RADAR JEMBER - Laman media sosial warga Jawa Tengah sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena bencana alam, tapi karena "bencana dompet" yang bikin rakyat menjerit serempak.
Tagar dan seruan "Stop Bayar Pajak" mulai menggema liar di kolom komentar dan status warga. Apa pemicunya?
- Kaget Lihat Tagihan, Naik Gila-gilaan!
Awal tahun 2026 ini menjadi mimpi buruk bagi pemilik kendaraan di Jateng. Saat mengecek info pajak di aplikasi atau STNK, angkanya melonjak drastis.
Tidak tanggung-tanggung, kenaikannya dilaporkan mencapai 40% hingga 60%.
Warga yang biasanya bayar 1 jutaan, tiba-tiba ditagih hampir 2 juta. Jelas, emosi warga langsung meledak.
- Gara-gara "Opsen" Pajak.
Biang kerok dari kenaikan "ugal-ugalan" ini adalah aturan baru bernama Opsen. Bahasa sederhananya: Kabupaten/Kota sekarang ikut "nebeng" minta jatah sebesar 66% di dalam tagihan pajak provinsimu. Niat pemerintah mungkin baik untuk kemandirian daerah, tapi eksekusinya dirasa mencekik leher rakyat yang ekonominya belum pulih.
- Protes Digital: "Mending Buat Makan!"
Di media sosial, narasi protes bertebaran. "Beras mahal, kerjaan susah, pajak malah dipalak seenaknya," tulis salah satu netizen.
Gerakan "Stop Bayar Pajak" ini muncul bukan karena warga ingin melanggar hukum, tapi sebagai bentuk mosi tidak percaya dan ketidakmampuan bayar. Mereka merasa pemerintah tidak peka dengan kondisi perut rakyat.
- Simalakama Denda.
Tapi ingat, ini jebakan betmen. Jika kamu ikut-ikutan mogok bayar pajak sekarang, risikonya berat. Bapenda Jateng menargetkan tidak ada pemutihan denda tahun ini.
Artinya, protesmu bisa berujung hutang denda yang makin menumpuk di kemudian hari.
Editor : M. Ainul Budi