radar jember - Lebaran Haji, atau yang secara resmi dikenal sebagai Hari Raya Idul Adha, merupakan salah satu momen penting dalam kalender umat Islam.
Perayaan ini tidak hanya berkaitan dengan ritual kurban, tetapi juga memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam.
Mengapa Disebut Lebaran Haji?
Di Indonesia, masyarakat sering menyebut Idul Adha sebagai “Lebaran Haji” karena perayaannya bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.
Saat umat Muslim di seluruh dunia menyembelih hewan kurban, jutaan jemaah haji sedang menjalankan puncak ibadah mereka, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Istilah Idul Adha sendiri berasal dari bahasa Arab, di mana "‘id" berarti kembali dan "adha" merujuk pada pengorbanan (dari kata "udhiyah").
Maka, Idul Adha dapat dimaknai sebagai hari kembalinya umat Islam kepada semangat pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Sejarah Kurban dalam Islam
Tradisi kurban yang menjadi inti dari perayaan Idul Adha berakar dari kisah Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail.
Menurut kisah dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim menerima wahyu melalui mimpi bahwa ia harus mengorbankan putranya sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah.
Ketika hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan sebagai bentuk penghargaan atas ketaatan mereka.
Kisah ini menjadi simbol ketundukan total kepada kehendak Ilahi, yang kemudian diwariskan menjadi praktik kurban setiap tahunnya.
Kapan Lebaran Haji 2025?
Penentuan tanggal Idul Adha setiap tahunnya mengikuti kalender Hijriah, yang berbasis lunar atau bulan.
Tahun ini, menurut prediksi Kementerian Agama RI, 10 Zulhijah 1446 H—yang merupakan hari Idul Adha—akan jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.
Hal ini senada dengan prediksi dari organisasi Muhammadiyah, yang menetapkan 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada 28 Mei 2025. Oleh karena itu, 10 Zulhijah atau Idul Adha diperkirakan akan dirayakan pada 6 Juni 2025.
Namun, penting untuk dicatat bahwa tanggal ini masih bersifat sementara dan akan dikukuhkan melalui sidang isbat pemerintah berdasarkan metode rukyatul hilal dan hisab.
Perbedaan Penanggalan dan Pengamatan Hilal
Salah satu alasan mengapa tanggal Idul Adha bisa berbeda antar negara atau organisasi adalah karena metode pengamatan hilal (bulan sabit) yang digunakan bisa bervariasi.
Di Indonesia, pemerintah mengadopsi kriteria visibilitas hilal yang dirumuskan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang mulai digunakan sejak 2022.
Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dianggap terlihat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi (jarak sudut bulan ke matahari) minimal 6,4 derajat.
Lebaran Haji bukan hanya sekadar momentum untuk berkurban, melainkan juga pengingat akan nilai-nilai keteguhan iman, kepatuhan, dan pengorbanan.
Memahami sejarah dan penetapan waktunya bukan hanya memperkaya wawasan keislaman, tetapi juga membantu masyarakat dalam merencanakan kegiatan keagamaan dan sosial secara lebih baik.
Editor : M. Ainul Budi