PEMILIHAN kepala desa (Pilkades) secara serentak di kecamatan Jenggawah desa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berlangsung aman dan lancar. Pilkades yang diikuti sekitar 25 calon kepala desa telah digelar kamis, 26 September 2019 mulai pukul 08.00 dan selesai hingga 17.00 WIB. Sebanyak tujuh desa yang semula diindikasikan rawan pun menjalani proses pilkades dengan aman. Ketuju desa itu antara lain Sruni, Jatisari, Wonojati, Kemuningsari Kidul, Kertonegoro, Jatimulyo dan Jenggawah.

IKLAN

Hingga berakhirnya pemungutan suara yang dilanjutkan dengan penghitungan dan pengumuman hasilnya, belum ada laporan peristiwa yang menganggu keamanan. Meski, ada beberapa desa yang bakal calonnya mencapai lebih dari lima orang. Misalnya, Desa Jatisari bakal calonnya ada lima orang dengan jumlah DPT mencapai 6.488 orang. Yang mana 01 atas nama Erni Wijaya Ningsih mendapat 87 suara, 02 Hasan 1.021 suara, 03 Suhartono 1.315 suara, 04 Mu’arib 1.182 dan yang memperoleh suara terbanyak adalah 05 dengan perolehan suara 2.785 atas nama Drs. Haris Tursina, M.Pd.

Pilkades dalam hal ini meupkan bentuk dan pola pembangunan yang sekarang dikembangkan di desa ini adalah pembangunan partisipatif. Pengembangan partisipatif merupakan pola pembangunan yang telah lama dilakukan oleh bangsa jauh sebelum kemerdekaan, dan melibatkan masyarakat desa yang telah menjadikan hal ini sebagai budaya, seperti dengan menerapkan gotong royong, kerja bakti, serta tanggung renteng (partisipasi). Namun, pola yang dikembangkan dewasa ini merupakan penyempurnaan dari bentuk sebelumnya dengan lebih lengkap, terencana dan sistematik.

Berbagai program seperti yang sifatnya penanggulangan kemiskinan, bantuan kesehatan, pendidikan, pembangunan fisik dan sebagainya yang pernah ada, sering dibahas menepatkan masyarakat sebagai aktor atau pelaku utama. Namun realistisnya, pola pembangunan partisipatif belum berjalan maksimal (jika tidak mau dibilang belum tampak sama sekali). Hal ini terjadi karena masih ada sentimen antar kontestan pada Pilkades.

Adapun sentimen pasca pilkades menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan hidup kepala desa. Sebagian besar kades dari proses pemilihan yang mengandung politik saling hasut di antara tim sukses dan mengumbar kelemahan lawan pribadi (bukan visinya). Dengan demikian, biografi yang baik tentu menjadi modal awal promosi calon kepala desa. Sebagai contoh para pendukung Kades A akan mendukung gelar sarjananya dibandingkan kandidat yang lain. Begitupun juga para pendukung Kades B, tim pemenangan kepala desa membesarkan isu pendatang untuk meyudutkan rivalnya. Bahkan ada pula yang sangat sentimentil membawa airan keyakinan untuk menjatuhkan lawan.

Tak jarang ketegangan ini berlangsung hingga pasca pilkades. Desa-desa di desa guyub. Mereka tak bisa menentang interaksi antar warga, terutama pada kegiatan atau hajatan sosial. Lebih dari warga desa memiliki hubungan kekerabatan di antara warga lainnya.

Meskipun demikian, kita tidak dapat menutup mata yang membahas ini diangkat untuk terus berlangsung dan bertumbuh dalam masyarakat. Pada beberapa desa di Jatisari yang dikunjungi penulis melakukan pertemuan pasca pilkades yang sangat kental dan cukup mendukung dalam dinamika kehidupan di desa.

