alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Perang dengan (Sampah) Plastik, Kapan Kita Mulai?

Oleh: H. Asmu’i Syarkowi

Mobile_AP_Rectangle 1

SEORANG – Dalam posisi membonceng di atas sepeda motor, seseorang berseragam dinas itu membawa sekantong plastik ukuran sedang. Kendaraan yang ditumpangi bersama laki-laki pengantarnya seolah ikut meramaikan lalu lintas pagi. Maklumlah, pagi itu bukan hari libur. Sehingga, dapat dipastikan lalu lintas pagi hari itu sangat ramai.

Saya yang kebetulan berkendara tepat di belakangnya dibuat sangat terkejut. Sang ibu tadi tiba-tiba melemparkan kantong plastik beserta isinya yang telah terikat itu ke sungai Bedadung. Byuur! Dalam sekejap, kantong –yang isinya dapat saya pastikan sampah itupun– hanyut membaur bersama ‘penghuni’ sungai lainnya.

Saya dapat memastikan bahwa orang yang melempar kantong plastik tadi bukanlah orang awam. Seragam yang dikenakannya meyakinkan saya, bahwa dia seorang pegawai negeri dan pasti seorang yang berpendidikan. Tetapi, tindakannya melempar sekantong plastik di sungai, dengan tanpa beban dan rasa bersalah, sangatlah tidak terpuji sekaligus menarik perhatian saya. Saya jadi teringat sampah-sampah plastik yang sering berserakan di pintu-pintu air sungai dan selokan atau di tempat-tempat sampah lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari fenomena tersebut, setidaknya ada tiga hal yang patut kita garis bawahi. Pertama, banyak orang belum mengerti ‘bahaya’ sampah plastik. Kedua, kurangnya kepedulian dari masyarakat menyikapi sampah plastik. Ketiga, belum ada kebijakan yang jelas dan praktis penanganan sampah plastik dari para pembuat kebijakan.

Indonesia memiliki luas wilayah sebesar 5.455.675 km2, dan 3.544.744 km2 di antaranya atau 2/3 wilayahnya adalah lautan, 1/3 sisanya adalah daratan. Karena mempunyai wilayah yang luas, Indonesia berbatasan dengan banyak negara, walaupun mayoritas negara-negara tersebut adalah anggota ASEAN. Dengan wilayah seluas itu dan dengan letak geografis yang demikian strategis ini, Indonesia selain memiliki keragaman suku bangsa dan budaya juga mempunyai keragaman tumbuhan dan biota air, baik darat maupun laut.

Sebagaimana ditulis kompasiana.com, dalam dunia bahari, Indonesia memiliki taman laut yang sangat indah seperti di Bunaken, Wakatobi, dan Raja Ampat yang merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia. Kawasan Raja Ampat memiliki lebih dari 1.070 jenis spesies ikan, 600 jenis spesies terumbu karang, dan 66 jenis moluska. Sedangkan, Kepulauan Karibia, sebagaiman dikutip oleh dunialaut.com, hanya memiliki tidak lebih dari 70 jenis terumbu karang. Bukankah itu sebuah fakta yang sangat mengagumkan? Karena itu, tak heran Raja Ampat menjadi surga bagi para diver dan menjadi salah satu spot diving kelas dunia yang paling diminati.

Selain kawasan Raja Ampat, Indonesia juga memiliki Laut Sulawesi, tempat ditemukannya mahluk-mahluk laut yang belum ditemukan sebelumnya, termasuk ditemukannya ikan Coelacanth yang diduga sudah punah 65 juta tahun lalu. Sedangkan di Danau Kakaban, Perairan Berau, Kalimantan Timur terdapat ribuan ubur-ubur tanpa sengat, Martigias papua, sehingga Anda dapat merasakan sensasi berenang dengan ubur-ubur. Di dunia ini hanya ada dua habitat ubur-ubur tersebut, yakni di Indonesia dan Republik Palau di Samudra Pasifik.

