alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Tergiur Bayaran Anak-Anak di NTB Jadi Joki Cilik

Mobile_AP_Rectangle 1

MATARAM, RADARJEMBER.ID – Kondisi ekonomi keluarga yang akhirnya memaksa anak-anak di Nusa Tenggara Barat menjadi joki cilik, menjadi atensi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Nusa Tenggara Barat (NTB) Niken Saptarini Widiyawati Zulkieflimansyah. Dia mengajak orang tua joki cilik di Bima, membatasi buah hatinya menjadi joki pada pacuan kuda, dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan di Mataram pada program Kabar Bunda Niken (KBN).

BACA JUGA : Penjual Okerbaya di Jember Sasar Emak-Emak sebagai Pelanggan

“Orang tua harus bergerak hatinya untuk membatasi anak yang masih di bawah umur 10 tahun untuk tidak menjadi joki cilik,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Istri Gubernur NTB itu berharap kepada keluarga baik anak maupun ayah joki cilik sebagai kepala rumah tangga agar mengutamakan pendidikan bagi masa depan anak-anaknya.”Karena informasinya, saat lomba pacuan kuda, joki cilik ini tidak masuk sekolah,” katanya menambahkan.

Bunda Niken sapaan akrabnya menilai persoalan lain yang dihadapi joki cilik saat pacuan adalah risiko kemungkinan terjadi kecelakaan. Termasuk bila ada transaksi taruhan, menurut para ahli sudah merupakan bentuk eksploitasi terhadap anak.

Hal lain juga yang harus diperhatikan adalah ada 10 hak anak yang harus dijamin oleh semua pihak. Salah satunya adalah pendidikan dan kesehatan.

“Joki cilik adalah masalah kompleks yang terjadi di NTB. Namun harus ada perlindungan khusus terhadap anak sebagai joki cilik. Walaupun pacuan kuda sebagai tradisi dan budaya di Bima,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Bima Rostiati Dahlan, yang mengaku sangat khawatir dengan keberadaan joki cilik tersebut. Meski demikian menurut dia ada tiga hal yang harus diperhatikan mengenai persoalan joki cilik ini. Pertama terkait ekonomi, kedua pendidikan dan ketiga terkait dengan hobi.

“Kondisi ekonomi memaksa anak-anak ini menjadi joki cilik. Tergiur dengan bayaran yang hanya sedikit dibanding keselamatannya,” ujarnya.

- Advertisement -

MATARAM, RADARJEMBER.ID – Kondisi ekonomi keluarga yang akhirnya memaksa anak-anak di Nusa Tenggara Barat menjadi joki cilik, menjadi atensi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Nusa Tenggara Barat (NTB) Niken Saptarini Widiyawati Zulkieflimansyah. Dia mengajak orang tua joki cilik di Bima, membatasi buah hatinya menjadi joki pada pacuan kuda, dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan di Mataram pada program Kabar Bunda Niken (KBN).

BACA JUGA : Penjual Okerbaya di Jember Sasar Emak-Emak sebagai Pelanggan

“Orang tua harus bergerak hatinya untuk membatasi anak yang masih di bawah umur 10 tahun untuk tidak menjadi joki cilik,” katanya.

Istri Gubernur NTB itu berharap kepada keluarga baik anak maupun ayah joki cilik sebagai kepala rumah tangga agar mengutamakan pendidikan bagi masa depan anak-anaknya.”Karena informasinya, saat lomba pacuan kuda, joki cilik ini tidak masuk sekolah,” katanya menambahkan.

Bunda Niken sapaan akrabnya menilai persoalan lain yang dihadapi joki cilik saat pacuan adalah risiko kemungkinan terjadi kecelakaan. Termasuk bila ada transaksi taruhan, menurut para ahli sudah merupakan bentuk eksploitasi terhadap anak.

Hal lain juga yang harus diperhatikan adalah ada 10 hak anak yang harus dijamin oleh semua pihak. Salah satunya adalah pendidikan dan kesehatan.

“Joki cilik adalah masalah kompleks yang terjadi di NTB. Namun harus ada perlindungan khusus terhadap anak sebagai joki cilik. Walaupun pacuan kuda sebagai tradisi dan budaya di Bima,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Bima Rostiati Dahlan, yang mengaku sangat khawatir dengan keberadaan joki cilik tersebut. Meski demikian menurut dia ada tiga hal yang harus diperhatikan mengenai persoalan joki cilik ini. Pertama terkait ekonomi, kedua pendidikan dan ketiga terkait dengan hobi.

“Kondisi ekonomi memaksa anak-anak ini menjadi joki cilik. Tergiur dengan bayaran yang hanya sedikit dibanding keselamatannya,” ujarnya.

MATARAM, RADARJEMBER.ID – Kondisi ekonomi keluarga yang akhirnya memaksa anak-anak di Nusa Tenggara Barat menjadi joki cilik, menjadi atensi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Nusa Tenggara Barat (NTB) Niken Saptarini Widiyawati Zulkieflimansyah. Dia mengajak orang tua joki cilik di Bima, membatasi buah hatinya menjadi joki pada pacuan kuda, dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan di Mataram pada program Kabar Bunda Niken (KBN).

BACA JUGA : Penjual Okerbaya di Jember Sasar Emak-Emak sebagai Pelanggan

“Orang tua harus bergerak hatinya untuk membatasi anak yang masih di bawah umur 10 tahun untuk tidak menjadi joki cilik,” katanya.

Istri Gubernur NTB itu berharap kepada keluarga baik anak maupun ayah joki cilik sebagai kepala rumah tangga agar mengutamakan pendidikan bagi masa depan anak-anaknya.”Karena informasinya, saat lomba pacuan kuda, joki cilik ini tidak masuk sekolah,” katanya menambahkan.

Bunda Niken sapaan akrabnya menilai persoalan lain yang dihadapi joki cilik saat pacuan adalah risiko kemungkinan terjadi kecelakaan. Termasuk bila ada transaksi taruhan, menurut para ahli sudah merupakan bentuk eksploitasi terhadap anak.

Hal lain juga yang harus diperhatikan adalah ada 10 hak anak yang harus dijamin oleh semua pihak. Salah satunya adalah pendidikan dan kesehatan.

“Joki cilik adalah masalah kompleks yang terjadi di NTB. Namun harus ada perlindungan khusus terhadap anak sebagai joki cilik. Walaupun pacuan kuda sebagai tradisi dan budaya di Bima,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Bima Rostiati Dahlan, yang mengaku sangat khawatir dengan keberadaan joki cilik tersebut. Meski demikian menurut dia ada tiga hal yang harus diperhatikan mengenai persoalan joki cilik ini. Pertama terkait ekonomi, kedua pendidikan dan ketiga terkait dengan hobi.

“Kondisi ekonomi memaksa anak-anak ini menjadi joki cilik. Tergiur dengan bayaran yang hanya sedikit dibanding keselamatannya,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/