Hal ini terjadi karena pihak yang kalah dalam kontesatasi pilkades masih belum bisa menerima secara dewasa dalam menerima kekalahan. Kondisi ini kemudian diperparah oleh sebagian oknum dengan perang argument dibergaia social media misalnya status WA, facebook bahkan Instagram yang kemudian memprovokasi masyarakat lain untuk tidak terlibat dalam pembangunan desa. Dengan demikian muncul sebuh sikap semacam “pembangkangan” dan sikap apatis dari pihak yang kalah dalam kerangka membangun dan memajukan desanya. Dan hal ini tidak bisa didiamkan akan lebih baik jika semua akur dan kembali menjadi satu tujuan yaitu membangun desa lebih baik.

Kesan ini semakin kental dan cukup terpelihara dalam dinamika kehidupan di beberapa desa di Jenggawah. Dengan dalih menjadi pulih, sentimen dengan pihak yang menang menjadi terus menguat. Hal ini kadang-kadang membuat Kades yang menang cukup sulit dalam menjalankan programnya, tetapi juga mendukung yang baik yang mendukungnya maupun yang menjadi lawannya saat Pilkades. Sebab setiap program yang dimunculkan oleh Kades selalu dilihat sebagai upaya untuk memperkuat kekuasaannya dan hanya mementingkan kelompok pendukungnya.

Drs. Haris Tursina, M.Pd., pemenang suara terbanyak di desa Jatisari memberikan tanggapannya. “Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Jatisari. Saya memang bukan putra daerah akan tetapi jiwa dan raga saya sudah disini. Saya hidup disini sudah puluhan tahun bersama anak dan istri. Jadi sangat besar harapan saya memajukan desa Jatisari. Ke depannya saya dan masyarakat akan komunikasi efektif baik yang mendukung saya maupun yang tidak. Tentunya saya akan melibatkan tokoh masyarakat, dengan orang kepercaan saya lanjut jumpa dengang silaturohmi dengan mereka yang memiliki pengaruh banyak perolehan suara tokoh agama,termasuk tokoh supranatural tradisional dan tentunya tokoh pemuda). Kita bersaudara kita harus bekerjasama untuk Jatisari lebih baik.”

Terjadi hal yang menegangkan setelah polling pilkades, sebagian kubu pendukung merupakan hal yang wajar. Namun, diharapkan ini tidak dapat dibiarkan berkembang dan terus berkembang, dikembangkanlah polarisasi dalam masyarakat. Oleh karena itu, perlu upaya untuk meredam keperluan tersebut. Dalam rangka meredam pasca pilkades, rekonsiliasi antara pihak yang bertikai disetujui diperlukan. Rekonsiliasi merupakan upaya untuk meyatukan seluruh elemen masyarakat di desa dan kemudian bersama-sama dengan membangun desa. Dalam rangka rekosiliasi, kepala desa terpilih memiliki peran yang sangat penting. Sebagai seorang pemimpin, dia mesti memiliki strategi agar masyarakat bersih-tegang dapat bersatu kembali. Untuk meredam partisipasi, kepala desa mesti mengundang lawan politiknya selain tim suksesnya pada pemilihan atau untuk pengelolaan pemerintahan desa.

“Secepatnya merangkul bagin calon terpilih ucapan terimakasih dalam setiap agendanya dan tanpa memebada bedakan. Ini juga membantu meredakan keadaan. Sebab beda dengan masyarakat yg terlibat menjadi team. Mereka akan selalu melihat kekecewaan ini agar terbalasakan. Bagi tim calonnya yang kalah agar mereka tetap optimis maka calon terpilih bisa menggunakan pendekatan kepada rivalnya.” Begitu menurut tokoh pemuda Jatisari, Ubaidilah.

Beda dengan pendapat salah satu koordinator saksi Isa Ansori, “Pilkades sudar berakhir, yang kalah harus legowo dan yang menang tidak boleh takabur. Kita semua saudara kita wajib bergotong royong. Dan kepada yang menang kami siap membantu memajukan desa dan bekerjasama semoga desa semakin baik.”

* Penulis adalah dosen STIKES Harapan Bangsa Jember