Dari dunia bawah laut bergeser sedikit ke jajaran pantai yang membentengi kepulauan Nusantara. Indonesia memiliki pantai dengan karakter yang sangat beragam, mulai pantai dengan pasir putih, pasir cokelat, pasir hitam, hingga pantai berpasir pink seperti di Pink Beach Pulau Komodo. Selain pasir warna-warni, ombak di pesisir pantai Indonesia sangatlah beragam. Ada pantai yang sangat tenang tanpa ombak hingga terlihat seperti danau, atau pantai dengan tujuh gulungan ombak setinggi hampir 6 meter sehingga dikenal dengan nama “The Seven Giant Waves Wonder”. Pantai yang menjadi surga para peselancar tersebut adalah Pantai Plengkung di Banyuwangi yang juga disebut dengan nama “G-land”.

Tetapi sadarkah kita di balik itu? Sebagaimana sering kita saksikan via media, bahwa Indonesia adalah produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia. Lantas apa dampaknya? Sebagaimana telah dimuat oleh Liputan6.com (18/11/18), sekitar pukul 16.00 WITA, seekor ikan paus (Physeter macrocephalus) ditemukan warga terdampar di sekitar Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus sepanjang 9,5 meter dan memiliki lebar 1,85 meter itu ditemukan dalam kondisi sudah jadi bangkai. Saat ditemukan, paus malang itu dikelilingi sampah plastik dan potongan-potongan kayu. Saat perut paus dibelah, ternyata di dalamnya juga berisi beragam sampah plastik seberat kurang lebih enam kilogram. Sampah-sampah dalam perut paus itu terdiri atas plastik keras 19 buah seberat 140 gram, botol plastik 4 buah 150 gram, kantong plastik 25 buah 260 gram. Ada pula sepasang sandal jepit seberat 270 gram hingga tali rafia 3,6 kilogram dan gelas-gelas plastik.

Penemuan tersebut baru terungkap pada keesokan harinya, ketika salah seorang warga mengunggah foto paus malang tersebut di salah satu akun media sosial miliknya. Sejak itu, kabar bangkai mamalia laut yang menelan plastik menjadi viral dan memunculkan keprihatinan banyak pihak.

Sudah barang tentu, kasus tersebut hanyalah contoh. Kalau di daerah lain tidak diberitaan bukan berarati tidak ada kasus. Keterbatasan akseslah yang menjadi penyebabnya sehingga banyak kasus ‘musibah’ lingkungan akibat sampah plastik tidak kita ketahui. Hal demikian juga menjadi keprihatinan Greenpeace Indonesia yang mengatakan, bahwa kasus di Wakatobi hanyalah salah satu contoh kasus dari sejumlah peristiwa pencemaran akibat sampah plastik di lautan.

Sedemikian parahnya keberadaan sampah plastik ini kiranya kita sedikit tahu mengapa bisa terjadi. Selain praktis plastik kini memang sudah menjadi kebutuhan primer lalu lintas kehidupan manusia sehari-hari dari desa sampai kota-kota besar. Tetapi kepraktisan plastik dari segi manfaat tersebut, juga sebagai perusak lingkungan paling praktis pula. Contoh di atas hanya menjadi sekelumit contoh betapa ganasnya dampak plastik. Jangka panjang bukan tidak mustahil juga akan menghancurkan lingkungan hidup yang menjadi ‘infrastruktur’ kelangsungan makhluk hidup, termasuk manusia.

Banyaknya orang berpendidikan yang –mestinya menjadi contoh– akibat kurang peduli terhadap bahaya sampah plastik juga semakin memperparah luapan sampah plastik. Bahkan, ada kecenderungan semakin mapan kehidupan seseorang semakin meningkat pula penggunaan plastik dan tentunya semakin tinggi pula dalam memproduksi sampah plastik. Kita memang terbiasa melihat tempat-tempat pembuangan sampah yang lebih teratur di perumahan-perumahan elit. Akan tetapi, pada saat itu pula kita menyaksikan sampah yang teronggok di tempat-tempat sampah itu diangkut secara campur aduk oleh petugas sampah akibat tidak ada pemilahan yang jelas antara sampah organik dan yang bukan organik.

Di daerah tertentu juga sudah ada peringatan-peringatan tertulis larangan membuang sampah di tepi-tepi bantaran sungai dan selokan-selokan. Akan tetapi, peringatan tersebut masih sebatas peringtan yang belum ada evaluasi yang jelas sejauh mana efektivitasnya. Faktanya, di tempat-tempat aliran sungai yang sama yang tidak dipasang rambu, masih saja ada orang yang membuah sumpah di sungai seenaknya. Mengapa? Selama ini peringatan-peringatan tersebut belum diikuti oleh sanksi yang jelas. Padahal, adanya sanksi yang jelas sekaligus tegas sekalipun tidak terlalu berat, secara psikososial, pasti akan memberi efek jera kepada masyarakat. Sanksi pidana dalam UU Lingkungan Hidup selama ini sering ditegakkan hanya pada kasus-kasus besar dan sering bernuansa politis.

Saat ini Presiden Joko Widodo memang telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018, akan tetapi itu hanya sebatas mengenai penanganan sampah laut, yang dalam rencana aksi nasional (RAN) pemerintah menargetkan mengurangi sampah plastik laut hingga 70 persen pada 2025. Sedangkan, sampah plastik yang berada di daratan atau lingkungan perumahan kita belum menjadi perhatian serius. Kalaupun ada paling hanya bersifat regional. Greget menyikapi sampah plastik, tiap daerah berbeda. Akibatnya, produksi sampah kian detik bertambah, sedangkan sikap kita sudah puluhan tahun belum juga berubah. Padahal, bahaya sampah plastik secara laten terus mengancam. Dengan demikian perhatian kita, sekaligus penanganannya, terhadap sampah plastik ini memang harus masif, tidak saja oleh negara tetapi juga seluruh masyarakat dari kota sampai desa, dari tingat pusat sampai RT. Para guru, para khatib dan para tokoh agama, serta media baik cetak maupun elektronik, perlu dengan lantang mengumandangkan bahaya laten sampah plastik ini. Keterlibatan semua lapisan masyarakat memang amatlah diperlukan. Akan tetapi, harus ada yang menjadi penggerak, yaitu pemerintah dari pusat sampai tingkat rukun tetangga (RT). Dan, agaknya memang sudah waktunya dicanangkan dari sekarang “Ayo Mulai Perang Melawan Sampah Plastik”.

*) Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Lumajang Kelas I A.

- Advertisement -

SEORANG – Dalam posisi membonceng di atas sepeda motor, seseorang berseragam dinas itu membawa sekantong plastik ukuran sedang. Kendaraan yang ditumpangi bersama laki-laki pengantarnya seolah ikut meramaikan lalu lintas pagi. Maklumlah, pagi itu bukan hari libur. Sehingga, dapat dipastikan lalu lintas pagi hari itu sangat ramai.

Saya yang kebetulan berkendara tepat di belakangnya dibuat sangat terkejut. Sang ibu tadi tiba-tiba melemparkan kantong plastik beserta isinya yang telah terikat itu ke sungai Bedadung. Byuur! Dalam sekejap, kantong –yang isinya dapat saya pastikan sampah itupun– hanyut membaur bersama ‘penghuni’ sungai lainnya.

Saya dapat memastikan bahwa orang yang melempar kantong plastik tadi bukanlah orang awam. Seragam yang dikenakannya meyakinkan saya, bahwa dia seorang pegawai negeri dan pasti seorang yang berpendidikan. Tetapi, tindakannya melempar sekantong plastik di sungai, dengan tanpa beban dan rasa bersalah, sangatlah tidak terpuji sekaligus menarik perhatian saya. Saya jadi teringat sampah-sampah plastik yang sering berserakan di pintu-pintu air sungai dan selokan atau di tempat-tempat sampah lainnya.

