alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Rumah Makan Padang, Makanan, Relasi Sosial, dan Identitas

Mobile_AP_Rectangle 1

Rumah makan Padang sudah tak asing bagi kita semua. Rumah makan Padang terkenal akan kekhasan makanan yang dibawa dari ranah Minang dengan cita rasanya yang nikmat. Baru-baru ini rumah makan Padang banyak sekali disorot oleh berbagai pihak. Hal ini karena mencuatnya salah satu rumah makan Padang yang menjajakan makanan Padang dengan bahan dasar daging babi, yang dijual secara daring melalui salah satu platform dagang. Tentunya ini menimbulkan kontradiksi dan persepsi kepada pihak yang pro dan kontra. Salah satu yang mengomentari adalah wakil MUI Anwar Abbas, berkomentar dengan sinisnya bahwa “rumah makan Padang tersebut dapat mendegradasi nilai-nilai dari adat Minang serta mencederai masyarakat Minang”. Lebih lanjut, Anwar Abbas menambahkan agar pihak berwajib untuk segera menangkap pelaku tersebut. Berbeda dengan Anwar Abbas, salah satu warganet mendukung adanya olahan masakan Padang dengan bahan dasar babi. Dia berkomentar, “sudah jelas kok itu ada deskripsi nonhalalnya, dan tertulis jelas pula label restorannya bukan restoran halal.”

Usut punya usut, ternyata rumah makan Padang ini beroperasi di Jakarta. Pemilik restoran tersebut mengatakan motivasinya dalam membuat rumah makan Padang ini karena terinspirasi akan kecintaannya terhadap kuliner rumah makan Padang. Pria tersebut juga tidak mengetahui bahwa idenya untuk mencari keuntungan tersebut mengundang problematika dan dianggap menyinggung masyarakat Minang. Pria itu kemudian meminta maaf kepada semua pihak akan idenya tersebut jika menyinggung masyarakat Minang. Pria tersebut juga menjelaskan rumah makan Padang miliknya sudah ditutup dari tiga bulan yang lalu.

Dengan beragam persepsi tersebut maka tulisan ini akan mencoba memberikan pandangan mengenai hal tersebut, bagaimana sebaiknya agar nilai suatu adat tidak dianggap tendensius, dan bagaimana pula relasi sosial, serta konstruksi sosial yang terkandung di dalam rumah makan Padang, dan makanan masyarakat Minangkabau.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rumah Makan Padang dalam Relasi Sosial

Merantau sudah menjadi bagian kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang bahkan menjadi kewajiban bagi anak laki-laki dari Minangkabau. Para perantau Minangkabau membawa bersamanya ingatan akan adat istiadat dalam budaya Minangkabau yang merantau ke berbagai provinsi. Perantau dari ranah Minang sering kali identik sebagai pengusaha rumah makan Padang. Usaha yang dilakukan didasarkan kepada kombinasi antara berdagang, adat, dan kuliner. Maka tidak heran apabila rumah makan Padang menjamur, dan merambah dari pedagang kali lima hingga mal mewah yang melayani masyarakat kelas menengah bawah maupun atas.

Makna dari posisi rumah makan Padang di perantauan bagi masyarakat Minangkabau begitu penting. Sehingga nasihat yang diberikan kepada pemuda adalah apabila tiba di perantauan, yang perlu dicari terlebih dahulu adalah rumah makan Padang, nan kaduo surau atau masjid, nan katigo dunsanak (family atau sesama orang Minangkabau). Fungsi dari rumah makan Padang tidak hanya sebagai tempat mencari keuntungan. Melainkan sebagai tempat yang dituju oleh orang Minang yang merantau sebagai tujuan sementara. Dan dapat pula difungsikan sebagai tempat mendapatkan kerja sementara. Minimal ada kepastian untuk mengisi perut. Dengan begitu, relasi erat antara masyarakat Minangkabau antara satu dengan yang lainnya dapat terjalin dengan baik meskipun di ranah perantauan.

Kuliner dan Konstruksi Identitas

- Advertisement -

Rumah makan Padang sudah tak asing bagi kita semua. Rumah makan Padang terkenal akan kekhasan makanan yang dibawa dari ranah Minang dengan cita rasanya yang nikmat. Baru-baru ini rumah makan Padang banyak sekali disorot oleh berbagai pihak. Hal ini karena mencuatnya salah satu rumah makan Padang yang menjajakan makanan Padang dengan bahan dasar daging babi, yang dijual secara daring melalui salah satu platform dagang. Tentunya ini menimbulkan kontradiksi dan persepsi kepada pihak yang pro dan kontra. Salah satu yang mengomentari adalah wakil MUI Anwar Abbas, berkomentar dengan sinisnya bahwa “rumah makan Padang tersebut dapat mendegradasi nilai-nilai dari adat Minang serta mencederai masyarakat Minang”. Lebih lanjut, Anwar Abbas menambahkan agar pihak berwajib untuk segera menangkap pelaku tersebut. Berbeda dengan Anwar Abbas, salah satu warganet mendukung adanya olahan masakan Padang dengan bahan dasar babi. Dia berkomentar, “sudah jelas kok itu ada deskripsi nonhalalnya, dan tertulis jelas pula label restorannya bukan restoran halal.”

Usut punya usut, ternyata rumah makan Padang ini beroperasi di Jakarta. Pemilik restoran tersebut mengatakan motivasinya dalam membuat rumah makan Padang ini karena terinspirasi akan kecintaannya terhadap kuliner rumah makan Padang. Pria tersebut juga tidak mengetahui bahwa idenya untuk mencari keuntungan tersebut mengundang problematika dan dianggap menyinggung masyarakat Minang. Pria itu kemudian meminta maaf kepada semua pihak akan idenya tersebut jika menyinggung masyarakat Minang. Pria tersebut juga menjelaskan rumah makan Padang miliknya sudah ditutup dari tiga bulan yang lalu.

Dengan beragam persepsi tersebut maka tulisan ini akan mencoba memberikan pandangan mengenai hal tersebut, bagaimana sebaiknya agar nilai suatu adat tidak dianggap tendensius, dan bagaimana pula relasi sosial, serta konstruksi sosial yang terkandung di dalam rumah makan Padang, dan makanan masyarakat Minangkabau.

Rumah Makan Padang dalam Relasi Sosial

Merantau sudah menjadi bagian kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang bahkan menjadi kewajiban bagi anak laki-laki dari Minangkabau. Para perantau Minangkabau membawa bersamanya ingatan akan adat istiadat dalam budaya Minangkabau yang merantau ke berbagai provinsi. Perantau dari ranah Minang sering kali identik sebagai pengusaha rumah makan Padang. Usaha yang dilakukan didasarkan kepada kombinasi antara berdagang, adat, dan kuliner. Maka tidak heran apabila rumah makan Padang menjamur, dan merambah dari pedagang kali lima hingga mal mewah yang melayani masyarakat kelas menengah bawah maupun atas.

Makna dari posisi rumah makan Padang di perantauan bagi masyarakat Minangkabau begitu penting. Sehingga nasihat yang diberikan kepada pemuda adalah apabila tiba di perantauan, yang perlu dicari terlebih dahulu adalah rumah makan Padang, nan kaduo surau atau masjid, nan katigo dunsanak (family atau sesama orang Minangkabau). Fungsi dari rumah makan Padang tidak hanya sebagai tempat mencari keuntungan. Melainkan sebagai tempat yang dituju oleh orang Minang yang merantau sebagai tujuan sementara. Dan dapat pula difungsikan sebagai tempat mendapatkan kerja sementara. Minimal ada kepastian untuk mengisi perut. Dengan begitu, relasi erat antara masyarakat Minangkabau antara satu dengan yang lainnya dapat terjalin dengan baik meskipun di ranah perantauan.

