alexametrics
22.4 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Usul Penghapusan Paslon Petahana

Mobile_AP_Rectangle 1

Kalau petahana berdalih keikutsertaan pada pemilihan untuk periode keduanya adalah untuk menyempurnakan PR yang belum selesai, maka yakinkan dia bahwa pasti tidak akan sempurna sampai kapanpun. Ingat, “Idza tammal amru badaa naqshuhu; yang telah selesai dikerjakan, akan tampak kekurangannya.” Lagi pula, siapakah manusia paripurna yang bisa melaksanakan tugas secara sempurna?

Jika dia masih ngeyel dengan membandingkan masa kepemimpinan pemerintahan di negara maju, Amerika Serikat misalnya, yang membolehkan dua periode kepemimpinan, maka jelaskan kepadanya bahwa rata-rata pejabat politik di sana tergolong “the have”, yang karenanya mereka tidak begitu mengandalkan gaji dan tunjangan tetek bengek lainnya. Atau jika tidak, mereka memang berangkat dari latar belakang ideologi dan politik-sosial yang sudah mendarah daging pada diri mereka, sehingga mereka tidak mengharap “apa-apa” dari jabatan politiknya. Bahkan, mereka menjadi donatur untuk berbagai organisasi dan yayasan sosial. Maka, bandingkan dan nilailah secara jujur tentang banyaknya pejabat politik di negeri kita yang terjerat kasus korupsi dan suap-menyuap.

Dan ketiga, dengan periode sekali jabatan tentu akan menjadi pertaruhan seumur hidup bagi pejabat yang bersangkutan. Apakah dia ingin meninggalkan “sunnatan hasanatan” (nama baik, nama harum, jejaknya bisa diikuti) atau malah menanggung “beban sejarah” selama hidupnya selepas menjabat. Keberhasilan sang pemimpin akan terus dikenang jika rakyat merasakan signifikansi kesejahteraan selama kepemimpinannya. Atau malah sebaliknya, dia akan dicatat dengan “tinta merah” dalam lembaran sejarah bangsa ini jika ternyata selama memimpin dia hanya bisa menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok politiknya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Akhirnya, bagi para penguasa di level apapun, ingatlah pesan Ali bin Abi Thalib, “Seseorang yang memperoleh kekuasaan sering menindas dan berbuat sewenang-wenang”, karena “Kekuasaan itu syahwat. Syahwat itu seperti ular, halus dijamahnya tetapi berbisa.”

*) Penulis adalah pembina Majalah Pendidikan “Al-Mashalih” MAN Bondowoso dan pembina ekskul KIR/literasi “Sabha Pena” MAN Bondowoso.

- Advertisement -

Kalau petahana berdalih keikutsertaan pada pemilihan untuk periode keduanya adalah untuk menyempurnakan PR yang belum selesai, maka yakinkan dia bahwa pasti tidak akan sempurna sampai kapanpun. Ingat, “Idza tammal amru badaa naqshuhu; yang telah selesai dikerjakan, akan tampak kekurangannya.” Lagi pula, siapakah manusia paripurna yang bisa melaksanakan tugas secara sempurna?

Jika dia masih ngeyel dengan membandingkan masa kepemimpinan pemerintahan di negara maju, Amerika Serikat misalnya, yang membolehkan dua periode kepemimpinan, maka jelaskan kepadanya bahwa rata-rata pejabat politik di sana tergolong “the have”, yang karenanya mereka tidak begitu mengandalkan gaji dan tunjangan tetek bengek lainnya. Atau jika tidak, mereka memang berangkat dari latar belakang ideologi dan politik-sosial yang sudah mendarah daging pada diri mereka, sehingga mereka tidak mengharap “apa-apa” dari jabatan politiknya. Bahkan, mereka menjadi donatur untuk berbagai organisasi dan yayasan sosial. Maka, bandingkan dan nilailah secara jujur tentang banyaknya pejabat politik di negeri kita yang terjerat kasus korupsi dan suap-menyuap.

