alexametrics
29.6 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

KPK Turun Tangan Terkait Pengadaan Helikopter TNI AU

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami teknis pengadaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017. Hal ini didalami tim penyidik KPK kepada tujuh anggota TNI dan telah diperiksa di Puspom TNI AU, Selasa (26/7) kemarin.

BACA JUGA : Pegawai Minimarket Temukan Bocil Depan Toko Lalu Lapor Polisi

Mereka yang diperiksa di antaranya Agus Kamal, Benni Prabowo, Supriyanto Basuki, Fransiskus Teguh Santoso, Hendrison Syafril, Achsanul Amaly dan Muklis.Paling tidak, mereka mengetahui teknis pengadaan helikopter tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Para saksi hadir dan dikonfirmasi antara lain terkait dengan proses hingga teknis pelaksanaan dari pengadaan helikopter angkut AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (27/7).

Sementara itu, satu saksi lainnya bernama Andy S. Pambudi yang juga anggota TNI AU tidak hadir, karena beralasan sakit. Penyidik KPK akan menjadwalkan ulang terhadap Andy S. Pambudi.

“Tidak hadir dan informasi yang kami terima dalam kondisi sakit dan akan dilakukan penjadwalan ulang kembali,” tegas Ali.Sebelumnya, KPK resmi menahan Direktur PT. Diratama Jaya Mandiri, Irfan Kurnia Saleh alias Jhon Irfan Kenway.

Dia ditahan usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadapaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017.Irfan menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi heli AW-101 sejak 2017 atau lima tahun lalu.

Irfan sebagai Direktur PT Dirgantara Jaya Mandiri bersama Lorenzo Pariani sebagai salah satu perusahaan AgustaWestland menemui Mohammad Syafei, saat itu menjabat sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran TNI AU di Cilangkap, Jakarta Timur, pada Mei 2015.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami teknis pengadaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017. Hal ini didalami tim penyidik KPK kepada tujuh anggota TNI dan telah diperiksa di Puspom TNI AU, Selasa (26/7) kemarin.

BACA JUGA : Pegawai Minimarket Temukan Bocil Depan Toko Lalu Lapor Polisi

Mereka yang diperiksa di antaranya Agus Kamal, Benni Prabowo, Supriyanto Basuki, Fransiskus Teguh Santoso, Hendrison Syafril, Achsanul Amaly dan Muklis.Paling tidak, mereka mengetahui teknis pengadaan helikopter tersebut.

“Para saksi hadir dan dikonfirmasi antara lain terkait dengan proses hingga teknis pelaksanaan dari pengadaan helikopter angkut AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (27/7).

Sementara itu, satu saksi lainnya bernama Andy S. Pambudi yang juga anggota TNI AU tidak hadir, karena beralasan sakit. Penyidik KPK akan menjadwalkan ulang terhadap Andy S. Pambudi.

“Tidak hadir dan informasi yang kami terima dalam kondisi sakit dan akan dilakukan penjadwalan ulang kembali,” tegas Ali.Sebelumnya, KPK resmi menahan Direktur PT. Diratama Jaya Mandiri, Irfan Kurnia Saleh alias Jhon Irfan Kenway.

Dia ditahan usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadapaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017.Irfan menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi heli AW-101 sejak 2017 atau lima tahun lalu.

Irfan sebagai Direktur PT Dirgantara Jaya Mandiri bersama Lorenzo Pariani sebagai salah satu perusahaan AgustaWestland menemui Mohammad Syafei, saat itu menjabat sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran TNI AU di Cilangkap, Jakarta Timur, pada Mei 2015.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami teknis pengadaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017. Hal ini didalami tim penyidik KPK kepada tujuh anggota TNI dan telah diperiksa di Puspom TNI AU, Selasa (26/7) kemarin.

BACA JUGA : Pegawai Minimarket Temukan Bocil Depan Toko Lalu Lapor Polisi

Mereka yang diperiksa di antaranya Agus Kamal, Benni Prabowo, Supriyanto Basuki, Fransiskus Teguh Santoso, Hendrison Syafril, Achsanul Amaly dan Muklis.Paling tidak, mereka mengetahui teknis pengadaan helikopter tersebut.

“Para saksi hadir dan dikonfirmasi antara lain terkait dengan proses hingga teknis pelaksanaan dari pengadaan helikopter angkut AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (27/7).

Sementara itu, satu saksi lainnya bernama Andy S. Pambudi yang juga anggota TNI AU tidak hadir, karena beralasan sakit. Penyidik KPK akan menjadwalkan ulang terhadap Andy S. Pambudi.

“Tidak hadir dan informasi yang kami terima dalam kondisi sakit dan akan dilakukan penjadwalan ulang kembali,” tegas Ali.Sebelumnya, KPK resmi menahan Direktur PT. Diratama Jaya Mandiri, Irfan Kurnia Saleh alias Jhon Irfan Kenway.

Dia ditahan usai diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadapaan helikopter AW-101 di TNI AU tahun 2016-2017.Irfan menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi heli AW-101 sejak 2017 atau lima tahun lalu.

Irfan sebagai Direktur PT Dirgantara Jaya Mandiri bersama Lorenzo Pariani sebagai salah satu perusahaan AgustaWestland menemui Mohammad Syafei, saat itu menjabat sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran TNI AU di Cilangkap, Jakarta Timur, pada Mei 2015.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/