alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Menjaga Pancasila dengan Iktikad Baik

Mobile_AP_Rectangle 1

Tanggal 1 Juni tertulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ketika istilah Pancasila dikemukakan oleh Ir. Soekarno. 1 Juni 2022 kita memperingati Hari Lahir Pancasila dengan libur nasional sebagai bentuk handarbeni peristiwa bersejarah dalam perjalanan kita berbangsa dan bernegara. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah kalimat sakti yang pernah disampaikan oleh founding fathers kita Ir. Soekarno sang Proklamator. Kalimat itu maknanya sangat dalam. Bahwa sejarah bangsa tidak boleh dilupakan dan sejarah bangsa harus selalu terpatri di lubuk hati rakyat Indonesia. Bangsa yang besar haruslah mampu mengambil hikmah di setiap titik sejarahnya. Suatu bangsa akan dapat kehilangan jati dirinya jika melupakan sejarah bangsanya.

Apakah dengan berlibur merupakan salah satu cara untuk mengenang dan merawat Pancasila? Stigma demikian yang harus selalu digali sehingga substansi menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila akan mencapai arah tujuannya. Jika pemahaman terhadap sejarah menjadi dangkal karena casing-nya saja yang ditangkap oleh masyarakat dan generasi muda khususnya, entah seperti apa di masa mendatang pemahaman generasi muda kita terhadap sejarah bangsanya. Pada hal Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa (John Dalberg-Acton).

Pancasila sudah final menjadi ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ideologi ini harus mampu menjadi “roh” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus mampu menjadi panduan ”cara berpikir dan bertindak” segenap elemen bangsa. Sehingga menjaga Pancasila dengan iktikad yang baik sangatlah penting. Perlu disadari bahwa siklus ideology berada pada 3 segmen yaitu: 1) kemunculan (emergence), 2) Kemunduran (decline), dan 3) Kebangkitan kembali suatu ideologi (resurgence of ideologies).

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengenang 1 Juni artinya meneguhkan pikiran atas segmen kemunculan “Pancasila” yang saat itu merupakan magnet luar biasa sehingga mampu mengantar pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Maka memperingati Hari Lahir Pancasila haruslah dimaknai menjaga dan merawat nilai-nilai Ideologi Pancasila sehingga tidak hilang keindonesiaan kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Jika peringatan 1 Juni setiap tahun substansinya dapat ditangkap dengan baik oleh segenap elemen bangsa maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu akan terwujud menjadi karakter bangsa yang unggul dan berkualitas. Karakter bangsa yang unggul dan berkualitas akan mengantar terwujudnya pencapaian cita-cita nasional.

Cita-cita nasional adalah Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan Makmur (alinea ke-2 UUD Negara RI 1945). Kondisi adil dan makmur bermakna adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan akan terwujud jika kondisi ketahanan nasionalnya kuat. Pancasila sebagai landasan ideal dalam mewujudkan ketahanan nasional sangatlah strategis perannya. Nilai-nilai Pancasila mengandung kebulatan yang utuh, mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan dan harmoni. Pancasila mengandung nilai kedaulatan rakyat (demokrasi). Hal itulah menjadikan Pancasila sebagai pondasi untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara , serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

Menjaga Pancasila artinya merawat nilai-nilai luhurnya. Menjaga dan merawat ideologi Pancasila haruslah dengan iktikad baik agar ideologi Pancasila kokoh. Pancasila sebagai ideologi akan kokoh jika mengandung 3 dimensi yaitu : realitas, idealisme dan fleksibilitas. Dimensi realitas maksudnya bahwa ideologi mengandung nilai-nilai hidup yang terkandung di dalam bangsa. Dimensi idealisme adalah ideologi memberikan harapan kepada pelbagai golongan yang ada di dalam bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih cerah. Sementara dimensi fleksibilitas dimaksudkan ideologi memiliki kemampuan untuk mewarnai proses pengembangan masyarakat dan menemukan pengertian-pengertian baru terhadap nilai-nilai dasar. Menerjemahkan 3 dimensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari haruslah menjadi semangat setiap kita memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

