alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pil Koplo di Sekolah, Salah Siapa?

Mobile_AP_Rectangle 1

Segar di ingatan kita mengenai fenomena peredaran pil koplo di salah satu lingkungan sekolah menengah di Kabupaten Jember yang melibatkan lebih dari 20 siswa. Tentu hal tersebut mencengangkan banyak pihak. Pertama, karena kejadian ini terjadi di lingkungan sekolah. Kedua, karena pelakunya masih tergolong usia remaja.

Hubungan antara remaja dan fenomena penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau penyimpangan sosial lainnya sudah menjadi rahasia umum. Tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah tersebut saja. Masyarakat menyebutnya sebagai fenomena gunung es. Di mana yang tidak terlaporkan atau tercatat lebih besar dibandingkan yang kita ketahui. Bisa jadi, pergerakan peredaran pil koplo di kalangan pelajar saat ini sangatlah masif dan telah menyasar ke banyak anak sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Jember.

Sebenarnya sudah banyak penelitian yang menjelaskan penyebab dari munculnya fenomena-fenomena kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Kartini Kartono, seorang ahli dalam psikologi sosial, menyebutkan bahwa hal-hal seperti penggunaan obat-obat terlarang, pembentukan geng-geng yang melakukan kekerasan, perilaku kriminalitas seperti mencuri, perjudian, prostitusi, merupakan wujud dari perilaku delinkuen atau dalam kajian akademis masuk ke dalam kategori perilaku juvenile delinquency. Juvenile delinquency adalah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan kenakalan anak-anak muda yang dimasukkan ke dalam perilaku patologis atau menyimpang secara sosial pada anak-anak dan remaja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penyebab anak-anak melakukan perilaku yang menyimpang meliputi banyak hal, dan faktor-faktor tersebut tidaklah berdiri sendiri. Setiap faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal di sekitar anak saling aktif berinteraksi membentuk perilaku kenakalan remaja.

Setidaknya ada dua faktor yang secara teoretis memengaruhi anak melakukan perilaku menyimpang. Yang pertama adalah penyebab biologis di mana anak atau remaja memiliki bawaan biologis berupa kombinasi gen yang cenderung memunculkan penyimpangan tingkah laku. Contohnya pada seseorang tertentu memiliki kecenderungan perilaku agresi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, karena mendapat warisan genetis dari orang tua yang agresif. Kemudian, sifat individu seperti temperamen seyogianya juga diturunkan dari orang tua kepada anak meskipun lingkungan juga berperan besar dalam perkembangan ke depannya.

Faktor kedua adalah faktor lingkungan yang terdiri atas berbagai macam hal yang berada di sekitar anak seperti keluarga, teman sebaya, lingkungan sosial, dan budaya. Secara psikologis, anak yang masuk ke dalam usia remaja berada dalam fase pencarian jati diri di mana peran teman sebaya atau kelompok berperan besar. Seseorang yang melakukan kenakalan remaja dapat dipengaruhi oleh kekuatan situasional yang muncul sebab stimulus sosial dan tekanan lingkungan. Anak-anak normal dapat memunculkan perilaku delinkuen sebagai akibat atau reaksi terhadap pengaruh eksternal yang memunculkan sifatnya. Bentuk konkret dari adanya pengaruh ini adalah motivasi untuk diakui oleh teman atau dianggap hebat oleh rekan sebayanya. Pengakuan tersebut memberikan rasa penerimaan bagi diri remaja.

- Advertisement -

Segar di ingatan kita mengenai fenomena peredaran pil koplo di salah satu lingkungan sekolah menengah di Kabupaten Jember yang melibatkan lebih dari 20 siswa. Tentu hal tersebut mencengangkan banyak pihak. Pertama, karena kejadian ini terjadi di lingkungan sekolah. Kedua, karena pelakunya masih tergolong usia remaja.

Hubungan antara remaja dan fenomena penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau penyimpangan sosial lainnya sudah menjadi rahasia umum. Tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah tersebut saja. Masyarakat menyebutnya sebagai fenomena gunung es. Di mana yang tidak terlaporkan atau tercatat lebih besar dibandingkan yang kita ketahui. Bisa jadi, pergerakan peredaran pil koplo di kalangan pelajar saat ini sangatlah masif dan telah menyasar ke banyak anak sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Jember.

Sebenarnya sudah banyak penelitian yang menjelaskan penyebab dari munculnya fenomena-fenomena kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Kartini Kartono, seorang ahli dalam psikologi sosial, menyebutkan bahwa hal-hal seperti penggunaan obat-obat terlarang, pembentukan geng-geng yang melakukan kekerasan, perilaku kriminalitas seperti mencuri, perjudian, prostitusi, merupakan wujud dari perilaku delinkuen atau dalam kajian akademis masuk ke dalam kategori perilaku juvenile delinquency. Juvenile delinquency adalah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan kenakalan anak-anak muda yang dimasukkan ke dalam perilaku patologis atau menyimpang secara sosial pada anak-anak dan remaja.

Penyebab anak-anak melakukan perilaku yang menyimpang meliputi banyak hal, dan faktor-faktor tersebut tidaklah berdiri sendiri. Setiap faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal di sekitar anak saling aktif berinteraksi membentuk perilaku kenakalan remaja.

Setidaknya ada dua faktor yang secara teoretis memengaruhi anak melakukan perilaku menyimpang. Yang pertama adalah penyebab biologis di mana anak atau remaja memiliki bawaan biologis berupa kombinasi gen yang cenderung memunculkan penyimpangan tingkah laku. Contohnya pada seseorang tertentu memiliki kecenderungan perilaku agresi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, karena mendapat warisan genetis dari orang tua yang agresif. Kemudian, sifat individu seperti temperamen seyogianya juga diturunkan dari orang tua kepada anak meskipun lingkungan juga berperan besar dalam perkembangan ke depannya.

Faktor kedua adalah faktor lingkungan yang terdiri atas berbagai macam hal yang berada di sekitar anak seperti keluarga, teman sebaya, lingkungan sosial, dan budaya. Secara psikologis, anak yang masuk ke dalam usia remaja berada dalam fase pencarian jati diri di mana peran teman sebaya atau kelompok berperan besar. Seseorang yang melakukan kenakalan remaja dapat dipengaruhi oleh kekuatan situasional yang muncul sebab stimulus sosial dan tekanan lingkungan. Anak-anak normal dapat memunculkan perilaku delinkuen sebagai akibat atau reaksi terhadap pengaruh eksternal yang memunculkan sifatnya. Bentuk konkret dari adanya pengaruh ini adalah motivasi untuk diakui oleh teman atau dianggap hebat oleh rekan sebayanya. Pengakuan tersebut memberikan rasa penerimaan bagi diri remaja.

Segar di ingatan kita mengenai fenomena peredaran pil koplo di salah satu lingkungan sekolah menengah di Kabupaten Jember yang melibatkan lebih dari 20 siswa. Tentu hal tersebut mencengangkan banyak pihak. Pertama, karena kejadian ini terjadi di lingkungan sekolah. Kedua, karena pelakunya masih tergolong usia remaja.

Hubungan antara remaja dan fenomena penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau penyimpangan sosial lainnya sudah menjadi rahasia umum. Tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah tersebut saja. Masyarakat menyebutnya sebagai fenomena gunung es. Di mana yang tidak terlaporkan atau tercatat lebih besar dibandingkan yang kita ketahui. Bisa jadi, pergerakan peredaran pil koplo di kalangan pelajar saat ini sangatlah masif dan telah menyasar ke banyak anak sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Jember.

Sebenarnya sudah banyak penelitian yang menjelaskan penyebab dari munculnya fenomena-fenomena kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Kartini Kartono, seorang ahli dalam psikologi sosial, menyebutkan bahwa hal-hal seperti penggunaan obat-obat terlarang, pembentukan geng-geng yang melakukan kekerasan, perilaku kriminalitas seperti mencuri, perjudian, prostitusi, merupakan wujud dari perilaku delinkuen atau dalam kajian akademis masuk ke dalam kategori perilaku juvenile delinquency. Juvenile delinquency adalah perilaku jahat (dursila) atau kejahatan kenakalan anak-anak muda yang dimasukkan ke dalam perilaku patologis atau menyimpang secara sosial pada anak-anak dan remaja.

Penyebab anak-anak melakukan perilaku yang menyimpang meliputi banyak hal, dan faktor-faktor tersebut tidaklah berdiri sendiri. Setiap faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal di sekitar anak saling aktif berinteraksi membentuk perilaku kenakalan remaja.

Setidaknya ada dua faktor yang secara teoretis memengaruhi anak melakukan perilaku menyimpang. Yang pertama adalah penyebab biologis di mana anak atau remaja memiliki bawaan biologis berupa kombinasi gen yang cenderung memunculkan penyimpangan tingkah laku. Contohnya pada seseorang tertentu memiliki kecenderungan perilaku agresi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, karena mendapat warisan genetis dari orang tua yang agresif. Kemudian, sifat individu seperti temperamen seyogianya juga diturunkan dari orang tua kepada anak meskipun lingkungan juga berperan besar dalam perkembangan ke depannya.

Faktor kedua adalah faktor lingkungan yang terdiri atas berbagai macam hal yang berada di sekitar anak seperti keluarga, teman sebaya, lingkungan sosial, dan budaya. Secara psikologis, anak yang masuk ke dalam usia remaja berada dalam fase pencarian jati diri di mana peran teman sebaya atau kelompok berperan besar. Seseorang yang melakukan kenakalan remaja dapat dipengaruhi oleh kekuatan situasional yang muncul sebab stimulus sosial dan tekanan lingkungan. Anak-anak normal dapat memunculkan perilaku delinkuen sebagai akibat atau reaksi terhadap pengaruh eksternal yang memunculkan sifatnya. Bentuk konkret dari adanya pengaruh ini adalah motivasi untuk diakui oleh teman atau dianggap hebat oleh rekan sebayanya. Pengakuan tersebut memberikan rasa penerimaan bagi diri remaja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/