alexametrics
21.8 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Globalisasi versus Nasionalisme

Mobile_AP_Rectangle 1

Namun, apakah ketika kita melakukan pembelian luar negeri tersebut, kita mengingat dampaknya terhadap kawan-kawan kita di dalam negeri yang sedang berjibaku dengan kesulitan karena harus bersaing dengan produk dari luar negeri. Bertanding pasar dengan pengusaha luar negeri yang memiliki teknologi yang jauh lebih efisien dari yang dimiliki kawan-kawan kita.

Mungkin sejenak kita dapat membayangkan Industri masyarakat Indonesia yang banyak di dominasi UKM  atau UMKM. UKM merupakan singkatan dari Usaha, Kecil dan Menengah, sedangkan UMKM adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi. Tentunya di antara UKM tersebut ada sanak, kerabat, teman bahkan sahabat berada pada titik itu. Titik di mana mereka berusaha menopang dan menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Jawaban dari upaya membendung dampak negatif pasar bebas yakni ada pada diri kita pribadi bangsa. Pasar bebas bukan berarti kita melupakan jati diri kita sebagai bangsa. Pribadi yang memiliki nilai-nilai nasionalisme. Jati diri kita yang mencintai negara kita cinta kepada negara tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh kehidupan di dalamnya. Kecintaan terhadap tanah air ini disebabkan karena dari negara tersebut semua yang kita butuhkan akan kita dapatkan. Pertiwi Indonesia menyiapkan semua hal yang kita perlukan untuk kehidupan kita. Sepertinya kembali mengingat jiwa bangsa untuk bergotong royong berusaha bersama-sama bangkit dan berusaha. Hal tersebut terdengar seperti dongeng di zaman kita sekarang. Di kala semua pangsa pasar telah di monopoli pengusaha-pengusaha besar, ketika kekayaan alam telah dikeruk oleh kepentingan segelintir orang yang semena mena tanpa memperdulikan keberlangsungan dan keselamatan bangsa di masa depan. Hutan Kalimantan yang dulu dikenal sebagai paru-paru dunia kini menyisakan kegersangan di masa musim panas dan banjir di masa musim penghujan. Kekayaan alam di papua yang kini hanya tersisa lubang-lubang yang mirip dengan jurang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Namun tentunya kita tidak boleh menyerah. Langkah-langkah kecil, hal-hal mudah bisa kita lakukan dengan mengkampanyekan kembali cinta tanah air di semua elemen bangsa. Dahulu kita telah terjajah dengan bangsa asing tentunya saat ini perjuangan mencintai negeri ini tidak perlu berdarah darah dengan mengangkat senjata, tidak usah adu kesaktian. Tetapi dengan lebih peduli sesama masyarakat bangsa. Menghargai buatan-buatan anak negeri, mencintai produk-produknya dan bangga mengenakan semua hal made in Indonesia. Dengan membeli produk-produk lokal, atau tak menabung uang dalam bentuk dolar, menggunakan merek-merek lokal. Bangga dengan produk lokal di Indonesia, lebih bangga duduk di warung Soto dan bukannya merasa wah apabila nongkrong di brand luar negeri. Kita bisa selalu melihat dan berprilaku positif dengan memupuk jiwa positif untuk bangsa kita yakni jiwa nasionalisme.

Setiap pribadi bangsa kita adalah kunci perubahan. Setiap pribadi yang berubah akan menularkan kepada keluarga, teman, kerabat dan menjadi tauladan penting bagi anak-anak generasi pengguna digital. Lebih mudah mengajarkan nasionalisme dengan memberi tauladan daripada bercerita sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan di zaman dulu. Ingatlah bahwa revolusi di setiap zamannya selalu bergerak dari pribadi-pribadi yang memiliki keinginan memperjuangkan nilai-nilai baik. Kapitalisme ada karena keinginan kaum proletar sebagai kaum lemah di zamannya melawan kaum bangsawan, gerakan feminisme berasal dari keinginan baik untuk menyetarakan hak wanita yang tertindas. Maka tentunya keinginan baik kita mencintai bangsa kita dengan bergerak dari upaya-upaya kecil pada akhirnya dapat meruntuhkan berbagai kekuatan monopoli yang telah menjajah kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli terhadap ibu pertiwi.

