Radar Jember - Ruang redaksi di seluruh kantor media di berbagai pelosok negeri seperti diajak pulang ke akar sejarahnya setiap tanggal 9 Februari.
Sejak era meja kayu pada masa pergerakan hingga kini bertransformasi ke layar digital yang dikendalikan algoritma, pers Indonesia terbukti konsisten berdiri bersama zaman.
Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Serang, Banten, pada Senin (9/2/2026), bukan sekadar seremoni penggugur kewajiban.
Ini adalah titik balik bagi insan media untuk menatap dua arah. Menghargai jejak perjuangan masa lalu dan bersiap menghadapi tantangan besar menuju Indonesia Emas 2045.
Pers Sehat, Fondasi Ekonomi Berdaulat
Tema tahun ini, ‘Pers Sehat Ekonomi Berdaulat Bangsa Kuat’, bukanlah sekadar rangkaian kata tanpa makna.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam sambutannya menegaskan posisi vital pers dalam struktur kenegaraan.
Bagi Munir, pers bukan sekadar industri pencari cuan atau penyebar informasi, melainkan fondasi demokrasi dan pembangunan nasional.
Kaitan antara kesehatan pers dengan ekonomi sangatlah erat.
Di tengah ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen demi keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap), pers memegang peran strategis sebagai pengawas dan penyedia data akurat bagi publik.
Bertahan di Tengah Badai Digital dan AI
Realitas di lapangan tidaklah mudah. Satu dekade terakhir, lanskap media berubah total.
Data Dewan Pers menunjukkan fenomena pahit: banyak perusahaan media yang berguguran akibat terpaan bisnis dan perubahan pola konsumsi informasi.
Tantangan ini kian pelik dengan munculnya beberapa isu krusial:
- Banjir Informasi: Dengan penetrasi internet melampaui 70 persen, masyarakat kini dibombardir informasi tanpa batas yang sering kali mengabaikan akurasi demi kecepatan.
- Krisis Kepercayaan: Laporan Reuters Institute Digital News Report mencatat penurunan kepercayaan publik akibat maraknya disinformasi.
- Dominasi Algoritma: Media sosial kini lebih menentukan apa yang layak dilihat masyarakat ketimbang proses verifikasi jurnalistik yang ketat.
- Ancaman AI: Kecerdasan buatan memang mempercepat produksi konten, namun berisiko melipatgandakan misinformasi jika literasi digital kita jalan di tempat.
Dalam konteks inilah, gagasan ‘pers sehat’ menemukan urgensinya. Tanpa fondasi ekonomi yang kokoh, media akan mudah terjebak dalam jurnalisme sensasional atau sekadar memuaskan kepentingan jangka pendek.
Menjaga Nurani, Mengawal Demokrasi
Sejarah pers Indonesia adalah sejarah keberanian. Kini, ancaman pers bukan lagi sensor fisik ala era kolonial, melainkan polarisasi sosial yang tajam.
HPN 2026 mengajak insan pers kembali ke jati diri mereka: menjadi kurator kebenaran dan penjaga nurani publik.
Kritik terhadap pemerintah harus dipandang sebagai tanggung jawab konstitusional, bukan ekspresi permusuhan.
Sebaliknya, dukungan terhadap kebijakan yang pro-rakyat adalah bentuk objektivitas.
Pers tidak boleh berdiri di atas kepentingan sempit; ia wajib berdiri di atas kepentingan publik.
Menuju 2045, ada tiga agenda besar yang mendesak:
- Kolaborasi Verifikasi: Memperkuat ekosistem nasional untuk melawan hoaks.
- Transparansi Algoritma: Mendorong dialog agar distribusi informasi digital lebih adil.
- Investigasi & Data: Memperluas kapasitas jurnalisme untuk mengawal proyek strategis nasional.
Pers yang sehat dimulai dari insan pers yang terlindungi, sejahtera, dan dihargai.
HPN 2026 adalah pengingat bahwa bangsa yang kuat membutuhkan informasi yang jernih, dan ekonomi yang berdaulat membutuhkan transparansi yang tanpa kompromi.
Editor : Imron Hidayatullahh