Dari fenomena tersebut, setidaknya ada tiga hal yang patut kita garis bawahi. Pertama, banyak orang belum mengerti ‘bahaya’ sampah plastik. Kedua, kurangnya kepedulian dari masyarakat menyikapi sampah plastik. Ketiga, belum ada kebijakan yang jelas dan praktis penanganan sampah plastik dari para pembuat kebijakan.

Indonesia memiliki luas wilayah sebesar 5.455.675 km2, dan 3.544.744 km2 di antaranya atau 2/3 wilayahnya adalah lautan, 1/3 sisanya adalah daratan. Karena mempunyai wilayah yang luas, Indonesia berbatasan dengan banyak negara, walaupun mayoritas negara-negara tersebut adalah anggota ASEAN. Dengan wilayah seluas itu dan dengan letak geografis yang demikian strategis ini, Indonesia selain memiliki keragaman suku bangsa dan budaya juga mempunyai keragaman tumbuhan dan biota air, baik darat maupun laut.

Sebagaimana ditulis kompasiana.com, dalam dunia bahari, Indonesia memiliki taman laut yang sangat indah seperti di Bunaken, Wakatobi, dan Raja Ampat yang merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia. Kawasan Raja Ampat memiliki lebih dari 1.070 jenis spesies ikan, 600 jenis spesies terumbu karang, dan 66 jenis moluska. Sedangkan, Kepulauan Karibia, sebagaiman dikutip oleh dunialaut.com, hanya memiliki tidak lebih dari 70 jenis terumbu karang. Bukankah itu sebuah fakta yang sangat mengagumkan? Karena itu, tak heran Raja Ampat menjadi surga bagi para diver dan menjadi salah satu spot diving kelas dunia yang paling diminati.

Selain kawasan Raja Ampat, Indonesia juga memiliki Laut Sulawesi, tempat ditemukannya mahluk-mahluk laut yang belum ditemukan sebelumnya, termasuk ditemukannya ikan Coelacanth yang diduga sudah punah 65 juta tahun lalu. Sedangkan di Danau Kakaban, Perairan Berau, Kalimantan Timur terdapat ribuan ubur-ubur tanpa sengat, Martigias papua, sehingga Anda dapat merasakan sensasi berenang dengan ubur-ubur. Di dunia ini hanya ada dua habitat ubur-ubur tersebut, yakni di Indonesia dan Republik Palau di Samudra Pasifik.

Dari dunia bawah laut bergeser sedikit ke jajaran pantai yang membentengi kepulauan Nusantara. Indonesia memiliki pantai dengan karakter yang sangat beragam, mulai pantai dengan pasir putih, pasir cokelat, pasir hitam, hingga pantai berpasir pink seperti di Pink Beach Pulau Komodo. Selain pasir warna-warni, ombak di pesisir pantai Indonesia sangatlah beragam. Ada pantai yang sangat tenang tanpa ombak hingga terlihat seperti danau, atau pantai dengan tujuh gulungan ombak setinggi hampir 6 meter sehingga dikenal dengan nama “The Seven Giant Waves Wonder”. Pantai yang menjadi surga para peselancar tersebut adalah Pantai Plengkung di Banyuwangi yang juga disebut dengan nama “G-land”.