 

- Advertisement -

Namun, apakah ketika kita melakukan pembelian luar negeri tersebut, kita mengingat dampaknya terhadap kawan-kawan kita di dalam negeri yang sedang berjibaku dengan kesulitan karena harus bersaing dengan produk dari luar negeri. Bertanding pasar dengan pengusaha luar negeri yang memiliki teknologi yang jauh lebih efisien dari yang dimiliki kawan-kawan kita.

Mungkin sejenak kita dapat membayangkan Industri masyarakat Indonesia yang banyak di dominasi UKM  atau UMKM. UKM merupakan singkatan dari Usaha, Kecil dan Menengah, sedangkan UMKM adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi. Tentunya di antara UKM tersebut ada sanak, kerabat, teman bahkan sahabat berada pada titik itu. Titik di mana mereka berusaha menopang dan menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Jawaban dari upaya membendung dampak negatif pasar bebas yakni ada pada diri kita pribadi bangsa. Pasar bebas bukan berarti kita melupakan jati diri kita sebagai bangsa. Pribadi yang memiliki nilai-nilai nasionalisme. Jati diri kita yang mencintai negara kita cinta kepada negara tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh kehidupan di dalamnya. Kecintaan terhadap tanah air ini disebabkan karena dari negara tersebut semua yang kita butuhkan akan kita dapatkan. Pertiwi Indonesia menyiapkan semua hal yang kita perlukan untuk kehidupan kita. Sepertinya kembali mengingat jiwa bangsa untuk bergotong royong berusaha bersama-sama bangkit dan berusaha. Hal tersebut terdengar seperti dongeng di zaman kita sekarang. Di kala semua pangsa pasar telah di monopoli pengusaha-pengusaha besar, ketika kekayaan alam telah dikeruk oleh kepentingan segelintir orang yang semena mena tanpa memperdulikan keberlangsungan dan keselamatan bangsa di masa depan. Hutan Kalimantan yang dulu dikenal sebagai paru-paru dunia kini menyisakan kegersangan di masa musim panas dan banjir di masa musim penghujan. Kekayaan alam di papua yang kini hanya tersisa lubang-lubang yang mirip dengan jurang.

Namun tentunya kita tidak boleh menyerah. Langkah-langkah kecil, hal-hal mudah bisa kita lakukan dengan mengkampanyekan kembali cinta tanah air di semua elemen bangsa. Dahulu kita telah terjajah dengan bangsa asing tentunya saat ini perjuangan mencintai negeri ini tidak perlu berdarah darah dengan mengangkat senjata, tidak usah adu kesaktian. Tetapi dengan lebih peduli sesama masyarakat bangsa. Menghargai buatan-buatan anak negeri, mencintai produk-produknya dan bangga mengenakan semua hal made in Indonesia. Dengan membeli produk-produk lokal, atau tak menabung uang dalam bentuk dolar, menggunakan merek-merek lokal. Bangga dengan produk lokal di Indonesia, lebih bangga duduk di warung Soto dan bukannya merasa wah apabila nongkrong di brand luar negeri. Kita bisa selalu melihat dan berprilaku positif dengan memupuk jiwa positif untuk bangsa kita yakni jiwa nasionalisme.

Setiap pribadi bangsa kita adalah kunci perubahan. Setiap pribadi yang berubah akan menularkan kepada keluarga, teman, kerabat dan menjadi tauladan penting bagi anak-anak generasi pengguna digital. Lebih mudah mengajarkan nasionalisme dengan memberi tauladan daripada bercerita sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan di zaman dulu. Ingatlah bahwa revolusi di setiap zamannya selalu bergerak dari pribadi-pribadi yang memiliki keinginan memperjuangkan nilai-nilai baik. Kapitalisme ada karena keinginan kaum proletar sebagai kaum lemah di zamannya melawan kaum bangsawan, gerakan feminisme berasal dari keinginan baik untuk menyetarakan hak wanita yang tertindas. Maka tentunya keinginan baik kita mencintai bangsa kita dengan bergerak dari upaya-upaya kecil pada akhirnya dapat meruntuhkan berbagai kekuatan monopoli yang telah menjajah kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli terhadap ibu pertiwi.

