22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Buku Menarik Rangsang Minat Baca Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

BIMA, RADARJEMBER.ID – Ahmad, seorang pegiat pendidikan di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan pekerjaan dia sebagai dosen dan memilih jalan sunyi.

BACA JUGA : Lakukan KDRT, Seorang Pria di Sibolga Ditangkap Polisi

Hatinya terketuk ketika melihat anak-anak di desanya lebih piawai memainkan gawai dibanding membaca buku. Ahmad bertekad membangunkan anak-anak itu dari tidur panjang. Rencana ia susun dan lahirlah Uma Lengge Mengajar.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lelaki itu mengaku bahwa sejak kecil ia dan kawan-kawan sudah gemar membaca buku, meski kala itu akses buku masih sangat minim. Ahmad dan anak-anak di desa pun biasa membaca Al Qur’an selepas magrib di langgar.

Hal tersebut menandakan bahwa kegiatan membaca begitu lekat dalam keseharian mereka. Kegelisahan Ahmad muncul setelah bertahun-tahun merantau dan kembali ke kampung halaman. Ia melihat sendiri perubahan kebiasaan terjadi pada anak-anak di desa tempat dia dilahirkan.

Selain lebih akrab dengan gawai, aktivitas belajar mengaji setelah magrib pun mulai berkurang. Bahkan, sebagian anak terjebak dalam kenakalan remaja. Padahal, menurut Ahmad, jumlah sarjana dan mahasiswa di Kecamatan Wawo tak bisa dibilang sedikit.

Namun, kehadiran kaum intelektual kampus belum berbanding lurus dengan kualitas sumber daya dan moralitas masyarakat. Sebagai dosen lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan guru pondok pesantren, ia prihatin dengan keadaan tersebut.

Pria berusia tiga puluh tahun tersebut lantas menelaah permasalahan sosial dan melanda kampung halaman. Hasil penelusuran Ahmad menunjukkan bahwa tingkat literasi dasar sangat minim di kalangan anak usia Sekolah Dasar (SD).

- Advertisement -

BIMA, RADARJEMBER.ID – Ahmad, seorang pegiat pendidikan di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan pekerjaan dia sebagai dosen dan memilih jalan sunyi.

BACA JUGA : Lakukan KDRT, Seorang Pria di Sibolga Ditangkap Polisi

Hatinya terketuk ketika melihat anak-anak di desanya lebih piawai memainkan gawai dibanding membaca buku. Ahmad bertekad membangunkan anak-anak itu dari tidur panjang. Rencana ia susun dan lahirlah Uma Lengge Mengajar.

Lelaki itu mengaku bahwa sejak kecil ia dan kawan-kawan sudah gemar membaca buku, meski kala itu akses buku masih sangat minim. Ahmad dan anak-anak di desa pun biasa membaca Al Qur’an selepas magrib di langgar.

Hal tersebut menandakan bahwa kegiatan membaca begitu lekat dalam keseharian mereka. Kegelisahan Ahmad muncul setelah bertahun-tahun merantau dan kembali ke kampung halaman. Ia melihat sendiri perubahan kebiasaan terjadi pada anak-anak di desa tempat dia dilahirkan.

Selain lebih akrab dengan gawai, aktivitas belajar mengaji setelah magrib pun mulai berkurang. Bahkan, sebagian anak terjebak dalam kenakalan remaja. Padahal, menurut Ahmad, jumlah sarjana dan mahasiswa di Kecamatan Wawo tak bisa dibilang sedikit.

Namun, kehadiran kaum intelektual kampus belum berbanding lurus dengan kualitas sumber daya dan moralitas masyarakat. Sebagai dosen lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan guru pondok pesantren, ia prihatin dengan keadaan tersebut.

Pria berusia tiga puluh tahun tersebut lantas menelaah permasalahan sosial dan melanda kampung halaman. Hasil penelusuran Ahmad menunjukkan bahwa tingkat literasi dasar sangat minim di kalangan anak usia Sekolah Dasar (SD).

BIMA, RADARJEMBER.ID – Ahmad, seorang pegiat pendidikan di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan pekerjaan dia sebagai dosen dan memilih jalan sunyi.

BACA JUGA : Lakukan KDRT, Seorang Pria di Sibolga Ditangkap Polisi

Hatinya terketuk ketika melihat anak-anak di desanya lebih piawai memainkan gawai dibanding membaca buku. Ahmad bertekad membangunkan anak-anak itu dari tidur panjang. Rencana ia susun dan lahirlah Uma Lengge Mengajar.

Lelaki itu mengaku bahwa sejak kecil ia dan kawan-kawan sudah gemar membaca buku, meski kala itu akses buku masih sangat minim. Ahmad dan anak-anak di desa pun biasa membaca Al Qur’an selepas magrib di langgar.

Hal tersebut menandakan bahwa kegiatan membaca begitu lekat dalam keseharian mereka. Kegelisahan Ahmad muncul setelah bertahun-tahun merantau dan kembali ke kampung halaman. Ia melihat sendiri perubahan kebiasaan terjadi pada anak-anak di desa tempat dia dilahirkan.

Selain lebih akrab dengan gawai, aktivitas belajar mengaji setelah magrib pun mulai berkurang. Bahkan, sebagian anak terjebak dalam kenakalan remaja. Padahal, menurut Ahmad, jumlah sarjana dan mahasiswa di Kecamatan Wawo tak bisa dibilang sedikit.

Namun, kehadiran kaum intelektual kampus belum berbanding lurus dengan kualitas sumber daya dan moralitas masyarakat. Sebagai dosen lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan guru pondok pesantren, ia prihatin dengan keadaan tersebut.

Pria berusia tiga puluh tahun tersebut lantas menelaah permasalahan sosial dan melanda kampung halaman. Hasil penelusuran Ahmad menunjukkan bahwa tingkat literasi dasar sangat minim di kalangan anak usia Sekolah Dasar (SD).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca