Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Apa yang Terjadi di Balik Dinding Tebal Penjara Kalisosok? Mengungkap Fakta-Fakta Mengejutkan Tentang Tahanan Politik dan Pejuang Kemerdekaan

Radar Digital • Kamis, 12 September 2024 | 16:30 WIB
sumber foto: jawa pos
sumber foto: jawa pos

 

Radar Jember – Setiap provinsi di Indonesia memiliki sejarahnya yang unik, terutama pada masa perjuangan kemerdekaan.

Tidak jarang, masa-masa tersebut dipenuhi dengan berbagai peristiwa berdarah yang menelan banyak korban jiwa.

Kehidupan di bawah pemerintahan penjajah membuat masyarakat setempat menderita dan dipaksa bekerja keras dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi.

Contohnya, ribuan pekerja tewas selama proyek pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang diinisiasi oleh Daendels.

Dalam situasi yang penuh tekanan ini, banyak tokoh perjuangan harus menghadapi berbagai tantangan berat, termasuk risiko dipenjara jika mereka melawan penjajah.

Salah satu penjara yang menjadi saksi atas penahanan para pejuang kemerdekaan adalah Penjara Kalisosok di Surabaya.

Kota Surabaya pada masa lalu memiliki dua jenis penjara utama: Penjara Dalam Kota (Binnenboei) dan Penjara Luar Kota (Buitenboei).

Penjara Kalisosok sendiri berawal dari Penjara Binnenboei yang terletak di pusat kota Surabaya.

Pada tahun 1845, Penjara Binnenboei diusulkan untuk diperluas, dan proposal ini disetujui pada tahun 1848.

Renovasi besar-besaran pun dilakukan hingga tahun 1850 dengan menghabiskan biaya 60.000 Gulden, setara dengan Rp520 juta dalam nilai tukar saat ini.

Ketika renovasi selesai, 12 ruang tahanan baru dibangun dan langsung digunakan. Sementara itu, Penjara Buitenboei yang berada di luar kota Surabaya dibongkar sepenuhnya.

Penjara Kalisosok yang dikenal dengan nama Werfstraat Gevangenis di kalangan Belanda, dan disebut "Bui" oleh penduduk lokal, didirikan atas perintah Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808.

Lokasinya berada di Kalisosok, Surabaya, tepatnya di kawasan Jalan Werf atau dekat Jalan Rajawali dan Kembang Jepun.

Penjara ini digunakan untuk menahan sejumlah tokoh penting yang dianggap ancaman oleh pemerintah kolonial Belanda, seperti Soekarno, Wage Rudolf Soepratman, dan Kiai Haji Mas Mansur.

Meskipun sekarang Penjara Kalisosok sudah tidak lagi berfungsi sebagai penjara dan telah dimiliki oleh PT Fairco Jaya Dwipa, tempat ini tetap menjadi bangunan bersejarah.

Desainnya yang berarsitektur kolonial masih dipertahankan meskipun banyak bagian bangunan, seperti pintu, dinding, dan atap, sudah terlihat tua dan kusam.

Meski tidak terawat, pintu masuknya masih kokoh dan di bagian atasnya terdapat kantor sipir penjara. Di sisi kiri pintu masuk, ada plakat yang menyatakan bahwa bangunan ini dilindungi sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Penjara Kalisosok memiliki status sebagai cagar budaya tipe A, yang berarti bangunan ini tidak boleh diubah atau dihancurkan. Saat ini, penjara ini terletak di Jalan Kasuari Nomor 5, Krembangan, Surabaya, Jawa Timur.

Penjara ini dikenal sebagai tempat yang menyeramkan karena keketatannya. Setiap tahanan dipasangi bola besi di kaki mereka untuk mencegah kabur, dan ruang tahanannya sangat sempit—hanya berukuran 2,5 x 5 meter dan sering dipaksa menampung lebih banyak orang daripada kapasitas seharusnya.

Anehnya, meski dikenal ketat, Penjara Kalisosok juga dianggap sebagai penjara yang "nyaman" pada masanya.

Beberapa tahanan pribumi bersaksi bahwa mereka menerima makanan yang enak, dan para tahanan Belanda sering melaporkan tentang kondisi kamar yang bersih dan nyaman, serta kebun yang terawat.

Editor : Radar Digital
#Surabaya #kalisosok #kalisosok tempat pejuang #sejarah Surabaya