- Advertisement -

Tanggal 1 Juni tertulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ketika istilah Pancasila dikemukakan oleh Ir. Soekarno. 1 Juni 2022 kita memperingati Hari Lahir Pancasila dengan libur nasional sebagai bentuk handarbeni peristiwa bersejarah dalam perjalanan kita berbangsa dan bernegara. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah kalimat sakti yang pernah disampaikan oleh founding fathers kita Ir. Soekarno sang Proklamator. Kalimat itu maknanya sangat dalam. Bahwa sejarah bangsa tidak boleh dilupakan dan sejarah bangsa harus selalu terpatri di lubuk hati rakyat Indonesia. Bangsa yang besar haruslah mampu mengambil hikmah di setiap titik sejarahnya. Suatu bangsa akan dapat kehilangan jati dirinya jika melupakan sejarah bangsanya.

Apakah dengan berlibur merupakan salah satu cara untuk mengenang dan merawat Pancasila? Stigma demikian yang harus selalu digali sehingga substansi menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila akan mencapai arah tujuannya. Jika pemahaman terhadap sejarah menjadi dangkal karena casing-nya saja yang ditangkap oleh masyarakat dan generasi muda khususnya, entah seperti apa di masa mendatang pemahaman generasi muda kita terhadap sejarah bangsanya. Pada hal Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa (John Dalberg-Acton).

Pancasila sudah final menjadi ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ideologi ini harus mampu menjadi “roh” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus mampu menjadi panduan ”cara berpikir dan bertindak” segenap elemen bangsa. Sehingga menjaga Pancasila dengan iktikad yang baik sangatlah penting. Perlu disadari bahwa siklus ideology berada pada 3 segmen yaitu: 1) kemunculan (emergence), 2) Kemunduran (decline), dan 3) Kebangkitan kembali suatu ideologi (resurgence of ideologies).

Mengenang 1 Juni artinya meneguhkan pikiran atas segmen kemunculan “Pancasila” yang saat itu merupakan magnet luar biasa sehingga mampu mengantar pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Maka memperingati Hari Lahir Pancasila haruslah dimaknai menjaga dan merawat nilai-nilai Ideologi Pancasila sehingga tidak hilang keindonesiaan kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Jika peringatan 1 Juni setiap tahun substansinya dapat ditangkap dengan baik oleh segenap elemen bangsa maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu akan terwujud menjadi karakter bangsa yang unggul dan berkualitas. Karakter bangsa yang unggul dan berkualitas akan mengantar terwujudnya pencapaian cita-cita nasional.

Cita-cita nasional adalah Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan Makmur (alinea ke-2 UUD Negara RI 1945). Kondisi adil dan makmur bermakna adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan akan terwujud jika kondisi ketahanan nasionalnya kuat. Pancasila sebagai landasan ideal dalam mewujudkan ketahanan nasional sangatlah strategis perannya. Nilai-nilai Pancasila mengandung kebulatan yang utuh, mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan dan harmoni. Pancasila mengandung nilai kedaulatan rakyat (demokrasi). Hal itulah menjadikan Pancasila sebagai pondasi untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara , serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

Menjaga Pancasila artinya merawat nilai-nilai luhurnya. Menjaga dan merawat ideologi Pancasila haruslah dengan iktikad baik agar ideologi Pancasila kokoh. Pancasila sebagai ideologi akan kokoh jika mengandung 3 dimensi yaitu : realitas, idealisme dan fleksibilitas. Dimensi realitas maksudnya bahwa ideologi mengandung nilai-nilai hidup yang terkandung di dalam bangsa. Dimensi idealisme adalah ideologi memberikan harapan kepada pelbagai golongan yang ada di dalam bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih cerah. Sementara dimensi fleksibilitas dimaksudkan ideologi memiliki kemampuan untuk mewarnai proses pengembangan masyarakat dan menemukan pengertian-pengertian baru terhadap nilai-nilai dasar. Menerjemahkan 3 dimensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari haruslah menjadi semangat setiap kita memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