Dan ketiga, dengan periode sekali jabatan tentu akan menjadi pertaruhan seumur hidup bagi pejabat yang bersangkutan. Apakah dia ingin meninggalkan “sunnatan hasanatan” (nama baik, nama harum, jejaknya bisa diikuti) atau malah menanggung “beban sejarah” selama hidupnya selepas menjabat. Keberhasilan sang pemimpin akan terus dikenang jika rakyat merasakan signifikansi kesejahteraan selama kepemimpinannya. Atau malah sebaliknya, dia akan dicatat dengan “tinta merah” dalam lembaran sejarah bangsa ini jika ternyata selama memimpin dia hanya bisa menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok politiknya.

Akhirnya, bagi para penguasa di level apapun, ingatlah pesan Ali bin Abi Thalib, “Seseorang yang memperoleh kekuasaan sering menindas dan berbuat sewenang-wenang”, karena “Kekuasaan itu syahwat. Syahwat itu seperti ular, halus dijamahnya tetapi berbisa.”

*) Penulis adalah pembina Majalah Pendidikan “Al-Mashalih” MAN Bondowoso dan pembina ekskul KIR/literasi “Sabha Pena” MAN Bondowoso.

Kalau petahana berdalih keikutsertaan pada pemilihan untuk periode keduanya adalah untuk menyempurnakan PR yang belum selesai, maka yakinkan dia bahwa pasti tidak akan sempurna sampai kapanpun. Ingat, “Idza tammal amru badaa naqshuhu; yang telah selesai dikerjakan, akan tampak kekurangannya.” Lagi pula, siapakah manusia paripurna yang bisa melaksanakan tugas secara sempurna?

Jika dia masih ngeyel dengan membandingkan masa kepemimpinan pemerintahan di negara maju, Amerika Serikat misalnya, yang membolehkan dua periode kepemimpinan, maka jelaskan kepadanya bahwa rata-rata pejabat politik di sana tergolong “the have”, yang karenanya mereka tidak begitu mengandalkan gaji dan tunjangan tetek bengek lainnya. Atau jika tidak, mereka memang berangkat dari latar belakang ideologi dan politik-sosial yang sudah mendarah daging pada diri mereka, sehingga mereka tidak mengharap “apa-apa” dari jabatan politiknya. Bahkan, mereka menjadi donatur untuk berbagai organisasi dan yayasan sosial. Maka, bandingkan dan nilailah secara jujur tentang banyaknya pejabat politik di negeri kita yang terjerat kasus korupsi dan suap-menyuap.

Dan ketiga, dengan periode sekali jabatan tentu akan menjadi pertaruhan seumur hidup bagi pejabat yang bersangkutan. Apakah dia ingin meninggalkan “sunnatan hasanatan” (nama baik, nama harum, jejaknya bisa diikuti) atau malah menanggung “beban sejarah” selama hidupnya selepas menjabat. Keberhasilan sang pemimpin akan terus dikenang jika rakyat merasakan signifikansi kesejahteraan selama kepemimpinannya. Atau malah sebaliknya, dia akan dicatat dengan “tinta merah” dalam lembaran sejarah bangsa ini jika ternyata selama memimpin dia hanya bisa menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok politiknya.

Akhirnya, bagi para penguasa di level apapun, ingatlah pesan Ali bin Abi Thalib, “Seseorang yang memperoleh kekuasaan sering menindas dan berbuat sewenang-wenang”, karena “Kekuasaan itu syahwat. Syahwat itu seperti ular, halus dijamahnya tetapi berbisa.”

*) Penulis adalah pembina Majalah Pendidikan “Al-Mashalih” MAN Bondowoso dan pembina ekskul KIR/literasi “Sabha Pena” MAN Bondowoso.

Previous articleMinggat Lagi
Next articleTerbawa hingga ke Muara

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/