alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Menghadirkan Kelas Daring Bahasa Inggris yang Menyenangkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran Bahasa Inggris sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 menunjukkan proses yang sangat berbeda. Tatap muka di sekolah-sekolah di Indonesia telah berubah menjadi proses pembelajaran yang berjudul belajar dari rumah (BDR). Namun pada dasarnya, pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa SMK itu adalah pembelajaran yang menakutkan. Jika diberikan presentasi, pembelajaran bahasa Inggris nilai ketakutannya sepadan dengan pembelajaran matematika. Sehingga, bagi peserta didik predikat “istimewa” yang diberikan tidak jauh dari sambatan bahasa Inggris itu ‘menakutkan, bahasa Inggris itu sangat menyulitkan, bahasa Inggris itu meresahkan dan membosankan. Predikat yang turun temurun tersebut pada dasarnya berawal dari penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat dilakukan oleh guru.

Berdasarkan aspek productive dan receptive, pembelajaran bahasa Inggris terbagi menjadi 4 komponen bahasa, yaitu speaking dan writing (untuk aspek productive) serta reading dan listening (untuk aspek receptive). Keempat keterampilan tersebut merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan. Maka dari itu, dengan jelas Suyanto (1999) menyatakan bahwa kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris mencakup semua kompetensi bahasa yang berupa keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Berdasarkan pendapat Suyanto (1999) di atas, guru bahasa Inggris pada jenjang pendidikan SMK dengan keunikan karakter dan tujuan pendidikannya harus mampu menentukan skala prioritas kebutuhan tanpa mereduksi keterampilan berbahasa Inggris seluruhnya.

Permasalahan yang sering muncul dalam proses pembelajaran bahasa Inggris bagi mayoritas siswa, biasanya disebabkan oleh dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri siswa, di dalamnya termasuk motivasi untuk belajar dan keaktifan dalam proses belajar. Faktor eksternal biasanya para siswa kurang memperoleh stimulasi praktis dari guru, baik dengan mengajak berbicara maupun penggunaan media dan model pembelajaran yang berbasis students center. Masalah klasik yang selama ini muncul adalah para siswa tidak memiliki keberanian untuk berbicara dalam Bahasa Inggris.

Mobile_AP_Rectangle 2

Korsleting strategi pembelajaran bahasa Inggris yang lumrah dilakukan secara berjamaah pada saat itu adalah karena sejak dari awal peserta didik dihadapkan dengan aturan-aturan atau rumus pola kalimat yang berbeda-beda dan juga cara pengucapan yang bagi peserta didik dirasakan berat dan sulit. Laksana kamus cinta yang bersabda “jatuh cinta pada pandangan dan kesan pertama” tidak bisa ditemukan oleh para peserta didik pada saat jumpa perdana dengan mata pelajaran bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa Inggris yang konvensional pada masa lampau, di mana guru menerangkan pola-pola kalimat dan memberikan contoh-contohnya. Kemudian, siswa disajikan latihan soal-soal untuk dikerjakan. Maka dari sinilah “kiamat sughra” itu datang. Sehingga, dengan sangat cepat stigma bahwa mata pelajaran bahasa Inggris adalah pembelajaran menakutkan dan hanya bisa menghadirkan ketegangan di kelas. Ironisnya, pada saat itu peran guru sebagai motivator sangat rendah, yang lebih banyak adalah guru yang hanya melakukan transfer of knowledge dengan harapan dapat mencapai tuntutan kurikulum dari rentang waktu pembelajaran yang ditentukan. Pada dasarnya, jika guru mampu menghadirkan bahasa Inggris dengan strategi yang tepat maka para peserta didik akan mengetahui bahwa mempelajari bahasa Inggris itu tidak sesulit yang mereka bayangkan, maka akan dengan senang hati mempelajarinya.