Tanggal 1 Juni tertulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ketika istilah Pancasila dikemukakan oleh Ir. Soekarno. 1 Juni 2022 kita memperingati Hari Lahir Pancasila dengan libur nasional sebagai bentuk handarbeni peristiwa bersejarah dalam perjalanan kita berbangsa dan bernegara. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” adalah kalimat sakti yang pernah disampaikan oleh founding fathers kita Ir. Soekarno sang Proklamator. Kalimat itu maknanya sangat dalam. Bahwa sejarah bangsa tidak boleh dilupakan dan sejarah bangsa harus selalu terpatri di lubuk hati rakyat Indonesia. Bangsa yang besar haruslah mampu mengambil hikmah di setiap titik sejarahnya. Suatu bangsa akan dapat kehilangan jati dirinya jika melupakan sejarah bangsanya.

Apakah dengan berlibur merupakan salah satu cara untuk mengenang dan merawat Pancasila? Stigma demikian yang harus selalu digali sehingga substansi menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila akan mencapai arah tujuannya. Jika pemahaman terhadap sejarah menjadi dangkal karena casing-nya saja yang ditangkap oleh masyarakat dan generasi muda khususnya, entah seperti apa di masa mendatang pemahaman generasi muda kita terhadap sejarah bangsanya. Pada hal Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa (John Dalberg-Acton).

Pancasila sudah final menjadi ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ideologi ini harus mampu menjadi “roh” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila harus mampu menjadi panduan ”cara berpikir dan bertindak” segenap elemen bangsa. Sehingga menjaga Pancasila dengan iktikad yang baik sangatlah penting. Perlu disadari bahwa siklus ideology berada pada 3 segmen yaitu: 1) kemunculan (emergence), 2) Kemunduran (decline), dan 3) Kebangkitan kembali suatu ideologi (resurgence of ideologies).

Mengenang 1 Juni artinya meneguhkan pikiran atas segmen kemunculan “Pancasila” yang saat itu merupakan magnet luar biasa sehingga mampu mengantar pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Maka memperingati Hari Lahir Pancasila haruslah dimaknai menjaga dan merawat nilai-nilai Ideologi Pancasila sehingga tidak hilang keindonesiaan kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Jika peringatan 1 Juni setiap tahun substansinya dapat ditangkap dengan baik oleh segenap elemen bangsa maka nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu akan terwujud menjadi karakter bangsa yang unggul dan berkualitas. Karakter bangsa yang unggul dan berkualitas akan mengantar terwujudnya pencapaian cita-cita nasional.

Cita-cita nasional adalah Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan Makmur (alinea ke-2 UUD Negara RI 1945). Kondisi adil dan makmur bermakna adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan akan terwujud jika kondisi ketahanan nasionalnya kuat. Pancasila sebagai landasan ideal dalam mewujudkan ketahanan nasional sangatlah strategis perannya. Nilai-nilai Pancasila mengandung kebulatan yang utuh, mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan dan harmoni. Pancasila mengandung nilai kedaulatan rakyat (demokrasi). Hal itulah menjadikan Pancasila sebagai pondasi untuk mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara , serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

Menjaga Pancasila artinya merawat nilai-nilai luhurnya. Menjaga dan merawat ideologi Pancasila haruslah dengan iktikad baik agar ideologi Pancasila kokoh. Pancasila sebagai ideologi akan kokoh jika mengandung 3 dimensi yaitu : realitas, idealisme dan fleksibilitas. Dimensi realitas maksudnya bahwa ideologi mengandung nilai-nilai hidup yang terkandung di dalam bangsa. Dimensi idealisme adalah ideologi memberikan harapan kepada pelbagai golongan yang ada di dalam bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih cerah. Sementara dimensi fleksibilitas dimaksudkan ideologi memiliki kemampuan untuk mewarnai proses pengembangan masyarakat dan menemukan pengertian-pengertian baru terhadap nilai-nilai dasar. Menerjemahkan 3 dimensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari haruslah menjadi semangat setiap kita memperingati 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/