Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengapa Idul Fitri Bisa Berbeda? Begini Metode Penetapan Muhammadiyah, NU, dan Arab Saudi

Radar Digital • Jumat, 28 Maret 2025 | 18:15 WIB
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1444 Hijriah pada Rabu, 22 Maret 2023.
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1444 Hijriah pada Rabu, 22 Maret 2023.

radar jember - Penetapan tanggal 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri seringkali berbeda antara organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), serta negara seperti Arab Saudi. Perbedaan ini terutama disebabkan oleh metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan. Menurut metode ini, awal bulan baru dimulai jika:

  1. Konjungsi (ijtimak) antara matahari dan bulan telah terjadi.
  2. Bulan terbenam setelah matahari terbenam.

Jika kedua syarat tersebut terpenuhi, maka malam itu sudah dianggap masuk bulan baru, tanpa perlu melihat hilal secara langsung. Oleh karena itu, Muhammadiyah dapat menetapkan tanggal 1 Syawal jauh hari sebelumnya berdasarkan perhitungan ini. 

NU lebih mengutamakan metode rukyatul hilal, yaitu observasi langsung terhadap hilal (bulan sabit muda) setelah matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadhan. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Syawal. Jika tidak, bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Metode ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa dan berhari raya berdasarkan penglihatan hilal. 

Arab Saudi juga menggunakan metode rukyatul hilal dalam menetapkan awal bulan Hijriah. Pemerintah Arab Saudi biasanya mengeluarkan seruan kepada masyarakat untuk melakukan pengamatan hilal. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Sebagai contoh, pada tahun 2024, Arab Saudi menetapkan Idul Fitri jatuh pada Rabu, 10 April 2024, setelah hilal tidak terlihat pada hari sebelumnya. 

Perbedaan metode antara hisab dan rukyat dapat menyebabkan perbedaan dalam penetapan tanggal 1 Syawal. Misalnya, pada tahun 2023, Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri pada Jumat, 21 April 2023, berdasarkan perhitungan hisab. Sementara itu, NU dan pemerintah Indonesia menunggu hasil rukyat untuk menetapkan tanggal Idul Fitri. 

Perbedaan ini dianggap lumrah dan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menekankan bahwa perbedaan penetapan Idul Fitri bukanlah antara Muhammadiyah dan NU semata, melainkan perbedaan dalam memahami hadis Nabi dan pendekatan dalam menetapkan hukum. Ia mengajak semua pihak untuk membuka wawasan dan membina persatuan, menerima perbedaan sebagai bagian dari keragaman. 

Perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah antara Muhammadiyah, NU, dan Arab Saudi mencerminkan keragaman dalam praktik keagamaan umat Islam. Meskipun terdapat perbedaan, esensi perayaan Idul Fitri sebagai momen kemenangan dan kebersamaan tetap menjadi inti yang menyatukan umat.

Editor : M. Ainul Budi
#Idul Fitri #sidang isbat #Muhammadiyah #metode hisab #1 syawal #nu