alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Indonesia Darurat Sampah Plastik

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam kasus pencemaran lingkungan. Baik pencemaran tanah maupun laut. Karena plastik mempunyai sifat tak mudah terurai. Proses pengolahannya menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik. Butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai secara alami.

Indonesia merupakan penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia setelah Tiongkok. Dengan perkiraan yang menunjukkan bahwa sampah plastik menyumbang sekitar 10 persen dari polusi plastik global. Dan dapat diketahui bahwa 4 sungai di Indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran tentang daur ulang dan dampak lingkungan masih sangat rendah.

Padahal jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun dan menempati urutan ke 12. Artinya, memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut data National Plastic Action Partnership (NPAP), Indonesia menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan 61 persen tidak terkelola. NPAP memperkirakan 620.000 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia pada 2017. Bila tidak ada intervensi, jumlahnya akan meningkat 30 persen pada 2025 menjadi 780.000 ton per tahun.

Plastik yang dibuang sembarangan contohnya di sungai akan terbawa arus menuju laut. Plastik akhirnya berada di laut dan menimbulkan bahaya serius bagi hewan laut atau hewan-hewan sekitar laut. Terdapat ribuan hewan yang terluka atau mati setiap tahunnya setelah menelan sampah plastik.

Pernah terjadi tahun 2018 seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), paus ini menelan hampir enam kilogram plastik dan sandal jepit. Sebagai sebuah negara kepulauan, memberikan Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia merupakan salah satu pusat dari ekosistem laut dunia. Perairan Indonesia merupakan rumah dari 76 persen spesies karang, hutan bakau, dan padang lamun. Berbagai spesies perikanan, tentu akan terganggu dengan adanya sampah plastik tersebut.

Selain dampak lingkungan, sampah plastik juga berisiko menekan kegiatan perekonomian Indonesia. Sebab, berdasarkan buku saku Kementerian Pariwisata, sektor pariwisata RI menyumbang 9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2014.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam kasus pencemaran lingkungan. Baik pencemaran tanah maupun laut. Karena plastik mempunyai sifat tak mudah terurai. Proses pengolahannya menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik. Butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai secara alami.

Indonesia merupakan penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia setelah Tiongkok. Dengan perkiraan yang menunjukkan bahwa sampah plastik menyumbang sekitar 10 persen dari polusi plastik global. Dan dapat diketahui bahwa 4 sungai di Indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran tentang daur ulang dan dampak lingkungan masih sangat rendah.

Padahal jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun dan menempati urutan ke 12. Artinya, memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Menurut data National Plastic Action Partnership (NPAP), Indonesia menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan 61 persen tidak terkelola. NPAP memperkirakan 620.000 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia pada 2017. Bila tidak ada intervensi, jumlahnya akan meningkat 30 persen pada 2025 menjadi 780.000 ton per tahun.

Plastik yang dibuang sembarangan contohnya di sungai akan terbawa arus menuju laut. Plastik akhirnya berada di laut dan menimbulkan bahaya serius bagi hewan laut atau hewan-hewan sekitar laut. Terdapat ribuan hewan yang terluka atau mati setiap tahunnya setelah menelan sampah plastik.

Pernah terjadi tahun 2018 seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), paus ini menelan hampir enam kilogram plastik dan sandal jepit. Sebagai sebuah negara kepulauan, memberikan Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia merupakan salah satu pusat dari ekosistem laut dunia. Perairan Indonesia merupakan rumah dari 76 persen spesies karang, hutan bakau, dan padang lamun. Berbagai spesies perikanan, tentu akan terganggu dengan adanya sampah plastik tersebut.

Selain dampak lingkungan, sampah plastik juga berisiko menekan kegiatan perekonomian Indonesia. Sebab, berdasarkan buku saku Kementerian Pariwisata, sektor pariwisata RI menyumbang 9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2014.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sampah plastik selalu menjadi masalah utama dalam kasus pencemaran lingkungan. Baik pencemaran tanah maupun laut. Karena plastik mempunyai sifat tak mudah terurai. Proses pengolahannya menimbulkan toksit dan bersifat karsinogenik. Butuh waktu sampai ratusan tahun bila terurai secara alami.

Indonesia merupakan penghasil sampah plastik laut terbesar ke dua di dunia setelah Tiongkok. Dengan perkiraan yang menunjukkan bahwa sampah plastik menyumbang sekitar 10 persen dari polusi plastik global. Dan dapat diketahui bahwa 4 sungai di Indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik. Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran tentang daur ulang dan dampak lingkungan masih sangat rendah.

Padahal jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09-0,24 juta ton/tahun dan menempati urutan ke 12. Artinya, memang ada sistem pengelolaan sampah yang buruk di Indonesia.

Menurut data National Plastic Action Partnership (NPAP), Indonesia menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik per tahun, dan 61 persen tidak terkelola. NPAP memperkirakan 620.000 ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia pada 2017. Bila tidak ada intervensi, jumlahnya akan meningkat 30 persen pada 2025 menjadi 780.000 ton per tahun.

Plastik yang dibuang sembarangan contohnya di sungai akan terbawa arus menuju laut. Plastik akhirnya berada di laut dan menimbulkan bahaya serius bagi hewan laut atau hewan-hewan sekitar laut. Terdapat ribuan hewan yang terluka atau mati setiap tahunnya setelah menelan sampah plastik.

Pernah terjadi tahun 2018 seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), paus ini menelan hampir enam kilogram plastik dan sandal jepit. Sebagai sebuah negara kepulauan, memberikan Indonesia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Dan sudah bukan rahasia lagi kalau Indonesia merupakan salah satu pusat dari ekosistem laut dunia. Perairan Indonesia merupakan rumah dari 76 persen spesies karang, hutan bakau, dan padang lamun. Berbagai spesies perikanan, tentu akan terganggu dengan adanya sampah plastik tersebut.

Selain dampak lingkungan, sampah plastik juga berisiko menekan kegiatan perekonomian Indonesia. Sebab, berdasarkan buku saku Kementerian Pariwisata, sektor pariwisata RI menyumbang 9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2014.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/