Radar Jember - Bagi masyarakat Jawa, gerhana Bulan bukan sekadar peristiwa langit yang gelap. Ia adalah momen penuh pralambang (simbol).
Secara sains, BMKG menjelaskan gerhana terjadi saat posisi Bumi menghalangi sinar Matahari menuju Bulan. Namun, di balik penjelasan ilmiah itu, terbentang narasi mitologi yang telah berakar kuat dalam memori kolektif masyarakat.
Narasi Mitologi: Amukan Batara Kala dan Keselamatan Bayi
Mitos yang paling melegenda adalah kisah Batara Kala. Konon, raksasa anak Batara Guru ini menelan Bulan karena dendam lama.
Kegelapan yang timbul memicu masyarakat untuk melakukan tradisi "membangunkan" Bulan dengan memukul lesung atau lumpang hingga berisik, berharap sang raksasa memuntahkan kembali rembulan tersebut.
Baca Juga: Siapkan Kamera! Besok Malam Langit Indonesia Akan Dihiasi Gerhana Bulan Total 'Blood Moon'
Bagi wanita hamil, mitos ini membawa ritual khusus. Mengutip studi dari UIN Walisongo, ada kepercayaan bahwa ibu hamil harus:
- Mengolesi perut dengan abu sisa pembakaran.
- Bersembunyi di bawah tempat tidur atau meja.
Tujuannya? Agar sang buah hati terhindar dari marabahaya atau cacat fisik, seperti wajah yang menghitam sebagian. Meski terdengar tidak logis di era modern, bagi sebagian orang, ini adalah bentuk ikhtiar menjaga keselamatan.
Tafsir Primbon: Membaca Masa Depan dari Waktu Kejadian
Kitab Primbon Jawa Serbaguna karya R. Gunasasmita membedah gerhana melalui waktu terjadinya (bulan Hijriah). Setiap bulan membawa pesan berbeda:
- Sura & Sapar: Pertanda datangnya banyak masalah atau lonjakan harga kebutuhan pokok.
- Jumadil Akhir & Besar: Membawa kabar baik berupa masa kemakmuran dan harga pangan yang murah.
- Puasa (Ramadan): Pertanda datangnya kebahagiaan, meski tetap perlu waspada terhadap ancaman penyakit.
Perspektif Islam: Fenomena Alam sebagai Tanda Kebesaran
Islam datang dengan narasi yang menepis segala bentuk takhayul dan ketakutan. Muhammadiyah menegaskan bahwa gerhana adalah murni bukti kekuasaan Allah SWT, tidak ada kaitannya dengan nasib buruk atau kematian seseorang.
Rasulullah SAW bersabda untuk meluruskan anggapan masyarakat kala itu:
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Imbau Tunda Umrah
Alih-alih bersembunyi di bawah meja, umat Islam justru diajak untuk "bertemu" Sang Pencipta melalui Salat Khusuf (Gerhana Bulan). Ini adalah momen untuk memperbanyak doa, takbir, dan sedekah, mengubah kegelapan langit menjadi cahaya batin melalui ibadah.
Editor : Imron Hidayatullahh