Guru sebagai garda terdepan pembangunan generasi muda masa depan bangsa dituntut untuk membuat proses pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Harapannya, peserta didik akan tertarik dengan pelajarannya dan memudahkan mereka untuk mempelajarinya dengan semangat merdeka belajar. Kunci utamanya, guru harus memahami bahwa jalan hidupnya itu selain sebagai pendidik dan pengajar, juga sebagai motivator dengan fokus utama bahwa semua peserta didiknya mempunyai dorongan yang kuat untuk belajar. Berdasarkan stigma pembelajaran bahasa Inggris di atas, tantangan guru bahasa Inggris tentu saja semakin berat bagaimana merancang strategi menghadirkan kelas daring pada pembelajaran bahasa Inggris yang berkualitas.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran Bahasa Inggris sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 menunjukkan proses yang sangat berbeda. Tatap muka di sekolah-sekolah di Indonesia telah berubah menjadi proses pembelajaran yang berjudul belajar dari rumah (BDR). Namun pada dasarnya, pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa SMK itu adalah pembelajaran yang menakutkan. Jika diberikan presentasi, pembelajaran bahasa Inggris nilai ketakutannya sepadan dengan pembelajaran matematika. Sehingga, bagi peserta didik predikat “istimewa” yang diberikan tidak jauh dari sambatan bahasa Inggris itu ‘menakutkan, bahasa Inggris itu sangat menyulitkan, bahasa Inggris itu meresahkan dan membosankan. Predikat yang turun temurun tersebut pada dasarnya berawal dari penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat dilakukan oleh guru.

Berdasarkan aspek productive dan receptive, pembelajaran bahasa Inggris terbagi menjadi 4 komponen bahasa, yaitu speaking dan writing (untuk aspek productive) serta reading dan listening (untuk aspek receptive). Keempat keterampilan tersebut merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan. Maka dari itu, dengan jelas Suyanto (1999) menyatakan bahwa kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris mencakup semua kompetensi bahasa yang berupa keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Berdasarkan pendapat Suyanto (1999) di atas, guru bahasa Inggris pada jenjang pendidikan SMK dengan keunikan karakter dan tujuan pendidikannya harus mampu menentukan skala prioritas kebutuhan tanpa mereduksi keterampilan berbahasa Inggris seluruhnya.

Permasalahan yang sering muncul dalam proses pembelajaran bahasa Inggris bagi mayoritas siswa, biasanya disebabkan oleh dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri siswa, di dalamnya termasuk motivasi untuk belajar dan keaktifan dalam proses belajar. Faktor eksternal biasanya para siswa kurang memperoleh stimulasi praktis dari guru, baik dengan mengajak berbicara maupun penggunaan media dan model pembelajaran yang berbasis students center. Masalah klasik yang selama ini muncul adalah para siswa tidak memiliki keberanian untuk berbicara dalam Bahasa Inggris.

Korsleting strategi pembelajaran bahasa Inggris yang lumrah dilakukan secara berjamaah pada saat itu adalah karena sejak dari awal peserta didik dihadapkan dengan aturan-aturan atau rumus pola kalimat yang berbeda-beda dan juga cara pengucapan yang bagi peserta didik dirasakan berat dan sulit. Laksana kamus cinta yang bersabda “jatuh cinta pada pandangan dan kesan pertama” tidak bisa ditemukan oleh para peserta didik pada saat jumpa perdana dengan mata pelajaran bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa Inggris yang konvensional pada masa lampau, di mana guru menerangkan pola-pola kalimat dan memberikan contoh-contohnya. Kemudian, siswa disajikan latihan soal-soal untuk dikerjakan. Maka dari sinilah “kiamat sughra” itu datang. Sehingga, dengan sangat cepat stigma bahwa mata pelajaran bahasa Inggris adalah pembelajaran menakutkan dan hanya bisa menghadirkan ketegangan di kelas. Ironisnya, pada saat itu peran guru sebagai motivator sangat rendah, yang lebih banyak adalah guru yang hanya melakukan transfer of knowledge dengan harapan dapat mencapai tuntutan kurikulum dari rentang waktu pembelajaran yang ditentukan. Pada dasarnya, jika guru mampu menghadirkan bahasa Inggris dengan strategi yang tepat maka para peserta didik akan mengetahui bahwa mempelajari bahasa Inggris itu tidak sesulit yang mereka bayangkan, maka akan dengan senang hati mempelajarinya.

Guru sebagai garda terdepan pembangunan generasi muda masa depan bangsa dituntut untuk membuat proses pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Harapannya, peserta didik akan tertarik dengan pelajarannya dan memudahkan mereka untuk mempelajarinya dengan semangat merdeka belajar. Kunci utamanya, guru harus memahami bahwa jalan hidupnya itu selain sebagai pendidik dan pengajar, juga sebagai motivator dengan fokus utama bahwa semua peserta didiknya mempunyai dorongan yang kuat untuk belajar. Berdasarkan stigma pembelajaran bahasa Inggris di atas, tantangan guru bahasa Inggris tentu saja semakin berat bagaimana merancang strategi menghadirkan kelas daring pada pembelajaran bahasa Inggris yang berkualitas.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pembelajaran Bahasa Inggris sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 menunjukkan proses yang sangat berbeda. Tatap muka di sekolah-sekolah di Indonesia telah berubah menjadi proses pembelajaran yang berjudul belajar dari rumah (BDR). Namun pada dasarnya, pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa SMK itu adalah pembelajaran yang menakutkan. Jika diberikan presentasi, pembelajaran bahasa Inggris nilai ketakutannya sepadan dengan pembelajaran matematika. Sehingga, bagi peserta didik predikat “istimewa” yang diberikan tidak jauh dari sambatan bahasa Inggris itu ‘menakutkan, bahasa Inggris itu sangat menyulitkan, bahasa Inggris itu meresahkan dan membosankan. Predikat yang turun temurun tersebut pada dasarnya berawal dari penerapan strategi pembelajaran yang kurang tepat dilakukan oleh guru.

Berdasarkan aspek productive dan receptive, pembelajaran bahasa Inggris terbagi menjadi 4 komponen bahasa, yaitu speaking dan writing (untuk aspek productive) serta reading dan listening (untuk aspek receptive). Keempat keterampilan tersebut merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan. Maka dari itu, dengan jelas Suyanto (1999) menyatakan bahwa kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris mencakup semua kompetensi bahasa yang berupa keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing). Berdasarkan pendapat Suyanto (1999) di atas, guru bahasa Inggris pada jenjang pendidikan SMK dengan keunikan karakter dan tujuan pendidikannya harus mampu menentukan skala prioritas kebutuhan tanpa mereduksi keterampilan berbahasa Inggris seluruhnya.

Permasalahan yang sering muncul dalam proses pembelajaran bahasa Inggris bagi mayoritas siswa, biasanya disebabkan oleh dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang muncul dari dalam diri siswa, di dalamnya termasuk motivasi untuk belajar dan keaktifan dalam proses belajar. Faktor eksternal biasanya para siswa kurang memperoleh stimulasi praktis dari guru, baik dengan mengajak berbicara maupun penggunaan media dan model pembelajaran yang berbasis students center. Masalah klasik yang selama ini muncul adalah para siswa tidak memiliki keberanian untuk berbicara dalam Bahasa Inggris.

Korsleting strategi pembelajaran bahasa Inggris yang lumrah dilakukan secara berjamaah pada saat itu adalah karena sejak dari awal peserta didik dihadapkan dengan aturan-aturan atau rumus pola kalimat yang berbeda-beda dan juga cara pengucapan yang bagi peserta didik dirasakan berat dan sulit. Laksana kamus cinta yang bersabda “jatuh cinta pada pandangan dan kesan pertama” tidak bisa ditemukan oleh para peserta didik pada saat jumpa perdana dengan mata pelajaran bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa Inggris yang konvensional pada masa lampau, di mana guru menerangkan pola-pola kalimat dan memberikan contoh-contohnya. Kemudian, siswa disajikan latihan soal-soal untuk dikerjakan. Maka dari sinilah “kiamat sughra” itu datang. Sehingga, dengan sangat cepat stigma bahwa mata pelajaran bahasa Inggris adalah pembelajaran menakutkan dan hanya bisa menghadirkan ketegangan di kelas. Ironisnya, pada saat itu peran guru sebagai motivator sangat rendah, yang lebih banyak adalah guru yang hanya melakukan transfer of knowledge dengan harapan dapat mencapai tuntutan kurikulum dari rentang waktu pembelajaran yang ditentukan. Pada dasarnya, jika guru mampu menghadirkan bahasa Inggris dengan strategi yang tepat maka para peserta didik akan mengetahui bahwa mempelajari bahasa Inggris itu tidak sesulit yang mereka bayangkan, maka akan dengan senang hati mempelajarinya.

Guru sebagai garda terdepan pembangunan generasi muda masa depan bangsa dituntut untuk membuat proses pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Harapannya, peserta didik akan tertarik dengan pelajarannya dan memudahkan mereka untuk mempelajarinya dengan semangat merdeka belajar. Kunci utamanya, guru harus memahami bahwa jalan hidupnya itu selain sebagai pendidik dan pengajar, juga sebagai motivator dengan fokus utama bahwa semua peserta didiknya mempunyai dorongan yang kuat untuk belajar. Berdasarkan stigma pembelajaran bahasa Inggris di atas, tantangan guru bahasa Inggris tentu saja semakin berat bagaimana merancang strategi menghadirkan kelas daring pada pembelajaran bahasa Inggris yang berkualitas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/