Tetapi sadarkah kita di balik itu? Sebagaimana sering kita saksikan via media, bahwa Indonesia adalah produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia. Lantas apa dampaknya? Sebagaimana telah dimuat oleh Liputan6.com (18/11/18), sekitar pukul 16.00 WITA, seekor ikan paus (Physeter macrocephalus) ditemukan warga terdampar di sekitar Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus sepanjang 9,5 meter dan memiliki lebar 1,85 meter itu ditemukan dalam kondisi sudah jadi bangkai. Saat ditemukan, paus malang itu dikelilingi sampah plastik dan potongan-potongan kayu. Saat perut paus dibelah, ternyata di dalamnya juga berisi beragam sampah plastik seberat kurang lebih enam kilogram. Sampah-sampah dalam perut paus itu terdiri atas plastik keras 19 buah seberat 140 gram, botol plastik 4 buah 150 gram, kantong plastik 25 buah 260 gram. Ada pula sepasang sandal jepit seberat 270 gram hingga tali rafia 3,6 kilogram dan gelas-gelas plastik.

Penemuan tersebut baru terungkap pada keesokan harinya, ketika salah seorang warga mengunggah foto paus malang tersebut di salah satu akun media sosial miliknya. Sejak itu, kabar bangkai mamalia laut yang menelan plastik menjadi viral dan memunculkan keprihatinan banyak pihak.

Sudah barang tentu, kasus tersebut hanyalah contoh. Kalau di daerah lain tidak diberitaan bukan berarati tidak ada kasus. Keterbatasan akseslah yang menjadi penyebabnya sehingga banyak kasus ‘musibah’ lingkungan akibat sampah plastik tidak kita ketahui. Hal demikian juga menjadi keprihatinan Greenpeace Indonesia yang mengatakan, bahwa kasus di Wakatobi hanyalah salah satu contoh kasus dari sejumlah peristiwa pencemaran akibat sampah plastik di lautan.

Sedemikian parahnya keberadaan sampah plastik ini kiranya kita sedikit tahu mengapa bisa terjadi. Selain praktis plastik kini memang sudah menjadi kebutuhan primer lalu lintas kehidupan manusia sehari-hari dari desa sampai kota-kota besar. Tetapi kepraktisan plastik dari segi manfaat tersebut, juga sebagai perusak lingkungan paling praktis pula. Contoh di atas hanya menjadi sekelumit contoh betapa ganasnya dampak plastik. Jangka panjang bukan tidak mustahil juga akan menghancurkan lingkungan hidup yang menjadi ‘infrastruktur’ kelangsungan makhluk hidup, termasuk manusia.

Banyaknya orang berpendidikan yang –mestinya menjadi contoh– akibat kurang peduli terhadap bahaya sampah plastik juga semakin memperparah luapan sampah plastik. Bahkan, ada kecenderungan semakin mapan kehidupan seseorang semakin meningkat pula penggunaan plastik dan tentunya semakin tinggi pula dalam memproduksi sampah plastik. Kita memang terbiasa melihat tempat-tempat pembuangan sampah yang lebih teratur di perumahan-perumahan elit. Akan tetapi, pada saat itu pula kita menyaksikan sampah yang teronggok di tempat-tempat sampah itu diangkut secara campur aduk oleh petugas sampah akibat tidak ada pemilahan yang jelas antara sampah organik dan yang bukan organik.

Di daerah tertentu juga sudah ada peringatan-peringatan tertulis larangan membuang sampah di tepi-tepi bantaran sungai dan selokan-selokan. Akan tetapi, peringatan tersebut masih sebatas peringtan yang belum ada evaluasi yang jelas sejauh mana efektivitasnya. Faktanya, di tempat-tempat aliran sungai yang sama yang tidak dipasang rambu, masih saja ada orang yang membuah sumpah di sungai seenaknya. Mengapa? Selama ini peringatan-peringatan tersebut belum diikuti oleh sanksi yang jelas. Padahal, adanya sanksi yang jelas sekaligus tegas sekalipun tidak terlalu berat, secara psikososial, pasti akan memberi efek jera kepada masyarakat. Sanksi pidana dalam UU Lingkungan Hidup selama ini sering ditegakkan hanya pada kasus-kasus besar dan sering bernuansa politis.

Saat ini Presiden Joko Widodo memang telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018, akan tetapi itu hanya sebatas mengenai penanganan sampah laut, yang dalam rencana aksi nasional (RAN) pemerintah menargetkan mengurangi sampah plastik laut hingga 70 persen pada 2025. Sedangkan, sampah plastik yang berada di daratan atau lingkungan perumahan kita belum menjadi perhatian serius. Kalaupun ada paling hanya bersifat regional. Greget menyikapi sampah plastik, tiap daerah berbeda. Akibatnya, produksi sampah kian detik bertambah, sedangkan sikap kita sudah puluhan tahun belum juga berubah. Padahal, bahaya sampah plastik secara laten terus mengancam. Dengan demikian perhatian kita, sekaligus penanganannya, terhadap sampah plastik ini memang harus masif, tidak saja oleh negara tetapi juga seluruh masyarakat dari kota sampai desa, dari tingat pusat sampai RT. Para guru, para khatib dan para tokoh agama, serta media baik cetak maupun elektronik, perlu dengan lantang mengumandangkan bahaya laten sampah plastik ini. Keterlibatan semua lapisan masyarakat memang amatlah diperlukan. Akan tetapi, harus ada yang menjadi penggerak, yaitu pemerintah dari pusat sampai tingkat rukun tetangga (RT). Dan, agaknya memang sudah waktunya dicanangkan dari sekarang “Ayo Mulai Perang Melawan Sampah Plastik”.

*) Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Lumajang Kelas I A.

SEORANG – Dalam posisi membonceng di atas sepeda motor, seseorang berseragam dinas itu membawa sekantong plastik ukuran sedang. Kendaraan yang ditumpangi bersama laki-laki pengantarnya seolah ikut meramaikan lalu lintas pagi. Maklumlah, pagi itu bukan hari libur. Sehingga, dapat dipastikan lalu lintas pagi hari itu sangat ramai.

Saya yang kebetulan berkendara tepat di belakangnya dibuat sangat terkejut. Sang ibu tadi tiba-tiba melemparkan kantong plastik beserta isinya yang telah terikat itu ke sungai Bedadung. Byuur! Dalam sekejap, kantong –yang isinya dapat saya pastikan sampah itupun– hanyut membaur bersama ‘penghuni’ sungai lainnya.

Saya dapat memastikan bahwa orang yang melempar kantong plastik tadi bukanlah orang awam. Seragam yang dikenakannya meyakinkan saya, bahwa dia seorang pegawai negeri dan pasti seorang yang berpendidikan. Tetapi, tindakannya melempar sekantong plastik di sungai, dengan tanpa beban dan rasa bersalah, sangatlah tidak terpuji sekaligus menarik perhatian saya. Saya jadi teringat sampah-sampah plastik yang sering berserakan di pintu-pintu air sungai dan selokan atau di tempat-tempat sampah lainnya.

Dari fenomena tersebut, setidaknya ada tiga hal yang patut kita garis bawahi. Pertama, banyak orang belum mengerti ‘bahaya’ sampah plastik. Kedua, kurangnya kepedulian dari masyarakat menyikapi sampah plastik. Ketiga, belum ada kebijakan yang jelas dan praktis penanganan sampah plastik dari para pembuat kebijakan.

Indonesia memiliki luas wilayah sebesar 5.455.675 km2, dan 3.544.744 km2 di antaranya atau 2/3 wilayahnya adalah lautan, 1/3 sisanya adalah daratan. Karena mempunyai wilayah yang luas, Indonesia berbatasan dengan banyak negara, walaupun mayoritas negara-negara tersebut adalah anggota ASEAN. Dengan wilayah seluas itu dan dengan letak geografis yang demikian strategis ini, Indonesia selain memiliki keragaman suku bangsa dan budaya juga mempunyai keragaman tumbuhan dan biota air, baik darat maupun laut.

