
RADAR JEMBER — Salah satu acara seni di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, adalah Tari Gandrung Sewu.
Festival ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena ribuan penari yang tampil dengan busana khas, mahkota berwarna-warni, dan musik tradisional.
Pertunjukan Gandrung Sewu biasanya diadakan di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, dengan latar belakang Selat Bali.
Pada 2019, penyelenggaraan tahunan dengan lebih dari 1.400 penari menjadi salah satu yang mencuri perhatian.
Tari Gandrung memiliki sejarah panjang dan perpaduan budaya yang menarik di balik kemegahan penampilannya.
- Dulunya dibawakan oleh penari pria
Tari Gandrung sekarang lebih dikenal sebagai tarian yang dibawakan oleh perempuan.
Namun, sepanjang sejarahnya, seni ini pernah ditampilkan oleh penari laki-laki yang mengenakan pakaian dan riasan yang menyerupai perempuan.
Mengutip dari salah satu media, Kadek Suartaya, dosen seni karawitan di ISI Denpasar, mengatakan dalam tulisan berjudul Banyuwangi Hormati Erotisme Gandrung bahwa penari pria masih ada hingga akhir abad ke-19.
Sejarah menyebutkan Marsam, penari Gandrung terakhir pria. Tradisi penari perempuan mulai berkembang setelah Marsam meninggal dunia.
Pada tahun 1914, Semi diakui sebagai salah satu tokoh awal Gandrung wanita di Banyuwangi.



