alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Proses Ekshumasi dan Otopsi Sesuai Tata Cara yang Sudah Ditentukan

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID – Proses ekshumasi (pembongkaran makam) dan otopsi jenazah Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat  yang dilaksanakan tim dokter forensik dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) di RSUD Sungai Bahar kemarin (27/7) berjalan lancar.

Proses otopsi tuntas lebih kurang empat jam. Kemarin sore Kepala Departemen Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Ade Firmansyah Sugiharto yang memimpin otopsi menyampaikan keterangan kepada awak media.

Menurut Ade, proses ekshumasi dan otopsi berjalan sesuai tata cara yang sudah ditentukan. Tim dokter forensik memulai dengan pemeriksaan makam, kemudian mengawal penggalian makam dan melaksanakan otopsi di kamar jenazah RSUD Sungai Bahar. Proses itu dimulai pagi hingga menjelang sore.

Mobile_AP_Rectangle 2

”Sesuai dengan yang kami perkirakan sebelumnya, otopsi pasti memiliki beberapa kesulitan. Pertama, jenazah sudah diformalin dan mengalami beberapa derajat pembusukan,” bebernya.

Namun, kendala tersebut tidak menjadi soal. Tim dokter forensik yang dia pimpin mampu mengatasinya. Mereka tetap dapat mengidentifikasi luka-luka yang ada di tubuh Brigadir Yosua. Sayang, Ade belum membuka secara jelas penyebab luka-luka tersebut. Alasannya, timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”Semua sampel telah kami kumpulkan dan akan kami bawa ke Jakarta untuk diperiksa secara mikroskopis di Laboratorium Patologi Anatomi RSCM,” jelasnya.

Ketika ditanya ada atau tidak temuan luka di tubuh Brigadir Yosua yang tidak disebabkan tembakan, Ade menyampaikan bahwa timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dia menyebutkan, luka-luka itu bakal dipastikan muncul sebelum atau setelah Yosua meninggal dunia. Menurut dia, dibutuhkan waktu dua sampai empat minggu untuk memproses sampel jaringan dari tubuh Yosua yang dibawa ke Jakarta. ”Sekitar empat sampai delapan minggu sampai keluar hasil yang bisa kami berikan kepada penyidik,” tegasnya.

Tentu ada beberapa informasi yang juga disampaikan tim dokter forensik kepada keluarga Yosua. Utamanya informasi yang diharapkan pihak keluarga dan telah disampaikan dalam pertemuan pada Selasa (26/7) malam lalu. ”Informasi sejauh mana (yang disampaikan kepada pihak keluarga, Red), sejauh tidak mengganggu jalannya penyidikan,” ujar dia. Sebagai saksi ahli, tim dokter forensik hanya wajib menyampaikan hasil otopsi kepada penyidik yang menangani kasus tersebut.

Ade memastikan bahwa setelah otopsi dilakukan, tim yang dia pimpin kembali bertemu dengan pihak keluarga. Mereka menyampaikan bahwa otopsi yang dilakukan sudah selesai. Kemudian menyampaikan beberapa gambaran kepada pihak keluarga. ”Kami tunjukkan bahwa kami bekerja secara profesional dan independen,” ucap Ade. ”Kami imparsial independen. Tak ada yang menitipkan apa pun (kepada tim dokter forensik, Red),” jelasnya. Bahkan, dalam otopsi kemarin, mereka dipantau perwakilan keluarga Yosua.

Ade menyatakan bahwa hal itu tidak lazim dalam otopsi jenazah. Namun dalam otopsi jenazah Yosua tetap dilakukan. Tujuannya untuk memastikan bahwa timnya bekerja tanpa tekanan. ”Kehadiran Komnas HAM dan Kompolnas memastikan dan mengawasi pekerjaan kami,” katanya.

Selanjutnya, Ade berharap besar proses yang dilakukan di RSCM dapat berlangsung cepat. Sehingga hasil otopsi jenazah Yosua bisa segera diserahkan kepada penyidik dan mampu membantu penyelesaian kasus tersebut.

Itu sesuai dengan harapan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kemarin dia meminta masyarakat turut mengawasi seluruh proses penanganan kasus penembakan Brigadir Yosua. Sehingga transparansi dan akuntabilitas dari proses penegakan hukum tersebut benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. ”Untuk bisa memenuhi rasa keadilan yang ditunggu oleh publik,” tegasnya.

Saat ini tim khusus yang terdiri dari internal Polri dan Kompolnas sedang bekerja keras. Serta ada pula proses di Komnas HAM yang melihat berbagai presentasi kerja dari tim khusus. ”Otopsi ulang juga sudah. Hasilnya nanti akan disampaikan ke publik,” papar Sigit. Dia menambahkan bahwa masyarakat menunggu semua hasil dari proses tersebut. Serta proses penegakan hukum itu diharapkan berjalan dengan baik. ”Mudah-mudahan,” harap mantan Kabareskrim tersebut.

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID – Proses ekshumasi (pembongkaran makam) dan otopsi jenazah Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat  yang dilaksanakan tim dokter forensik dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) di RSUD Sungai Bahar kemarin (27/7) berjalan lancar.

Proses otopsi tuntas lebih kurang empat jam. Kemarin sore Kepala Departemen Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Ade Firmansyah Sugiharto yang memimpin otopsi menyampaikan keterangan kepada awak media.

Menurut Ade, proses ekshumasi dan otopsi berjalan sesuai tata cara yang sudah ditentukan. Tim dokter forensik memulai dengan pemeriksaan makam, kemudian mengawal penggalian makam dan melaksanakan otopsi di kamar jenazah RSUD Sungai Bahar. Proses itu dimulai pagi hingga menjelang sore.

”Sesuai dengan yang kami perkirakan sebelumnya, otopsi pasti memiliki beberapa kesulitan. Pertama, jenazah sudah diformalin dan mengalami beberapa derajat pembusukan,” bebernya.

Namun, kendala tersebut tidak menjadi soal. Tim dokter forensik yang dia pimpin mampu mengatasinya. Mereka tetap dapat mengidentifikasi luka-luka yang ada di tubuh Brigadir Yosua. Sayang, Ade belum membuka secara jelas penyebab luka-luka tersebut. Alasannya, timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”Semua sampel telah kami kumpulkan dan akan kami bawa ke Jakarta untuk diperiksa secara mikroskopis di Laboratorium Patologi Anatomi RSCM,” jelasnya.

Ketika ditanya ada atau tidak temuan luka di tubuh Brigadir Yosua yang tidak disebabkan tembakan, Ade menyampaikan bahwa timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dia menyebutkan, luka-luka itu bakal dipastikan muncul sebelum atau setelah Yosua meninggal dunia. Menurut dia, dibutuhkan waktu dua sampai empat minggu untuk memproses sampel jaringan dari tubuh Yosua yang dibawa ke Jakarta. ”Sekitar empat sampai delapan minggu sampai keluar hasil yang bisa kami berikan kepada penyidik,” tegasnya.

Tentu ada beberapa informasi yang juga disampaikan tim dokter forensik kepada keluarga Yosua. Utamanya informasi yang diharapkan pihak keluarga dan telah disampaikan dalam pertemuan pada Selasa (26/7) malam lalu. ”Informasi sejauh mana (yang disampaikan kepada pihak keluarga, Red), sejauh tidak mengganggu jalannya penyidikan,” ujar dia. Sebagai saksi ahli, tim dokter forensik hanya wajib menyampaikan hasil otopsi kepada penyidik yang menangani kasus tersebut.

Ade memastikan bahwa setelah otopsi dilakukan, tim yang dia pimpin kembali bertemu dengan pihak keluarga. Mereka menyampaikan bahwa otopsi yang dilakukan sudah selesai. Kemudian menyampaikan beberapa gambaran kepada pihak keluarga. ”Kami tunjukkan bahwa kami bekerja secara profesional dan independen,” ucap Ade. ”Kami imparsial independen. Tak ada yang menitipkan apa pun (kepada tim dokter forensik, Red),” jelasnya. Bahkan, dalam otopsi kemarin, mereka dipantau perwakilan keluarga Yosua.

Ade menyatakan bahwa hal itu tidak lazim dalam otopsi jenazah. Namun dalam otopsi jenazah Yosua tetap dilakukan. Tujuannya untuk memastikan bahwa timnya bekerja tanpa tekanan. ”Kehadiran Komnas HAM dan Kompolnas memastikan dan mengawasi pekerjaan kami,” katanya.

Selanjutnya, Ade berharap besar proses yang dilakukan di RSCM dapat berlangsung cepat. Sehingga hasil otopsi jenazah Yosua bisa segera diserahkan kepada penyidik dan mampu membantu penyelesaian kasus tersebut.

Itu sesuai dengan harapan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kemarin dia meminta masyarakat turut mengawasi seluruh proses penanganan kasus penembakan Brigadir Yosua. Sehingga transparansi dan akuntabilitas dari proses penegakan hukum tersebut benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. ”Untuk bisa memenuhi rasa keadilan yang ditunggu oleh publik,” tegasnya.

Saat ini tim khusus yang terdiri dari internal Polri dan Kompolnas sedang bekerja keras. Serta ada pula proses di Komnas HAM yang melihat berbagai presentasi kerja dari tim khusus. ”Otopsi ulang juga sudah. Hasilnya nanti akan disampaikan ke publik,” papar Sigit. Dia menambahkan bahwa masyarakat menunggu semua hasil dari proses tersebut. Serta proses penegakan hukum itu diharapkan berjalan dengan baik. ”Mudah-mudahan,” harap mantan Kabareskrim tersebut.