Sebagaimana ditulis kompasiana.com, dalam dunia bahari, Indonesia memiliki taman laut yang sangat indah seperti di Bunaken, Wakatobi, dan Raja Ampat yang merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia. Kawasan Raja Ampat memiliki lebih dari 1.070 jenis spesies ikan, 600 jenis spesies terumbu karang, dan 66 jenis moluska. Sedangkan, Kepulauan Karibia, sebagaiman dikutip oleh dunialaut.com, hanya memiliki tidak lebih dari 70 jenis terumbu karang. Bukankah itu sebuah fakta yang sangat mengagumkan? Karena itu, tak heran Raja Ampat menjadi surga bagi para diver dan menjadi salah satu spot diving kelas dunia yang paling diminati.

Selain kawasan Raja Ampat, Indonesia juga memiliki Laut Sulawesi, tempat ditemukannya mahluk-mahluk laut yang belum ditemukan sebelumnya, termasuk ditemukannya ikan Coelacanth yang diduga sudah punah 65 juta tahun lalu. Sedangkan di Danau Kakaban, Perairan Berau, Kalimantan Timur terdapat ribuan ubur-ubur tanpa sengat, Martigias papua, sehingga Anda dapat merasakan sensasi berenang dengan ubur-ubur. Di dunia ini hanya ada dua habitat ubur-ubur tersebut, yakni di Indonesia dan Republik Palau di Samudra Pasifik.

Dari dunia bawah laut bergeser sedikit ke jajaran pantai yang membentengi kepulauan Nusantara. Indonesia memiliki pantai dengan karakter yang sangat beragam, mulai pantai dengan pasir putih, pasir cokelat, pasir hitam, hingga pantai berpasir pink seperti di Pink Beach Pulau Komodo. Selain pasir warna-warni, ombak di pesisir pantai Indonesia sangatlah beragam. Ada pantai yang sangat tenang tanpa ombak hingga terlihat seperti danau, atau pantai dengan tujuh gulungan ombak setinggi hampir 6 meter sehingga dikenal dengan nama “The Seven Giant Waves Wonder”. Pantai yang menjadi surga para peselancar tersebut adalah Pantai Plengkung di Banyuwangi yang juga disebut dengan nama “G-land”.

Tetapi sadarkah kita di balik itu? Sebagaimana sering kita saksikan via media, bahwa Indonesia adalah produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia. Lantas apa dampaknya? Sebagaimana telah dimuat oleh Liputan6.com (18/11/18), sekitar pukul 16.00 WITA, seekor ikan paus (Physeter macrocephalus) ditemukan warga terdampar di sekitar Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Paus sepanjang 9,5 meter dan memiliki lebar 1,85 meter itu ditemukan dalam kondisi sudah jadi bangkai. Saat ditemukan, paus malang itu dikelilingi sampah plastik dan potongan-potongan kayu. Saat perut paus dibelah, ternyata di dalamnya juga berisi beragam sampah plastik seberat kurang lebih enam kilogram. Sampah-sampah dalam perut paus itu terdiri atas plastik keras 19 buah seberat 140 gram, botol plastik 4 buah 150 gram, kantong plastik 25 buah 260 gram. Ada pula sepasang sandal jepit seberat 270 gram hingga tali rafia 3,6 kilogram dan gelas-gelas plastik.

Penemuan tersebut baru terungkap pada keesokan harinya, ketika salah seorang warga mengunggah foto paus malang tersebut di salah satu akun media sosial miliknya. Sejak itu, kabar bangkai mamalia laut yang menelan plastik menjadi viral dan memunculkan keprihatinan banyak pihak.

Sudah barang tentu, kasus tersebut hanyalah contoh. Kalau di daerah lain tidak diberitaan bukan berarati tidak ada kasus. Keterbatasan akseslah yang menjadi penyebabnya sehingga banyak kasus ‘musibah’ lingkungan akibat sampah plastik tidak kita ketahui. Hal demikian juga menjadi keprihatinan Greenpeace Indonesia yang mengatakan, bahwa kasus di Wakatobi hanyalah salah satu contoh kasus dari sejumlah peristiwa pencemaran akibat sampah plastik di lautan.

