Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Nasib Brondong Ketan Merana Tak Lama Lagi Tinggal Nama

Safitri • Selasa, 6 Juni 2023 | 01:18 WIB
Tampak seorang perempuan terlihat sibuk memproses pembuatan berondong ketan di Dusun Ngumpak, Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur.
Tampak seorang perempuan terlihat sibuk memproses pembuatan berondong ketan di Dusun Ngumpak, Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur.
JOMBANG, RADARJEMBER.ID - Jajanan jadul brondong ketan kini semakin sulit ditemui karena terbilang langka. Di Dusun Ngumpak, Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Jombang, Jawa Timur, namun masih ada satu keluarga memproduksi jajanan itu.

BACA JUGA : Raih Medali SEA Games, Tiga Atlet Depok Dapat Dana Imbal Prestasi

Pembuatan berondong ketan dilakukan secara tradisional dan turun temurun.Ahmad Surasmintuhu, 42, generasi ketiga dari keluarga dia adalah produsen berondong ketan. ’’Sudah puluhan tahun, sejak zaman kakek nenek saya.”kata Ahmad,

Pria tersebut setiap hari akrab disapa Amin, menceritakan, proses pembuatan berondong ketan terbilang cukup sederhana. Pertama, gabah ketan di­­bersihkan dari kulit dan kotoran menggunakan tampah bambu, istilahnya ditapeni.

Setelah bersih, kemudian gabah disangrai menggunakan abu ke dalam kendil dan telah dipanaskan dengan bara api sedang. Biasanya menggunakan kayu dan kulit gabah agar api lebih awet menyala

’’Kita aduk dengan sapu lidi kurang lebih 5 menit sampai gabah ketan meledak jadi berondong,’’ujar dia.Berondong matang disortir lagi dengan cara diayak dengan tampah bambu. ’’Kemudian proses terakhir kita campur dengan gula agar rasanya manis.”imbuh Ahmad.

Jajanan jadul berondong ketan itu sama sekali tidak menggunakan bahan pewarna dan pengawet. Dalam kemasan plastik, berondong bisa bertahan selama tiga hari. ’’Pernah kita coba menggunakan berbagai varian rasa, namun rasanya malah menjadi aneh, “terang pria itu.

Jajan berondong dijual per ikat dengan harga Rp 7 ribu berisi 10 kemasan plastik. Harga tersebut sejak dulu tak mengalami perubahan banyak. ’’Per ikat Rp 7 ribu, tapi kalau beli banyak ada bonusnya.”ucap lelaki itu.

Penjualannya selama ini di Jombang dan Mojokerto. Keterbatasan tenaga membuat produksi berondong terbatas setiap harinya. ’’Pengirimannya paling jauh ke Mojokerto dan pasar Peterongan.”pungkas dia.(*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Istimewa

Sumber Berita:Jawa Pos Radar Jombang

  Editor : Safitri
#Kuliner