25.5 C
Jember
Saturday, 10 June 2023

 Anggap Keterangan Saksi Tak Tunjukan Bukti Pidana

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Henry Yosodiningrat, Kuasa hukum Brigjen Pol Hendra Kurniawan dan Kombes Pol Agus Nurpatria, menilai keterangan saksi dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) tidak menunjukkan bukti tindak pidana terdakwa Hendra dan Agus dalam kasus perintangan penyidikan pembunuhan Brigadir J.

BACA JUGA : Awal Tahun 2023 Pemerintah Bakal Hapus Premium  

“Hari ini tidak ada satu pun barang bukti atau keterangan saksi yang bisa membuktikan bahwa dua orang terdakwa ini, Pak Hendra dan Pak Agus telah melakukan tindak pidana obstruction of justice,” kata Henry usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (27/10) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia mengatakan, sebagian besar keterangan saksi tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan yang didakwakan terhadap kliennya terkait obstruction of justice, terutama dalam peristiwa penggantian digital video recorder (DVR) kamera pengawas (CCTV) di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, tempat rumah dinas Ferdy Sambo berada.

“Apa yang dialami oleh saksi-saksi tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan terdakwa. Tadi juga sempat kami tanya apakah pernah bertemu dengan terdakwa, apakah pernah diperintahkan oleh terdakwa, apa kenal dengan terdakwa, malah tidak sama sekali,” tutur Hendri.

Keterangan saksi Ipda Tomser Kristianata dan Ipda M Munafri Bahtiar dan kebetulan merupakan anak buah AKP Irfan dalam persidangan disebutnya bertolak belakang dengan pernyataan Agus, sehingga menjadi dua versi berbeda. “Ada dua versi menurut Pak Agus, katanya ‘amankan’, kemudian menurut si Irfan itu (melalui) dua orang anggota Irfan (Tomser dan Munafri) mengatakan ‘copot dan ambil’,” ujar Henry.

Syahdan, Henry menyebut ada penafsiran berbeda atas perintah Agus untuk mengamankan DVR CCTV oleh Irfan dan anak buahnya yang notabene anggota Reserse Polri, di mana dimaknai diambil untuk kemudian diserahkan ke penyidik. “Katakan perintahnya amankan. Apakah diamankan itu ditungguin, pakai senjata atau apa itu atau dia ambil? Mereka bilang diambil kemudian untuk diserahkan kepada penyidik untuk kepentingan baik itu lidik maupun sidik,” katanya.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Henry Yosodiningrat, Kuasa hukum Brigjen Pol Hendra Kurniawan dan Kombes Pol Agus Nurpatria, menilai keterangan saksi dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) tidak menunjukkan bukti tindak pidana terdakwa Hendra dan Agus dalam kasus perintangan penyidikan pembunuhan Brigadir J.

BACA JUGA : Awal Tahun 2023 Pemerintah Bakal Hapus Premium  

“Hari ini tidak ada satu pun barang bukti atau keterangan saksi yang bisa membuktikan bahwa dua orang terdakwa ini, Pak Hendra dan Pak Agus telah melakukan tindak pidana obstruction of justice,” kata Henry usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (27/10) kemarin.

Ia mengatakan, sebagian besar keterangan saksi tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan yang didakwakan terhadap kliennya terkait obstruction of justice, terutama dalam peristiwa penggantian digital video recorder (DVR) kamera pengawas (CCTV) di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, tempat rumah dinas Ferdy Sambo berada.

“Apa yang dialami oleh saksi-saksi tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan terdakwa. Tadi juga sempat kami tanya apakah pernah bertemu dengan terdakwa, apakah pernah diperintahkan oleh terdakwa, apa kenal dengan terdakwa, malah tidak sama sekali,” tutur Hendri.

Keterangan saksi Ipda Tomser Kristianata dan Ipda M Munafri Bahtiar dan kebetulan merupakan anak buah AKP Irfan dalam persidangan disebutnya bertolak belakang dengan pernyataan Agus, sehingga menjadi dua versi berbeda. “Ada dua versi menurut Pak Agus, katanya ‘amankan’, kemudian menurut si Irfan itu (melalui) dua orang anggota Irfan (Tomser dan Munafri) mengatakan ‘copot dan ambil’,” ujar Henry.

Syahdan, Henry menyebut ada penafsiran berbeda atas perintah Agus untuk mengamankan DVR CCTV oleh Irfan dan anak buahnya yang notabene anggota Reserse Polri, di mana dimaknai diambil untuk kemudian diserahkan ke penyidik. “Katakan perintahnya amankan. Apakah diamankan itu ditungguin, pakai senjata atau apa itu atau dia ambil? Mereka bilang diambil kemudian untuk diserahkan kepada penyidik untuk kepentingan baik itu lidik maupun sidik,” katanya.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Henry Yosodiningrat, Kuasa hukum Brigjen Pol Hendra Kurniawan dan Kombes Pol Agus Nurpatria, menilai keterangan saksi dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) tidak menunjukkan bukti tindak pidana terdakwa Hendra dan Agus dalam kasus perintangan penyidikan pembunuhan Brigadir J.

BACA JUGA : Awal Tahun 2023 Pemerintah Bakal Hapus Premium  

“Hari ini tidak ada satu pun barang bukti atau keterangan saksi yang bisa membuktikan bahwa dua orang terdakwa ini, Pak Hendra dan Pak Agus telah melakukan tindak pidana obstruction of justice,” kata Henry usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (27/10) kemarin.

Ia mengatakan, sebagian besar keterangan saksi tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan yang didakwakan terhadap kliennya terkait obstruction of justice, terutama dalam peristiwa penggantian digital video recorder (DVR) kamera pengawas (CCTV) di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, tempat rumah dinas Ferdy Sambo berada.

“Apa yang dialami oleh saksi-saksi tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan terdakwa. Tadi juga sempat kami tanya apakah pernah bertemu dengan terdakwa, apakah pernah diperintahkan oleh terdakwa, apa kenal dengan terdakwa, malah tidak sama sekali,” tutur Hendri.

Keterangan saksi Ipda Tomser Kristianata dan Ipda M Munafri Bahtiar dan kebetulan merupakan anak buah AKP Irfan dalam persidangan disebutnya bertolak belakang dengan pernyataan Agus, sehingga menjadi dua versi berbeda. “Ada dua versi menurut Pak Agus, katanya ‘amankan’, kemudian menurut si Irfan itu (melalui) dua orang anggota Irfan (Tomser dan Munafri) mengatakan ‘copot dan ambil’,” ujar Henry.

Syahdan, Henry menyebut ada penafsiran berbeda atas perintah Agus untuk mengamankan DVR CCTV oleh Irfan dan anak buahnya yang notabene anggota Reserse Polri, di mana dimaknai diambil untuk kemudian diserahkan ke penyidik. “Katakan perintahnya amankan. Apakah diamankan itu ditungguin, pakai senjata atau apa itu atau dia ambil? Mereka bilang diambil kemudian untuk diserahkan kepada penyidik untuk kepentingan baik itu lidik maupun sidik,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca