelima yang disasar diversifikasi produk tembakau adalah ranah pangan dengan merilis biooil, tobacco xylitol, soft candy, penyedap rasa alami, dan pakan ternak. Papan partikel dan tripleks merupakan produk yang masuk ranah furniture; tobacco concrete, dan batako dapat bermanfaat bagi ranah konstruksi serta kertas aromatic dan HTL merupakan persembahan untuk ranah life style .

Dari sekian banyak produk diversifikasi tembakau, mayoritas harganya kompetitif, antara lain soft candy, biochar, asap cair, biobriket, dan biopellet. Namun, ada pula produk yang harganya fantastis, yakni tobacco absolute (TA). Jika tiga tahun sebelumnya harga per mililiter di pasar dunia adalah Rp 50.000, kini harganya sudah menembus $5.25/ml atau sekira Rp 76.000/ml (asumsi $ 1 = Rp 14.500). Berapa profit yang bisa diraup jika stakeholder tembakau mampu mengoptimalkan potensi tembakau yang tersebar di seluruh Nusantara untuk berkecimpung ke lini diversifikasi produk? Luar biasa bukan? Tentu ini menjadi salah satu trigger untuk tetap mempertahankan eksistensi komoditas tembakau di Indonesia.

Diversifikasi produk tembakau memiliki kesempatan untuk berkembang (opportunity for development) jika ada sinergisitas dan kolaborasi yang harmonis antar stakeholder-nya, yakni petani sebagai pemasok bahan baku, pelaku usaha sebagai produsen yang harus mampu menjaga konsistensi kualitas dan kontinuitas produk diversifikasi, peneliti dan akademisi sebagai inventor serta innovator produk dan manajerial, masyarakat sebagai loyal customer, dan pemerintah sebagai penghasil kebijakan yang pro tembakau sekaligus fasilitator akses pasar domestik maupun global.

- Advertisement -

Pada 31 Mei setiap tahunnya, seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Ide ini dicetuskan oleh WHO sejak tahun 1967. Artinya, selama tiga setengah dasawarsa, persepsi masyarakat telah digiring agar anti terhadap tembakau dengan produk rokoknya yang disinyalir menjadi musuh bebuyutan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kecuali itu, WHO juga “menelurkan” Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), yakni perjanjian internasional yang berisi aturan global untuk mengendalikan tembakau.

Benarkah tembakau hanya bisa dijadikan rokok? Atau paradigma berpikir kita yang cenderung skeptis dalam menyikapi kehadiran tembakau di bumi ini? Di era kekinian, mulai banyak penelitian yang merambah sektor hilir tembakau, yang mengungkap bahwa tembakau tidak identik dengan rokok saja. Mari kita kupas dari proses budi daya hingga penanganan pascapanen tembakau guna menyibak tabir yang selama ini belum banyak diketahui dan dipahami oleh publik sehingga tembakau karib dicap sebagai komoditas perkebunan yang kontroversial.

Dalam aktivitas budi daya, bagian tembakau yang diambil untuk diproses adalah daun produktif, yakni daun yang memiliki spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh pasar. Selebihnya, organ tembakau yang lain seperti bunga, biji, daun pucuk, batang, dan akar hanya menjadi limbah di lahan (on farm). Penanganannya jika tidak dibakar, maka ditimbun dalam tanah. Kedua proses tersebut sama-sama berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi limbah dari daun reject pada proses sortasi dan grading di gudang (off farm).

Batang tembakau memiliki porsi terbanyak (73,66 persen) dari total limbah. Selanjutnya, daun pucuk dengan porsi 16,1 persen. Sisanya sebesar 10,24 persen terbagi atas bunga, biji, dan akar. Ternyata limbah tembakau tersebut masih bisa diolah menjadi beragam produk baru yang memiliki add value dan prospektif untuk dikembangkan. Produk-produk tersebut ada yang diolah menggunakan teknologi yang modern dan canggih. Namun, tak sedikit pula yang bisa dihasilkan dari teknologi tepat guna yang sederhana. Merujuk dari Pohon Industri yang dimiliki PTPN X tahun 2022, diketahui bahwa dari daun pucuk tembakau bisa diciptakan 21 produk, antara lain antidiabetik artifisial, pasta gigi, biohepatoprotector, tobacco absolute, homogenized tobacco leaf (HTL), dan nikotin cair. Sedangkan dari batang tembakau bisa dirilis 20 produk, di antaranya biochar, tobaccoxylitol, hydrogel, papan partikel, biobriket, dan asap cair. Sementara bunga, biji, dan akar menyumbangkan 13 produk, contohnya tripleks, penyedap rasa alami, pakan ternak, dan parfum. Ragam diversifikasi produk ini murni menggunakan limbah tembakau sehingga tidak mengganggu rantai pasok daun produktif.