RADARJEMBER.ID – Proses ekshumasi (pembongkaran makam) dan otopsi jenazah Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat  yang dilaksanakan tim dokter forensik dari Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) di RSUD Sungai Bahar kemarin (27/7) berjalan lancar.

Proses otopsi tuntas lebih kurang empat jam. Kemarin sore Kepala Departemen Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Ade Firmansyah Sugiharto yang memimpin otopsi menyampaikan keterangan kepada awak media.

Menurut Ade, proses ekshumasi dan otopsi berjalan sesuai tata cara yang sudah ditentukan. Tim dokter forensik memulai dengan pemeriksaan makam, kemudian mengawal penggalian makam dan melaksanakan otopsi di kamar jenazah RSUD Sungai Bahar. Proses itu dimulai pagi hingga menjelang sore.

”Sesuai dengan yang kami perkirakan sebelumnya, otopsi pasti memiliki beberapa kesulitan. Pertama, jenazah sudah diformalin dan mengalami beberapa derajat pembusukan,” bebernya.

Namun, kendala tersebut tidak menjadi soal. Tim dokter forensik yang dia pimpin mampu mengatasinya. Mereka tetap dapat mengidentifikasi luka-luka yang ada di tubuh Brigadir Yosua. Sayang, Ade belum membuka secara jelas penyebab luka-luka tersebut. Alasannya, timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. ”Semua sampel telah kami kumpulkan dan akan kami bawa ke Jakarta untuk diperiksa secara mikroskopis di Laboratorium Patologi Anatomi RSCM,” jelasnya.

Ketika ditanya ada atau tidak temuan luka di tubuh Brigadir Yosua yang tidak disebabkan tembakan, Ade menyampaikan bahwa timnya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dia menyebutkan, luka-luka itu bakal dipastikan muncul sebelum atau setelah Yosua meninggal dunia. Menurut dia, dibutuhkan waktu dua sampai empat minggu untuk memproses sampel jaringan dari tubuh Yosua yang dibawa ke Jakarta. ”Sekitar empat sampai delapan minggu sampai keluar hasil yang bisa kami berikan kepada penyidik,” tegasnya.

Tentu ada beberapa informasi yang juga disampaikan tim dokter forensik kepada keluarga Yosua. Utamanya informasi yang diharapkan pihak keluarga dan telah disampaikan dalam pertemuan pada Selasa (26/7) malam lalu. ”Informasi sejauh mana (yang disampaikan kepada pihak keluarga, Red), sejauh tidak mengganggu jalannya penyidikan,” ujar dia. Sebagai saksi ahli, tim dokter forensik hanya wajib menyampaikan hasil otopsi kepada penyidik yang menangani kasus tersebut.

Ade memastikan bahwa setelah otopsi dilakukan, tim yang dia pimpin kembali bertemu dengan pihak keluarga. Mereka menyampaikan bahwa otopsi yang dilakukan sudah selesai. Kemudian menyampaikan beberapa gambaran kepada pihak keluarga. ”Kami tunjukkan bahwa kami bekerja secara profesional dan independen,” ucap Ade. ”Kami imparsial independen. Tak ada yang menitipkan apa pun (kepada tim dokter forensik, Red),” jelasnya. Bahkan, dalam otopsi kemarin, mereka dipantau perwakilan keluarga Yosua.

Ade menyatakan bahwa hal itu tidak lazim dalam otopsi jenazah. Namun dalam otopsi jenazah Yosua tetap dilakukan. Tujuannya untuk memastikan bahwa timnya bekerja tanpa tekanan. ”Kehadiran Komnas HAM dan Kompolnas memastikan dan mengawasi pekerjaan kami,” katanya.

Selanjutnya, Ade berharap besar proses yang dilakukan di RSCM dapat berlangsung cepat. Sehingga hasil otopsi jenazah Yosua bisa segera diserahkan kepada penyidik dan mampu membantu penyelesaian kasus tersebut.

Itu sesuai dengan harapan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Kemarin dia meminta masyarakat turut mengawasi seluruh proses penanganan kasus penembakan Brigadir Yosua. Sehingga transparansi dan akuntabilitas dari proses penegakan hukum tersebut benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. ”Untuk bisa memenuhi rasa keadilan yang ditunggu oleh publik,” tegasnya.

Saat ini tim khusus yang terdiri dari internal Polri dan Kompolnas sedang bekerja keras. Serta ada pula proses di Komnas HAM yang melihat berbagai presentasi kerja dari tim khusus. ”Otopsi ulang juga sudah. Hasilnya nanti akan disampaikan ke publik,” papar Sigit. Dia menambahkan bahwa masyarakat menunggu semua hasil dari proses tersebut. Serta proses penegakan hukum itu diharapkan berjalan dengan baik. ”Mudah-mudahan,” harap mantan Kabareskrim tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/