Branding Destination, Mempopulerkan Citra Pariwisata Bondowoso

Bondowoso, mendengarnya pasti semua orang langsung tertuju dan teringat pada suatu jenis makanan yang terbuat dari singkong yaitu tape. Selain itu Bondowoso juga dikenal dengan kota ‘pensiun’ atau kota mati yang tidak akan bisa berkembang, itulah anggapan masyarakat. Tapi apakah orang tahu bahwa ternyata di Bondowoso memiliki kekayaan pariwisata yang belum tentu ada di daerah lain?

IKLAN

Bondowoso, menurut pandangan penulis, adalah kota yang sejuk, asri dan bebas asap pabrik.  Keindahan, kesejukan dan keasrian Bondowoso bisa di katakan selalu menjadi buah bibir dan kenangan yang eksotis bagi orang yang berkunjung di kota ini. Beragam julukan disandang pada kota ini Bondowoso, di antaranya Bondowoso Berseri, Bondowoso Kota Tape, Bondowoso Kota Kembang dan sebagainya.

Dengan kunjungan wisatawan asing dan domestik yang tiap tahun kian meningkat, tidak berlebihan kalau Pemerintah Kabupaten Bondowoso mencanangkan tahun kunjungan wisatawan 2015 sebagai strategi mendongkrak citra pariwisata kabupaten ini. Sepertinya pemerintah yakin bahwa pengembangan sektor pariwisata mampu memberikan multi direct effect pada masyarakat luas, sehingga harapan pemerintah kabuapaten pun sangat besar terhadap keberadaan sektor yang menjanjikan ini, bahkan masyarakatnya pun juga sangat bisa bertumpu pada sektor pariwisata.

Banyak usaha yang telah dilakukan untuk mempopulerkan citra pariwisata Bondowoso, baik itu melalui promosi dalam dan luar negeri yang tentunya membutuhkan dana yang relatif tidak sedikit. Pemerintah kabupaten Bondowoso bahkan telah menetapkan tahun kunjungan wisatawan 2015. Demikian pula, Pemerintah Kabupaten Bondowoso pun telah meluncurkan The Highland Paradise sebagai brand guna mempopulerkan citra pariwisata kabupaten ini. Di saat gempuran hebat promosi kabupaten tetangga seperti Banyuwangi, Jember, Situbondo dan Probolinggo. Slogan-slogan seperti Sunrise of Java, Naturally Jember, East Side of Paradise dan Spirit of Bromo mungkin sudah tidak asing lagi terdengar dan seakan-akan selalu ingin menunjukkan diri untuk menyaingi Bondowoso. Seperti halnya Banyuwangi, selain luas wilayahnya yang relatif lebih luas dibandingkan Bondowoso, tapi dalam perjalanannya, kabupaten tetangga ini mampu menunjukkan diri menjadi primadona wisatawan.

Apakah karena brand yang telah disandangnya dan begitu melekat?

Dalam benak wisatawan brand bukanlah semata-mata kunci utama untuk sukses, tapi paling tidak Banyuwangi telah mampu mempertahankan citra yang ada pada brand tersebut serta mampu “mencuri” pasar wisatawan yang ada.

Branding dapat menjadi sebuah strategi investasi jangka panjang yang nantinya dapat memberikan manfaat yang besar bagi keberlangsungan suatu destinasi. Terlebih lagi di tengah persaingan destinasi yang mau tidak mau, suka tidak suka berlomba-lomba untuk memenangkan pasar. Manfaat ekonomis yang nantinya akan diperolehnya pun juga akan meroket. Brand yang baik tentunya juga akan mendukung “penjualannya” di pasar wisatawan. Belum lagi loyalitas wisatawan pun pada destinasi akan terkatrol dan merupakan hubungan yang tidak ternilai harganya.

Sebuah destinasi dengan brand yang baik akan “kebal” terhadap persaingan, sekalipun pada tingkat yang kritis. Dan bagi pihak internal, dalam hal ini pemerintah kabupaten Bondowoso, pengusaha pariwisata serta masyarakat akan terhimpun pada suatu hubungan yang solid atau dengan kata lain terhimpunnya stakeholder yang terbaik.