Ditilik dari aspek kemanfaatan, diversifikasi produk tembakau saat ini dapat diklasifikasikan ke dalam delapan ranah. Pertama, kesehatan (bioearmuff, nanofiber, larvasida Aedes aegypty, obat kumur, lotion antilintah, hand sanitizer, biohepatoprotector, tablet effervescent, pasta gigi, dan nikotin cair); Kedua, bioenergi (biobriket, biopellet, bioethanol). Ranah ketiga adalah kecantikan dengan produk berupa pasta gigi, tobaccolagen, sabun alami, aromaterapi, parfum, tobacco absolute. Keempat adalah ranah pertanian dengan delapan produk, meliputi biochar, biomulsa, kompos, hydrogel, asap cair, biopestisida, polybag serta biofungisida. Ranah kelima yang disasar diversifikasi produk tembakau adalah ranah pangan dengan merilis biooil, tobacco xylitol, soft candy, penyedap rasa alami, dan pakan ternak. Papan partikel dan tripleks merupakan produk yang masuk ranah furniture; tobacco concrete, dan batako dapat bermanfaat bagi ranah konstruksi serta kertas aromatic dan HTL merupakan persembahan untuk ranah life style .

Dari sekian banyak produk diversifikasi tembakau, mayoritas harganya kompetitif, antara lain soft candy, biochar, asap cair, biobriket, dan biopellet. Namun, ada pula produk yang harganya fantastis, yakni tobacco absolute (TA). Jika tiga tahun sebelumnya harga per mililiter di pasar dunia adalah Rp 50.000, kini harganya sudah menembus $5.25/ml atau sekira Rp 76.000/ml (asumsi $ 1 = Rp 14.500). Berapa profit yang bisa diraup jika stakeholder tembakau mampu mengoptimalkan potensi tembakau yang tersebar di seluruh Nusantara untuk berkecimpung ke lini diversifikasi produk? Luar biasa bukan? Tentu ini menjadi salah satu trigger untuk tetap mempertahankan eksistensi komoditas tembakau di Indonesia.

Diversifikasi produk tembakau memiliki kesempatan untuk berkembang (opportunity for development) jika ada sinergisitas dan kolaborasi yang harmonis antar stakeholder-nya, yakni petani sebagai pemasok bahan baku, pelaku usaha sebagai produsen yang harus mampu menjaga konsistensi kualitas dan kontinuitas produk diversifikasi, peneliti dan akademisi sebagai inventor serta innovator produk dan manajerial, masyarakat sebagai loyal customer, dan pemerintah sebagai penghasil kebijakan yang pro tembakau sekaligus fasilitator akses pasar domestik maupun global.

Pada 31 Mei setiap tahunnya, seluruh dunia memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Ide ini dicetuskan oleh WHO sejak tahun 1967. Artinya, selama tiga setengah dasawarsa, persepsi masyarakat telah digiring agar anti terhadap tembakau dengan produk rokoknya yang disinyalir menjadi musuh bebuyutan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Kecuali itu, WHO juga “menelurkan” Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), yakni perjanjian internasional yang berisi aturan global untuk mengendalikan tembakau.

Benarkah tembakau hanya bisa dijadikan rokok? Atau paradigma berpikir kita yang cenderung skeptis dalam menyikapi kehadiran tembakau di bumi ini? Di era kekinian, mulai banyak penelitian yang merambah sektor hilir tembakau, yang mengungkap bahwa tembakau tidak identik dengan rokok saja. Mari kita kupas dari proses budi daya hingga penanganan pascapanen tembakau guna menyibak tabir yang selama ini belum banyak diketahui dan dipahami oleh publik sehingga tembakau karib dicap sebagai komoditas perkebunan yang kontroversial.