 

Namun, apakah ketika kita melakukan pembelian luar negeri tersebut, kita mengingat dampaknya terhadap kawan-kawan kita di dalam negeri yang sedang berjibaku dengan kesulitan karena harus bersaing dengan produk dari luar negeri. Bertanding pasar dengan pengusaha luar negeri yang memiliki teknologi yang jauh lebih efisien dari yang dimiliki kawan-kawan kita.

Mungkin sejenak kita dapat membayangkan Industri masyarakat Indonesia yang banyak di dominasi UKM  atau UMKM. UKM merupakan singkatan dari Usaha, Kecil dan Menengah, sedangkan UMKM adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. UMKM merupakan pilar terpenting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia meliputi kemampuan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada serta dapat menghimpun sampai 60,4 persen dari total investasi. Tentunya di antara UKM tersebut ada sanak, kerabat, teman bahkan sahabat berada pada titik itu. Titik di mana mereka berusaha menopang dan menjadi pilar ekonomi Indonesia.

Jawaban dari upaya membendung dampak negatif pasar bebas yakni ada pada diri kita pribadi bangsa. Pasar bebas bukan berarti kita melupakan jati diri kita sebagai bangsa. Pribadi yang memiliki nilai-nilai nasionalisme. Jati diri kita yang mencintai negara kita cinta kepada negara tempat kita dilahirkan, dibesarkan, dan memperoleh kehidupan di dalamnya. Kecintaan terhadap tanah air ini disebabkan karena dari negara tersebut semua yang kita butuhkan akan kita dapatkan. Pertiwi Indonesia menyiapkan semua hal yang kita perlukan untuk kehidupan kita. Sepertinya kembali mengingat jiwa bangsa untuk bergotong royong berusaha bersama-sama bangkit dan berusaha. Hal tersebut terdengar seperti dongeng di zaman kita sekarang. Di kala semua pangsa pasar telah di monopoli pengusaha-pengusaha besar, ketika kekayaan alam telah dikeruk oleh kepentingan segelintir orang yang semena mena tanpa memperdulikan keberlangsungan dan keselamatan bangsa di masa depan. Hutan Kalimantan yang dulu dikenal sebagai paru-paru dunia kini menyisakan kegersangan di masa musim panas dan banjir di masa musim penghujan. Kekayaan alam di papua yang kini hanya tersisa lubang-lubang yang mirip dengan jurang.

Namun tentunya kita tidak boleh menyerah. Langkah-langkah kecil, hal-hal mudah bisa kita lakukan dengan mengkampanyekan kembali cinta tanah air di semua elemen bangsa. Dahulu kita telah terjajah dengan bangsa asing tentunya saat ini perjuangan mencintai negeri ini tidak perlu berdarah darah dengan mengangkat senjata, tidak usah adu kesaktian. Tetapi dengan lebih peduli sesama masyarakat bangsa. Menghargai buatan-buatan anak negeri, mencintai produk-produknya dan bangga mengenakan semua hal made in Indonesia. Dengan membeli produk-produk lokal, atau tak menabung uang dalam bentuk dolar, menggunakan merek-merek lokal. Bangga dengan produk lokal di Indonesia, lebih bangga duduk di warung Soto dan bukannya merasa wah apabila nongkrong di brand luar negeri. Kita bisa selalu melihat dan berprilaku positif dengan memupuk jiwa positif untuk bangsa kita yakni jiwa nasionalisme.

Setiap pribadi bangsa kita adalah kunci perubahan. Setiap pribadi yang berubah akan menularkan kepada keluarga, teman, kerabat dan menjadi tauladan penting bagi anak-anak generasi pengguna digital. Lebih mudah mengajarkan nasionalisme dengan memberi tauladan daripada bercerita sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan di zaman dulu. Ingatlah bahwa revolusi di setiap zamannya selalu bergerak dari pribadi-pribadi yang memiliki keinginan memperjuangkan nilai-nilai baik. Kapitalisme ada karena keinginan kaum proletar sebagai kaum lemah di zamannya melawan kaum bangsawan, gerakan feminisme berasal dari keinginan baik untuk menyetarakan hak wanita yang tertindas. Maka tentunya keinginan baik kita mencintai bangsa kita dengan bergerak dari upaya-upaya kecil pada akhirnya dapat meruntuhkan berbagai kekuatan monopoli yang telah menjajah kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan peduli terhadap ibu pertiwi.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/