Dalam membentuk sebuah brand yang nantinya diharapkan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi pariwisata Bondowoso, maka terdapat hal-hal yang patut dipertimbangkan. Di antaranya speakable and writeable. Berbicara tentang branding, maka tidak akan terlepas dari konsep-konsep pemasaran yang senantiasa berkembang mengikuti arah persaingan. Dalam memunculkan sebuah brand, disadari bahwa sebenarnya pihak yang paling sering melalukan komunikasi dengan brand tersebut adalah pihak eksternal, dan bukan pihak internal. Dalam hal ini pihak eksternal adalah calon wisatawan yang berpotensi mengunjungi Bondowoso, sedangkan pihak internal tidak lain adalah pemerintah, pengusaha pariwisata serta masyarakat Bondowoso sendiri. Pihak internal hanya melakukan kegiatan yang sifatnya press release, sedangkan calon wisatawan akan selalu mengkomunikasikan brand tersebut setiap saat.

Agar sebuah brand dapat dikomunikasikan dan melekat di hati calon wisatawan, maka brand tersebut haruslah mudah diucapkan dan mudah untuk ditulis (speakable dan writeable). Apabila hal tersebut terabaikan, akibatnya brand yang dimunculkan menjadi tidak memorable dalam benak calon wisatawan. Penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dalam tatanan writeable sebuah brand, menjadi sangat penting. Sebab bahasa tersebut telah diakui secara internasional, terlebih lagi tidak munafik kalau Bondowoso memang memiliki target wisatawan asing. Sebab secara ekonomis, spend power wisatawan asing relatif lebih unggul dibandingkan wisatawan domestik.

Kedua adalah spirit of brand. Bondowoso memiliki keunikan alam yang berbeda dengan wilayah lainnya. Dengan penduduknya yang mayoritas petani dan pekebun, dan kondisi alam perbukitan menjadikan Bondowoso tentunya berbeda dengan Banyuwangi, Jember, Situbondo dan Probolinggo. Tanpa mengurangi nilai keindahan alam dan kondisi geografis bondowoso, nilai inilah yang perlu di-install dalam memunculkan sebuah brand. Dan hal ini disadari telah muncul sejak pariwisata Bondowoso mulai tumbuh dan berkembang. “Surga Tersembunyi di Jawa“ (The Hidden Paradise In Java), “Bukit di Jawa” (Hill of Java), “Kota Kecil Besar Kenangan” (Small City Biggest Moment), “Kecantikan Bondowoso” (Exotica Bondowoso) dan sebagainya, merupakan bukti kuat bahwa brand tersebut muncul akibat kondisi alam yang ada.

Bondowoso memang berbeda dengan Banyuwangi, Jember, Situbondo maupun Probolinggo, tetapi masing-masing memiliki keunikan tersendiri yang menyimpan potensi. Bondowoso dengan kondisi alam yang indah dan begitu subur tanpa garis pantai menjadikan daerah ini sebagai daerah yang patut untuk mencintai dan dikagumi keindahan alamnya. Kawah Ijen dengan keindahan danau kawahnya, Kawah wurung dengan keindahan bukit teletubbisnya, Sempol dengan keindahan agrowisatanya, Solor dengan kemegahan batunya dan berbagai air terjun dengan keaslian dan keunikannya. Aura-aura inilah yang dimunculkan dalam membentuk sebuah brand.

Ketiga, internal back-up. Secara umum, aktivitas sebuah brand dapat dibedakan menjadi dua, yaitu aktivitas internal dan aktivitas eksternal. Dan brand itu sendiri dianggap sebagai fungsi pemasaran yang sifatnya eksternal. Hal ini mengandung maksud bahwa sebelum mengaktifkan branding serta fungsi-fungsi eksternal terkait, terlebih dahulu fungsi-fungsi internalnya (Pemerintah Kabupaten Bondowoso, pengusaha pariwisata serta masyarakat) harus siap mendukungnya. Karena tanpa adanya kesiapan yang matang, brand yang muncul ibarat sebuah pesawat yang lepas landas begitu saja tanpa dilakukan cek mesin, akan sangat fatal akibatnya. Dapat dibayangkan brand tersebut muncul sebagai bumerang bagi pariwisata itu sendiri. Offering yang tinggi pada calon wisatawan tanpa supply yang memadai, citra pariwisata justru akan lebih memburuk lagi. Bukannya menggiring calon wisatawan ke Bondowoso, tetapi justru tanpa sadar menggiringnya ke kabupaten tetangga.