Dalam aktivitas budi daya, bagian tembakau yang diambil untuk diproses adalah daun produktif, yakni daun yang memiliki spesifikasi yang sudah ditetapkan oleh pasar. Selebihnya, organ tembakau yang lain seperti bunga, biji, daun pucuk, batang, dan akar hanya menjadi limbah di lahan (on farm). Penanganannya jika tidak dibakar, maka ditimbun dalam tanah. Kedua proses tersebut sama-sama berpotensi mencemari lingkungan. Belum lagi limbah dari daun reject pada proses sortasi dan grading di gudang (off farm).

Batang tembakau memiliki porsi terbanyak (73,66 persen) dari total limbah. Selanjutnya, daun pucuk dengan porsi 16,1 persen. Sisanya sebesar 10,24 persen terbagi atas bunga, biji, dan akar. Ternyata limbah tembakau tersebut masih bisa diolah menjadi beragam produk baru yang memiliki add value dan prospektif untuk dikembangkan. Produk-produk tersebut ada yang diolah menggunakan teknologi yang modern dan canggih. Namun, tak sedikit pula yang bisa dihasilkan dari teknologi tepat guna yang sederhana. Merujuk dari Pohon Industri yang dimiliki PTPN X tahun 2022, diketahui bahwa dari daun pucuk tembakau bisa diciptakan 21 produk, antara lain antidiabetik artifisial, pasta gigi, biohepatoprotector, tobacco absolute, homogenized tobacco leaf (HTL), dan nikotin cair. Sedangkan dari batang tembakau bisa dirilis 20 produk, di antaranya biochar, tobaccoxylitol, hydrogel, papan partikel, biobriket, dan asap cair. Sementara bunga, biji, dan akar menyumbangkan 13 produk, contohnya tripleks, penyedap rasa alami, pakan ternak, dan parfum. Ragam diversifikasi produk ini murni menggunakan limbah tembakau sehingga tidak mengganggu rantai pasok daun produktif.

Ditilik dari aspek kemanfaatan, diversifikasi produk tembakau saat ini dapat diklasifikasikan ke dalam delapan ranah. Pertama, kesehatan (bioearmuff, nanofiber, larvasida Aedes aegypty, obat kumur, lotion antilintah, hand sanitizer, biohepatoprotector, tablet effervescent, pasta gigi, dan nikotin cair); Kedua, bioenergi (biobriket, biopellet, bioethanol). Ranah ketiga adalah kecantikan dengan produk berupa pasta gigi, tobaccolagen, sabun alami, aromaterapi, parfum, tobacco absolute. Keempat adalah ranah pertanian dengan delapan produk, meliputi biochar, biomulsa, kompos, hydrogel, asap cair, biopestisida, polybag serta biofungisida. Ranah kelima yang disasar diversifikasi produk tembakau adalah ranah pangan dengan merilis biooil, tobacco xylitol, soft candy, penyedap rasa alami, dan pakan ternak. Papan partikel dan tripleks merupakan produk yang masuk ranah furniture; tobacco concrete, dan batako dapat bermanfaat bagi ranah konstruksi serta kertas aromatic dan HTL merupakan persembahan untuk ranah life style .

Dari sekian banyak produk diversifikasi tembakau, mayoritas harganya kompetitif, antara lain soft candy, biochar, asap cair, biobriket, dan biopellet. Namun, ada pula produk yang harganya fantastis, yakni tobacco absolute (TA). Jika tiga tahun sebelumnya harga per mililiter di pasar dunia adalah Rp 50.000, kini harganya sudah menembus $5.25/ml atau sekira Rp 76.000/ml (asumsi $ 1 = Rp 14.500). Berapa profit yang bisa diraup jika stakeholder tembakau mampu mengoptimalkan potensi tembakau yang tersebar di seluruh Nusantara untuk berkecimpung ke lini diversifikasi produk? Luar biasa bukan? Tentu ini menjadi salah satu trigger untuk tetap mempertahankan eksistensi komoditas tembakau di Indonesia.

Diversifikasi produk tembakau memiliki kesempatan untuk berkembang (opportunity for development) jika ada sinergisitas dan kolaborasi yang harmonis antar stakeholder-nya, yakni petani sebagai pemasok bahan baku, pelaku usaha sebagai produsen yang harus mampu menjaga konsistensi kualitas dan kontinuitas produk diversifikasi, peneliti dan akademisi sebagai inventor serta innovator produk dan manajerial, masyarakat sebagai loyal customer, dan pemerintah sebagai penghasil kebijakan yang pro tembakau sekaligus fasilitator akses pasar domestik maupun global.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/