Semarak Lailatul Qadar

Menariknya tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara tidak tidur semalaman dengan kegiatan-kegiatan unik, semisal berpatrol ria, bahkan ada yang melakukan arak-arakan sambil melakukan bacaan-bacaan shalawat ataupun lainnya sambil diiringi dengan musik yang ditabuh.

Bahkan di desaku biasanya disambut dengan rangkaian selamatan dengan menu berbeda. Semisal “maleman” acara ini dilakukan beberapa hari sejak malam ke 21 dengan sajian nasi bungkus yang diberikan kepada para jamaah taraweh sebagai upaya menebar kebaikan melalui sedekah makanan. Ada juga “Bibiyen” yang acara ini dilaksanakan pada malam ke 27 yang menu nasi yang sedikit dibuat bentuk kerucut di atas piring. Puncaknya nya pada malam ke 29 masyarakat menyajikan kue serabi yang juga dibagikan kepada jamaah taraweh setelah melaksanakan taraweh.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah semua merasa senang dan menyukai masakan masing-masing yang diantarkan baik di musalla ataupun di masjid-masjid. Memang tidak semua menu masakan terdiri dari masakan yang tergolong istimewa. Tapi berkumpulnya dengan berbagai strata sosial baik yang kaya dengan miskin, pejabat dan masyarakat biasa membuat mereka semakin menjalin rasa persaudaraan melalui tali silaturrahim sambil menikmati berbagai hidangan yang sengaja ditukar antara satu dengan lainnya.

Dengan bertukar bungkusan ini, bisa saja si miskin mendapat milik si kaya, demikian juga si kaya mendapat bagian dari si miskin. Menariknya semua dapat menikmati dengan nikmatnya karena mendapatkan makanan yang tak biasa. Semisal si kaya yang bosen dengan daging dan masakan mewah lainnya, dia merasakan kembali nikmatnya lauk ikan teri yang hanya dibumbuhi sambel terasi. Apalagi si miskin yang jarang-jarang makan lauk daging dan lainnya, kini dengan bertukar makanan juga merasakan makanan yang tergolong istimewa, bahkan tak jarang mereka membawa pulang sebagian untuk berbagi dengan keluarga di rumah.

Euforia yang beragam dalam menyambut hadirnya malam lailatul qadar ini tentunya menjadi ciri khas tersendiri yang dimiliki oleh bangsa kita dalam beragama. Dan yang paling penting, dengan tradisi-tradisi yang dilakukan yang merupakan warisan para pendahulu telah mampu menjadikan bangsa ini hidup rukun, damai dalam kebersamaan.

*) Penulis adalah Alumni STAI At Taqwa Bondowoso yang saat ini menjadi Kepala TK Annawawi, Tlogosari, Bondowoso.