Selanjutya adalah personality. Sebenarnya sebuah brand tidak lebih dari kata-kata, akan tetapi tanpa mengusung personality yang baik, maka tidak akan terkesan “hidup” dan tidak dapat berinteraksi dengan pasar. Begitu halnya Bondowoso, tanpa adanya personality dalam brand tersebut, maka emotional brand serta loyalitas wisatawan menjadi suatu hal yang mustahil. Bondowoso dengan kecantikan dan keindahan alamnya dapat membentuk personality Bondowoso yang sesungguhnya. Di luar kepala calon wisatawan yang menyenangi kecantikan alam, tentunya akan berujar Bondowoso lah tempatnya.

Kemudian story of glory. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa Bondowoso memiliki keunikan alam tersendiri, dan hal ini dapat memicu sensasi, menggedor perhatian publik bahkan menjadi buah bibir masyarakat. Bagaimana keunikan alam tersebut dapat muncul dan syukurnya masih dapat dipertahankan hingga saat ini, menjadi sebuah story yang menarik. Paling tidak sebuah brand dapat juga didongkrak oleh story tersebut. Lihat saja Mesir dengan story Piramidanya, Cina dengan Great Wall-nya dan sebagainya, dapat bergerak lebih lincah dan lebih menohok dalam pasar wisata. Berbagai bentuk aktivitas seperti memanfaatkan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai ajang melahirkan story of glory, dapat juga berdampak positif tapi perlu juga diwaspadai bahwa aktivitas tersebut dapat juga membuat publik (wisatawan) menjadi resisten.

Terakhir adalah brand identity. Waktu merupakan ujian terberat dalam eksis tidaknya sebuah brand. Di satu sisi waktu yang memupuk kekuatan sebuah brand, namun di sisi lainnya, seandainya pihak internal kurang waspada, maka waktu jualah yang nantinya akan memangkas keunikan sebuah brand. Keunikan alam Bondowoso tentunya sudah kita kenal, akibat desakan globalisasi yang juga memberikan pengaruh negatif, kelestarian dari keunikan alam Bondowoso yang kita miliki perlu dipertanyakan.

Dengan tetap “menghidupkan”, menyosialisasikan secara konsisten dan telaten, maka persaingan dalam kondisi yang kritis sekalipun dapat diatasi. Mengadopsi kata-kata yang diserukan oleh Alina Wheeler bahwa melestarikan keunikan brand menjadi sangat penting, agar terlihat berbeda dengan yang lainnya.

Branding tidak saja penting, tetapi sangat penting. Seperti yang diungkapkan oleh Lynn Altman, yaitu Brand it Yourself, tanpa adanya sebuah brand, lantas apa yang akan kita ekspos untuk menarik minat pasar. Dengan mengekspos, maka suatu destinasi dapat berpeluang menyampaikan suatu identitas yang unik kepada wisatawan yang membedakan dengan destinasi lainnya. Manfaat dari branding memang tidak dapat dipetik dalam waktu yang singkat, keseluruhan prosesnya membutuhkan waktu yang panjang. Belum lagi genderang persaingan sudah ditabuh sejak lama, tetapi Bondowoso masih baru mengeliat, dan hal ini perlu sebuah percepatan. Disadari oleh kita bahwa Banyuwangi, Probolinggo dan Jember, tidak pernah “ke mana-mana”, tetapi mengapa mereka sudah “ada” di mana-mana.

*) Penulis adalah guru produktif Akomodasi Perhotelan Pada SMK Negeri 2 Bondowoso dan pemerhati pariwisata.

Reporter :

Fotografer :

Editor :