Sangat jelas saat pertama kali saya membaca sebuah iklan besar di pintu masuk dan pintu keluar sebuah Mall baru di Jember, Lippo Mall, beberapa tahun lalu. Tulisannya memang tidak langsung mudah dimengerti, apalagi buat saya yang usianya sudah separuh abad. Parkir hanya bayar Rp 1, caranya bayar pake OVO. Bukan itu saja, suatu kali saat pembukaan cinema baru di Lippo Mall, kalau pakai OVO bayarnya gratis. Terus menerus kata OVO itu membuat saya akhirnya juga bertanya, makhluk apakah itu?

Ada sekitar delapan orang yang antri di depan saya, saat saya memutuskan ingin tahu lebih dalam tentang OVO. Lumayan lama menunggu satu per satu orang yang sama ingin tahu tentang OVO dan merasakan dampak bayar parkir hanya satu Rupiah dan segala bonus besar lainnya. Akhirnya saya juga mengisi aplikasi OVO meskipun juga tidak sepenuhnya paham, apa sih kegunaan utama dari OVO ini.

Kalau mau belanja di supermarket Lippo Mall, dihitung dulu berapa perkiraan uang yang dibelanjakan nanti. Lalu bukannya menuju ke kasir untuk membayar belanjaan tadi, namun perginya malah ke konter OVO untuk top up dana ke rekening OVO. Apalagi kalau bukan iming-iming diskon atau cashback yang besar jikalau membayar dengan aplikasi OVO tadi. Kalau bayar pakai uang cash misalkan belanjaan kita sebesar satu juta Rupiah ya kita harus bayar tetap satu juta Rupiah.

Namun OVO adalah sebuah aplikasi ajaib yang membuat biaya belanja jadi lebih hemat. Potongan sampai 20 persen adalah potongan yang sangat besar yang pastinya membuat berjuta orang tertarik dan memakai aplikasi OVO untuk berbelanja. Belanja satu juta Rupiah hanya dibayar delapan ratus ribu Rupiah saja.

Dulu sempat saya bertanya dalam hati siapa yang membayar dua ratus ribu Rupiah buat cashback ke supermarketnya? Saat itu saya pikir memang cara baru untuk promosi supaya banyak orang berbondong-bondong berbelanja disana.

Hari demi hari bukan saja di Lippo Mall yang ada pembayaran memakai OVO, hampir semua tempat makan di beri stand semacam tempat foto untuk memberi informasi bahwa di tempat makan tersebut ada diskon besar kalau bayar pake OVO. OVO dan OVO dan OVO di mana-mana selalu ada OVO, membuat layanan digital lainnya merasa harus juga bersaing di hal yang sama. Sebut saja Gojek dengan Gopay-nya, ada juga LinkAja, yang terbaru ada aplikasi DANA.

Layanan digital tak bisa dibendung gerakannya. Promosi cashback, promosi promo, buy one get two, promosi hari pelanggan nasional, promosi tanggal cantik seolah tak pernah berhenti untuk menarik perhatian kita semua pelaku konsumerisme sejati. Kartu kredit yang kecantikannya hampir surut kini mulai bersinar lagi. BliBli on store mampu mengangkat transaksi besar lewat gesek kartu kredit di mesin yang sekarang sudah mulai menjamur di toko-toko besar.

Akibatnya pelaku pasar tradisional mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam. Pasar sepi katanya. Padahal pasar tidak pernah sepi! Yang ada pasarnya pindah ruangan. Dari ruang tradisional ke ruang digital. Konsumen nyata lebih tertarik untuk berbelanja secara online, secara aplikasi, secara digital ketimbang berbelanja secara tradisional. Patut diakui di bagian ini gerakan cashback, bakar uang, promosi, dan sebagainya itu bisa dikatakan berhasil bahkan sangat berhasil.