alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Antisipasi JFC vs Jember Fashion Week

Oleh: Aries Harianto

Mobile_AP_Rectangle 1

Waspada! Demam Citayam Fashion Week telah merambah Bandung, Surabaya, hingga Malang. Bahkan, lewat informasi media sosial yang tersebar, Jember juga digelar 29 Juli di alun-alun. Namun, kenyataannya di alun-alun tidak terjadi apa-apa. Apa artinya tidak jadi dilaksanakan, ditunda, atau seperti apa?

Citayam saat ini menjadi headline berbagai media. Chanel Youtube dan beragam kanal informasi diwarnai booming fashion jalanan. Ratusan remaja milenial dari Citayam, Bojong Gede, Bekasi, atau pinggiran Jakarta beramai-ramai datang di kawasan Sudirman. Berkumpul dengan gaya busana fashionable, casual, trendy ala street fashion di luar negeri. Mulai dari kemeja flanel oversize, sneaker warna-warni, celana model 90-an, sweater sport, hingga aksesori dan jaket kulit.

Para artis pun antusias. Turun dan berlenggak-lenggok di zebra cross. Para pejabat publik, apalagi. Ridwan Kamil dan Anis Baswedan turut beraksi. Datang di  fashion street Citayam. Menyampaikan serangkaian pesan tentang kenyamanan dan ketertiban lingkungan. Bahkan, Jokowi mendukung dan menyatakan bahwa Citayam Fashion Week adalah bentuk kreativitas positif anak muda. Harus didukung selama tidak melanggar aturan. Ada Jeje, Bonge dan lain-lain, mereka adalah ikon Citayam kini. Mendulang jutaan rupiah dari “keartisannya” ber-catwalk.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jember Fashion Carnaval (JFC) tentu beda dengan Citayam Fashion Week. JFC bukan unjuk spontanitas. Terorganisasi karena lekat dengan visi. JFC adalah kreasi fashion yang dikemas dalam format karnafal. Dirintis oleh almarhum Dynand Fariz sebagai putra daerah yang sarat talenta. Mendunia dan menjadi agenda rutin tahunan di kota Jember. Indonesia patut bangga karena Jember tercatat sebagai Kota Karnaval. Diperhitungkan dunia.

Tidak demikian dengan Citayam. Citayam Fashion Week adalah komunitas alami. Para remaja milenial itu berkumpul karena frekuensi kehendak yang sama. Disatukan oleh emosi. Diikat oleh solidaritas kebersamaan. Tanpa dukungan otoritas. Bermodalkan rasa percaya diri dan atribut fashion yang tidak mahal. Ironinya, jalan raya sebagai wahana. Di balik sisi positif Citayam Fashion Street, tidak berarti lepas dari dampak negatif.

Setiap kelahiran pasti melahirkan pro dan kontra. Selalu ada respons positif dan negatif. Manusiawi dalam perspektif demokrasi. Termasuk jika fashion street semacam itu merambah Jember sehingga sangat mungkin menjadi Jember Fashion Street. Beberapa hal yang patut diperhitungkan oleh pemegang otoritas jika hal ini terjadi di Jember. Paling tidak, jika Jember Fashion Street ini membumi, maka akan memberikan nilai tambah dalam banyak hal. Jember memiliki wahana berekspresi bagi remaja milenial. Bisa dikembangkan dan diarahkan dalam ranah edukasi dan prestasi. Edukasi membangun potret diri etis sebagai model dan prestasi mengangkat komoditas industri Jember. Memacu geliat produktivitas UMKM sebagai komitmen pemerintah Kabupaten Jember. Menambah khazanah warna car free day. Bahkan bisa menumbuhkan gairah baru remaja milenial Jember yang selama ini memandang bahwa fashion identik dengan kegiatan segmen berduit.

- Advertisement -

Waspada! Demam Citayam Fashion Week telah merambah Bandung, Surabaya, hingga Malang. Bahkan, lewat informasi media sosial yang tersebar, Jember juga digelar 29 Juli di alun-alun. Namun, kenyataannya di alun-alun tidak terjadi apa-apa. Apa artinya tidak jadi dilaksanakan, ditunda, atau seperti apa?

Citayam saat ini menjadi headline berbagai media. Chanel Youtube dan beragam kanal informasi diwarnai booming fashion jalanan. Ratusan remaja milenial dari Citayam, Bojong Gede, Bekasi, atau pinggiran Jakarta beramai-ramai datang di kawasan Sudirman. Berkumpul dengan gaya busana fashionable, casual, trendy ala street fashion di luar negeri. Mulai dari kemeja flanel oversize, sneaker warna-warni, celana model 90-an, sweater sport, hingga aksesori dan jaket kulit.

Para artis pun antusias. Turun dan berlenggak-lenggok di zebra cross. Para pejabat publik, apalagi. Ridwan Kamil dan Anis Baswedan turut beraksi. Datang di  fashion street Citayam. Menyampaikan serangkaian pesan tentang kenyamanan dan ketertiban lingkungan. Bahkan, Jokowi mendukung dan menyatakan bahwa Citayam Fashion Week adalah bentuk kreativitas positif anak muda. Harus didukung selama tidak melanggar aturan. Ada Jeje, Bonge dan lain-lain, mereka adalah ikon Citayam kini. Mendulang jutaan rupiah dari “keartisannya” ber-catwalk.