Sedemikian parahnya keberadaan sampah plastik ini kiranya kita sedikit tahu mengapa bisa terjadi. Selain praktis plastik kini memang sudah menjadi kebutuhan primer lalu lintas kehidupan manusia sehari-hari dari desa sampai kota-kota besar. Tetapi kepraktisan plastik dari segi manfaat tersebut, juga sebagai perusak lingkungan paling praktis pula. Contoh di atas hanya menjadi sekelumit contoh betapa ganasnya dampak plastik. Jangka panjang bukan tidak mustahil juga akan menghancurkan lingkungan hidup yang menjadi ‘infrastruktur’ kelangsungan makhluk hidup, termasuk manusia.

Banyaknya orang berpendidikan yang –mestinya menjadi contoh– akibat kurang peduli terhadap bahaya sampah plastik juga semakin memperparah luapan sampah plastik. Bahkan, ada kecenderungan semakin mapan kehidupan seseorang semakin meningkat pula penggunaan plastik dan tentunya semakin tinggi pula dalam memproduksi sampah plastik. Kita memang terbiasa melihat tempat-tempat pembuangan sampah yang lebih teratur di perumahan-perumahan elit. Akan tetapi, pada saat itu pula kita menyaksikan sampah yang teronggok di tempat-tempat sampah itu diangkut secara campur aduk oleh petugas sampah akibat tidak ada pemilahan yang jelas antara sampah organik dan yang bukan organik.

Di daerah tertentu juga sudah ada peringatan-peringatan tertulis larangan membuang sampah di tepi-tepi bantaran sungai dan selokan-selokan. Akan tetapi, peringatan tersebut masih sebatas peringtan yang belum ada evaluasi yang jelas sejauh mana efektivitasnya. Faktanya, di tempat-tempat aliran sungai yang sama yang tidak dipasang rambu, masih saja ada orang yang membuah sumpah di sungai seenaknya. Mengapa? Selama ini peringatan-peringatan tersebut belum diikuti oleh sanksi yang jelas. Padahal, adanya sanksi yang jelas sekaligus tegas sekalipun tidak terlalu berat, secara psikososial, pasti akan memberi efek jera kepada masyarakat. Sanksi pidana dalam UU Lingkungan Hidup selama ini sering ditegakkan hanya pada kasus-kasus besar dan sering bernuansa politis.

Saat ini Presiden Joko Widodo memang telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018, akan tetapi itu hanya sebatas mengenai penanganan sampah laut, yang dalam rencana aksi nasional (RAN) pemerintah menargetkan mengurangi sampah plastik laut hingga 70 persen pada 2025. Sedangkan, sampah plastik yang berada di daratan atau lingkungan perumahan kita belum menjadi perhatian serius. Kalaupun ada paling hanya bersifat regional. Greget menyikapi sampah plastik, tiap daerah berbeda. Akibatnya, produksi sampah kian detik bertambah, sedangkan sikap kita sudah puluhan tahun belum juga berubah. Padahal, bahaya sampah plastik secara laten terus mengancam. Dengan demikian perhatian kita, sekaligus penanganannya, terhadap sampah plastik ini memang harus masif, tidak saja oleh negara tetapi juga seluruh masyarakat dari kota sampai desa, dari tingat pusat sampai RT. Para guru, para khatib dan para tokoh agama, serta media baik cetak maupun elektronik, perlu dengan lantang mengumandangkan bahaya laten sampah plastik ini. Keterlibatan semua lapisan masyarakat memang amatlah diperlukan. Akan tetapi, harus ada yang menjadi penggerak, yaitu pemerintah dari pusat sampai tingkat rukun tetangga (RT). Dan, agaknya memang sudah waktunya dicanangkan dari sekarang “Ayo Mulai Perang Melawan Sampah Plastik”.

*) Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Lumajang Kelas I A.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/