Kuliner dan Konstruksi Identitas

Rumah makan Padang sudah tak asing bagi kita semua. Rumah makan Padang terkenal akan kekhasan makanan yang dibawa dari ranah Minang dengan cita rasanya yang nikmat. Baru-baru ini rumah makan Padang banyak sekali disorot oleh berbagai pihak. Hal ini karena mencuatnya salah satu rumah makan Padang yang menjajakan makanan Padang dengan bahan dasar daging babi, yang dijual secara daring melalui salah satu platform dagang. Tentunya ini menimbulkan kontradiksi dan persepsi kepada pihak yang pro dan kontra. Salah satu yang mengomentari adalah wakil MUI Anwar Abbas, berkomentar dengan sinisnya bahwa “rumah makan Padang tersebut dapat mendegradasi nilai-nilai dari adat Minang serta mencederai masyarakat Minang”. Lebih lanjut, Anwar Abbas menambahkan agar pihak berwajib untuk segera menangkap pelaku tersebut. Berbeda dengan Anwar Abbas, salah satu warganet mendukung adanya olahan masakan Padang dengan bahan dasar babi. Dia berkomentar, “sudah jelas kok itu ada deskripsi nonhalalnya, dan tertulis jelas pula label restorannya bukan restoran halal.”

Usut punya usut, ternyata rumah makan Padang ini beroperasi di Jakarta. Pemilik restoran tersebut mengatakan motivasinya dalam membuat rumah makan Padang ini karena terinspirasi akan kecintaannya terhadap kuliner rumah makan Padang. Pria tersebut juga tidak mengetahui bahwa idenya untuk mencari keuntungan tersebut mengundang problematika dan dianggap menyinggung masyarakat Minang. Pria itu kemudian meminta maaf kepada semua pihak akan idenya tersebut jika menyinggung masyarakat Minang. Pria tersebut juga menjelaskan rumah makan Padang miliknya sudah ditutup dari tiga bulan yang lalu.

Dengan beragam persepsi tersebut maka tulisan ini akan mencoba memberikan pandangan mengenai hal tersebut, bagaimana sebaiknya agar nilai suatu adat tidak dianggap tendensius, dan bagaimana pula relasi sosial, serta konstruksi sosial yang terkandung di dalam rumah makan Padang, dan makanan masyarakat Minangkabau.

Rumah Makan Padang dalam Relasi Sosial

Merantau sudah menjadi bagian kesatuan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang bahkan menjadi kewajiban bagi anak laki-laki dari Minangkabau. Para perantau Minangkabau membawa bersamanya ingatan akan adat istiadat dalam budaya Minangkabau yang merantau ke berbagai provinsi. Perantau dari ranah Minang sering kali identik sebagai pengusaha rumah makan Padang. Usaha yang dilakukan didasarkan kepada kombinasi antara berdagang, adat, dan kuliner. Maka tidak heran apabila rumah makan Padang menjamur, dan merambah dari pedagang kali lima hingga mal mewah yang melayani masyarakat kelas menengah bawah maupun atas.

Makna dari posisi rumah makan Padang di perantauan bagi masyarakat Minangkabau begitu penting. Sehingga nasihat yang diberikan kepada pemuda adalah apabila tiba di perantauan, yang perlu dicari terlebih dahulu adalah rumah makan Padang, nan kaduo surau atau masjid, nan katigo dunsanak (family atau sesama orang Minangkabau). Fungsi dari rumah makan Padang tidak hanya sebagai tempat mencari keuntungan. Melainkan sebagai tempat yang dituju oleh orang Minang yang merantau sebagai tujuan sementara. Dan dapat pula difungsikan sebagai tempat mendapatkan kerja sementara. Minimal ada kepastian untuk mengisi perut. Dengan begitu, relasi erat antara masyarakat Minangkabau antara satu dengan yang lainnya dapat terjalin dengan baik meskipun di ranah perantauan.

Kuliner dan Konstruksi Identitas

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/