Jember Fashion Carnaval (JFC) tentu beda dengan Citayam Fashion Week. JFC bukan unjuk spontanitas. Terorganisasi karena lekat dengan visi. JFC adalah kreasi fashion yang dikemas dalam format karnafal. Dirintis oleh almarhum Dynand Fariz sebagai putra daerah yang sarat talenta. Mendunia dan menjadi agenda rutin tahunan di kota Jember. Indonesia patut bangga karena Jember tercatat sebagai Kota Karnaval. Diperhitungkan dunia.

Tidak demikian dengan Citayam. Citayam Fashion Week adalah komunitas alami. Para remaja milenial itu berkumpul karena frekuensi kehendak yang sama. Disatukan oleh emosi. Diikat oleh solidaritas kebersamaan. Tanpa dukungan otoritas. Bermodalkan rasa percaya diri dan atribut fashion yang tidak mahal. Ironinya, jalan raya sebagai wahana. Di balik sisi positif Citayam Fashion Street, tidak berarti lepas dari dampak negatif.

Setiap kelahiran pasti melahirkan pro dan kontra. Selalu ada respons positif dan negatif. Manusiawi dalam perspektif demokrasi. Termasuk jika fashion street semacam itu merambah Jember sehingga sangat mungkin menjadi Jember Fashion Street. Beberapa hal yang patut diperhitungkan oleh pemegang otoritas jika hal ini terjadi di Jember. Paling tidak, jika Jember Fashion Street ini membumi, maka akan memberikan nilai tambah dalam banyak hal. Jember memiliki wahana berekspresi bagi remaja milenial. Bisa dikembangkan dan diarahkan dalam ranah edukasi dan prestasi. Edukasi membangun potret diri etis sebagai model dan prestasi mengangkat komoditas industri Jember. Memacu geliat produktivitas UMKM sebagai komitmen pemerintah Kabupaten Jember. Menambah khazanah warna car free day. Bahkan bisa menumbuhkan gairah baru remaja milenial Jember yang selama ini memandang bahwa fashion identik dengan kegiatan segmen berduit.

Waspada! Demam Citayam Fashion Week telah merambah Bandung, Surabaya, hingga Malang. Bahkan, lewat informasi media sosial yang tersebar, Jember juga digelar 29 Juli di alun-alun. Namun, kenyataannya di alun-alun tidak terjadi apa-apa. Apa artinya tidak jadi dilaksanakan, ditunda, atau seperti apa?

Citayam saat ini menjadi headline berbagai media. Chanel Youtube dan beragam kanal informasi diwarnai booming fashion jalanan. Ratusan remaja milenial dari Citayam, Bojong Gede, Bekasi, atau pinggiran Jakarta beramai-ramai datang di kawasan Sudirman. Berkumpul dengan gaya busana fashionable, casual, trendy ala street fashion di luar negeri. Mulai dari kemeja flanel oversize, sneaker warna-warni, celana model 90-an, sweater sport, hingga aksesori dan jaket kulit.

Para artis pun antusias. Turun dan berlenggak-lenggok di zebra cross. Para pejabat publik, apalagi. Ridwan Kamil dan Anis Baswedan turut beraksi. Datang di  fashion street Citayam. Menyampaikan serangkaian pesan tentang kenyamanan dan ketertiban lingkungan. Bahkan, Jokowi mendukung dan menyatakan bahwa Citayam Fashion Week adalah bentuk kreativitas positif anak muda. Harus didukung selama tidak melanggar aturan. Ada Jeje, Bonge dan lain-lain, mereka adalah ikon Citayam kini. Mendulang jutaan rupiah dari “keartisannya” ber-catwalk.

Jember Fashion Carnaval (JFC) tentu beda dengan Citayam Fashion Week. JFC bukan unjuk spontanitas. Terorganisasi karena lekat dengan visi. JFC adalah kreasi fashion yang dikemas dalam format karnafal. Dirintis oleh almarhum Dynand Fariz sebagai putra daerah yang sarat talenta. Mendunia dan menjadi agenda rutin tahunan di kota Jember. Indonesia patut bangga karena Jember tercatat sebagai Kota Karnaval. Diperhitungkan dunia.

Tidak demikian dengan Citayam. Citayam Fashion Week adalah komunitas alami. Para remaja milenial itu berkumpul karena frekuensi kehendak yang sama. Disatukan oleh emosi. Diikat oleh solidaritas kebersamaan. Tanpa dukungan otoritas. Bermodalkan rasa percaya diri dan atribut fashion yang tidak mahal. Ironinya, jalan raya sebagai wahana. Di balik sisi positif Citayam Fashion Street, tidak berarti lepas dari dampak negatif.

Setiap kelahiran pasti melahirkan pro dan kontra. Selalu ada respons positif dan negatif. Manusiawi dalam perspektif demokrasi. Termasuk jika fashion street semacam itu merambah Jember sehingga sangat mungkin menjadi Jember Fashion Street. Beberapa hal yang patut diperhitungkan oleh pemegang otoritas jika hal ini terjadi di Jember. Paling tidak, jika Jember Fashion Street ini membumi, maka akan memberikan nilai tambah dalam banyak hal. Jember memiliki wahana berekspresi bagi remaja milenial. Bisa dikembangkan dan diarahkan dalam ranah edukasi dan prestasi. Edukasi membangun potret diri etis sebagai model dan prestasi mengangkat komoditas industri Jember. Memacu geliat produktivitas UMKM sebagai komitmen pemerintah Kabupaten Jember. Menambah khazanah warna car free day. Bahkan bisa menumbuhkan gairah baru remaja milenial Jember yang selama ini memandang bahwa fashion identik dengan kegiatan segmen berduit.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/