22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Korban Pelecahan Seksual Tempat Kerja Pilih Bungkam

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Pelecehan dan kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja termasuk di tempat kerja. Para korban diminta berani bersuara dan melaporkan kasus itu. Sebab hal itu sangat berpengaruh pada produktivitas hingga psikis pekerja.

Sehingga turut berdampak pula secara ekonomi bagi perusahaan dan pemberi kerja. Data Survei  dilakukan oleh Never Okay Project (NOP) dan International Labour Organization (ILO) menunjukkan, 852 dari 1173 responden (70,93 persen) pernah mengalami hal itu.

.Adapun bentuk pelecehan dan kekerasan yang paling umum terjadi yaitu dari sisi psikologis mencapai 77,4 persen. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa 75 persen orang mengalami pelecehan di tempat kerja tidak menyampaikan pelecehan di tempat kerja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Khawatir akan keamanan kerja dan sumber pendapatan. Dengan banyaknya angka tersebut, nyatanya 37,79 persen korban masih merasa khawatir tidak ada  percaya saat melapor. Ereka pilih bungkam alias diam tidak melapor.

Bertepatan dengan 16 Hari Aktivisme Melawan Kekerasan Berbasis Gender (16 HAKBG), Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (Jakarta Feminist) telah mendiskusikan upaya pencegahan dan penghapusan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dapat dilaksanakan secara nyata.

Anindya Restuviani, Program Director Jakarta Feminist memaparkan setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan pemberi kerja untuk memastikan ruang kerja aman. “Pertama dengan membuat dan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) Anti Kekerasan Seksual.”jelas dia.

Kedua dengan memberikan pengetahuan terhadap pemberi kerja maupun pekerja terkait kekerasan seksual serta cara mencegah dan menangani kekerasan seksual di tempat kerja.Semua harus berperan untuk menghapus segala bentuk kekerasan, termasuk di tempat kerja.

Pentingnya kolektivitas dalam upaya menciptakan ruang aman juga ditegaskan oleh An Nisaa Yovani mewakili Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS). Upaya kolektif diperlukan untuk mendorong isu ini agar menjadi prioritas.

“Edukasi serta ajakan untuk bersuara dan mengambil tindakan ketika melihat kekerasan seksual terjadi di ruang kerja harus dilanjutkan dengan menyuarakan secara kolektif hak pekerja untuk mendapatkan ruang aman saat bekerja,” kata Yovani. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi:Doki.Jawa Pos

Sumber Berita:jawapos.com

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Pelecehan dan kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja termasuk di tempat kerja. Para korban diminta berani bersuara dan melaporkan kasus itu. Sebab hal itu sangat berpengaruh pada produktivitas hingga psikis pekerja.

Sehingga turut berdampak pula secara ekonomi bagi perusahaan dan pemberi kerja. Data Survei  dilakukan oleh Never Okay Project (NOP) dan International Labour Organization (ILO) menunjukkan, 852 dari 1173 responden (70,93 persen) pernah mengalami hal itu.

.Adapun bentuk pelecehan dan kekerasan yang paling umum terjadi yaitu dari sisi psikologis mencapai 77,4 persen. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa 75 persen orang mengalami pelecehan di tempat kerja tidak menyampaikan pelecehan di tempat kerja.

Khawatir akan keamanan kerja dan sumber pendapatan. Dengan banyaknya angka tersebut, nyatanya 37,79 persen korban masih merasa khawatir tidak ada  percaya saat melapor. Ereka pilih bungkam alias diam tidak melapor.

Bertepatan dengan 16 Hari Aktivisme Melawan Kekerasan Berbasis Gender (16 HAKBG), Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (Jakarta Feminist) telah mendiskusikan upaya pencegahan dan penghapusan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dapat dilaksanakan secara nyata.

Anindya Restuviani, Program Director Jakarta Feminist memaparkan setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan pemberi kerja untuk memastikan ruang kerja aman. “Pertama dengan membuat dan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) Anti Kekerasan Seksual.”jelas dia.

Kedua dengan memberikan pengetahuan terhadap pemberi kerja maupun pekerja terkait kekerasan seksual serta cara mencegah dan menangani kekerasan seksual di tempat kerja.Semua harus berperan untuk menghapus segala bentuk kekerasan, termasuk di tempat kerja.

Pentingnya kolektivitas dalam upaya menciptakan ruang aman juga ditegaskan oleh An Nisaa Yovani mewakili Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS). Upaya kolektif diperlukan untuk mendorong isu ini agar menjadi prioritas.

“Edukasi serta ajakan untuk bersuara dan mengambil tindakan ketika melihat kekerasan seksual terjadi di ruang kerja harus dilanjutkan dengan menyuarakan secara kolektif hak pekerja untuk mendapatkan ruang aman saat bekerja,” kata Yovani. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi:Doki.Jawa Pos

Sumber Berita:jawapos.com

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Pelecehan dan kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja termasuk di tempat kerja. Para korban diminta berani bersuara dan melaporkan kasus itu. Sebab hal itu sangat berpengaruh pada produktivitas hingga psikis pekerja.

Sehingga turut berdampak pula secara ekonomi bagi perusahaan dan pemberi kerja. Data Survei  dilakukan oleh Never Okay Project (NOP) dan International Labour Organization (ILO) menunjukkan, 852 dari 1173 responden (70,93 persen) pernah mengalami hal itu.

.Adapun bentuk pelecehan dan kekerasan yang paling umum terjadi yaitu dari sisi psikologis mencapai 77,4 persen. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa 75 persen orang mengalami pelecehan di tempat kerja tidak menyampaikan pelecehan di tempat kerja.

Khawatir akan keamanan kerja dan sumber pendapatan. Dengan banyaknya angka tersebut, nyatanya 37,79 persen korban masih merasa khawatir tidak ada  percaya saat melapor. Ereka pilih bungkam alias diam tidak melapor.

Bertepatan dengan 16 Hari Aktivisme Melawan Kekerasan Berbasis Gender (16 HAKBG), Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (Jakarta Feminist) telah mendiskusikan upaya pencegahan dan penghapusan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dapat dilaksanakan secara nyata.

Anindya Restuviani, Program Director Jakarta Feminist memaparkan setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan pemberi kerja untuk memastikan ruang kerja aman. “Pertama dengan membuat dan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) Anti Kekerasan Seksual.”jelas dia.

Kedua dengan memberikan pengetahuan terhadap pemberi kerja maupun pekerja terkait kekerasan seksual serta cara mencegah dan menangani kekerasan seksual di tempat kerja.Semua harus berperan untuk menghapus segala bentuk kekerasan, termasuk di tempat kerja.

Pentingnya kolektivitas dalam upaya menciptakan ruang aman juga ditegaskan oleh An Nisaa Yovani mewakili Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS). Upaya kolektif diperlukan untuk mendorong isu ini agar menjadi prioritas.

“Edukasi serta ajakan untuk bersuara dan mengambil tindakan ketika melihat kekerasan seksual terjadi di ruang kerja harus dilanjutkan dengan menyuarakan secara kolektif hak pekerja untuk mendapatkan ruang aman saat bekerja,” kata Yovani. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Ilustrasi:Doki.Jawa Pos

Sumber Berita:jawapos.com

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca