Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gerhana Bulan 14 Ramadan: Antara Mitos Batara Kala, Ramalan Primbon, dan Pesan Tauhid dalam Islam!

Imron Hidayatullahh • Selasa, 3 Maret 2026 | 04:00 WIB

Ilustrasi gerhana bulan 'Blood Moon'.
Ilustrasi gerhana bulan 'Blood Moon'.

Radar Jember - Bagi masyarakat Jawa, gerhana Bulan bukan sekadar peristiwa langit yang gelap. Ia adalah momen penuh pralambang (simbol).

Secara sains, BMKG menjelaskan gerhana terjadi saat posisi Bumi menghalangi sinar Matahari menuju Bulan. Namun, di balik penjelasan ilmiah itu, terbentang narasi mitologi yang telah berakar kuat dalam memori kolektif masyarakat.

Narasi Mitologi: Amukan Batara Kala dan Keselamatan Bayi

Mitos yang paling melegenda adalah kisah Batara Kala. Konon, raksasa anak Batara Guru ini menelan Bulan karena dendam lama.

Kegelapan yang timbul memicu masyarakat untuk melakukan tradisi "membangunkan" Bulan dengan memukul lesung atau lumpang hingga berisik, berharap sang raksasa memuntahkan kembali rembulan tersebut.

Baca Juga: Siapkan Kamera! Besok Malam Langit Indonesia Akan Dihiasi Gerhana Bulan Total 'Blood Moon'

Bagi wanita hamil, mitos ini membawa ritual khusus. Mengutip studi dari UIN Walisongo, ada kepercayaan bahwa ibu hamil harus:

Tujuannya? Agar sang buah hati terhindar dari marabahaya atau cacat fisik, seperti wajah yang menghitam sebagian. Meski terdengar tidak logis di era modern, bagi sebagian orang, ini adalah bentuk ikhtiar menjaga keselamatan.

Baca Juga: Dampak Perang Iran Vs Israel-AS Picu Gejolak Pasar Global, Gus Fawait: MBG dan KMP Bisa Jadi Proteksi

Tafsir Primbon: Membaca Masa Depan dari Waktu Kejadian

Kitab Primbon Jawa Serbaguna karya R. Gunasasmita membedah gerhana melalui waktu terjadinya (bulan Hijriah). Setiap bulan membawa pesan berbeda:

Perspektif Islam: Fenomena Alam sebagai Tanda Kebesaran

Islam datang dengan narasi yang menepis segala bentuk takhayul dan ketakutan. Muhammadiyah menegaskan bahwa gerhana adalah murni bukti kekuasaan Allah SWT, tidak ada kaitannya dengan nasib buruk atau kematian seseorang.

Rasulullah SAW bersabda untuk meluruskan anggapan masyarakat kala itu:

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Imbau Tunda Umrah

Alih-alih bersembunyi di bawah meja, umat Islam justru diajak untuk "bertemu" Sang Pencipta melalui Salat Khusuf (Gerhana Bulan). Ini adalah momen untuk memperbanyak doa, takbir, dan sedekah, mengubah kegelapan langit menjadi cahaya batin melalui ibadah.

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#gerhana bulan #jawa #BMKG #mitos gerhana bulan #pralambang