alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Kuliner Solo Diwarnai Toleransi Beragama

Mobile_AP_Rectangle 1

SOLO, RADARJEMBER.ID- Beragam jenis kuliner di Solo diwarnai oleh keberagaman suku, adat istiadat serta agama. Masakan Eropa,Tiongkok, Arab dan Jawa berkontribusi menciptakan cita rasa kuliner Kota Solo bertajuk kota bengawan tersebut.

Penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo, Heri Priyatmoko mengungkapkan, Interaksi sosial beragam komunitas ini membuat akulturasi budaya terjadi hal itu pula berpengaruh terhadap kuliner di Kota Solo.

Heri lantas mencontohkan,Timlo adalah salah satu bukti persilangan budaya dan kemudian hadir dalam semangkuk hidangan warga Solo. Semenjak pertama kali Timlo dikenalkan kepada publik, makanan tersebut langsung diminati karena rasa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, tersebut, Kimlo termasuk makanan kuno karena dibawa oleh pedagang Tiongkok ke Indonesia. Resep kimlo dapat dipelajari. 

”Dari resep Poetri Dapoer disusun oleh Lie Hiang Hwa, lantas dikreasikan sendiri oleh warga Solo, kemudian mereka bereksperimen dan diberi nama timlo, cuma beda satu huruf depan dari menu Kimlo,” ujar Heri. 

Kreasi menu ini terlihat mencolok adalah penggunaan lauk, tidak lagi menggunakan daging babi. Timlo dilengkapi telur atau jeroan ayam sebagai lauk. Dua lauk itu sengaja dipilih agar umat muslim bisa menikmati, karena masakan Jawa dominan memakai lauk telur dan jeroan ayam.(*) 

- Advertisement -

SOLO, RADARJEMBER.ID- Beragam jenis kuliner di Solo diwarnai oleh keberagaman suku, adat istiadat serta agama. Masakan Eropa,Tiongkok, Arab dan Jawa berkontribusi menciptakan cita rasa kuliner Kota Solo bertajuk kota bengawan tersebut.

Penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo, Heri Priyatmoko mengungkapkan, Interaksi sosial beragam komunitas ini membuat akulturasi budaya terjadi hal itu pula berpengaruh terhadap kuliner di Kota Solo.

Heri lantas mencontohkan,Timlo adalah salah satu bukti persilangan budaya dan kemudian hadir dalam semangkuk hidangan warga Solo. Semenjak pertama kali Timlo dikenalkan kepada publik, makanan tersebut langsung diminati karena rasa.

Menurut dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, tersebut, Kimlo termasuk makanan kuno karena dibawa oleh pedagang Tiongkok ke Indonesia. Resep kimlo dapat dipelajari. 

”Dari resep Poetri Dapoer disusun oleh Lie Hiang Hwa, lantas dikreasikan sendiri oleh warga Solo, kemudian mereka bereksperimen dan diberi nama timlo, cuma beda satu huruf depan dari menu Kimlo,” ujar Heri. 

Kreasi menu ini terlihat mencolok adalah penggunaan lauk, tidak lagi menggunakan daging babi. Timlo dilengkapi telur atau jeroan ayam sebagai lauk. Dua lauk itu sengaja dipilih agar umat muslim bisa menikmati, karena masakan Jawa dominan memakai lauk telur dan jeroan ayam.(*) 

SOLO, RADARJEMBER.ID- Beragam jenis kuliner di Solo diwarnai oleh keberagaman suku, adat istiadat serta agama. Masakan Eropa,Tiongkok, Arab dan Jawa berkontribusi menciptakan cita rasa kuliner Kota Solo bertajuk kota bengawan tersebut.

Penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo, Heri Priyatmoko mengungkapkan, Interaksi sosial beragam komunitas ini membuat akulturasi budaya terjadi hal itu pula berpengaruh terhadap kuliner di Kota Solo.

Heri lantas mencontohkan,Timlo adalah salah satu bukti persilangan budaya dan kemudian hadir dalam semangkuk hidangan warga Solo. Semenjak pertama kali Timlo dikenalkan kepada publik, makanan tersebut langsung diminati karena rasa.

Menurut dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta, tersebut, Kimlo termasuk makanan kuno karena dibawa oleh pedagang Tiongkok ke Indonesia. Resep kimlo dapat dipelajari. 

”Dari resep Poetri Dapoer disusun oleh Lie Hiang Hwa, lantas dikreasikan sendiri oleh warga Solo, kemudian mereka bereksperimen dan diberi nama timlo, cuma beda satu huruf depan dari menu Kimlo,” ujar Heri. 

Kreasi menu ini terlihat mencolok adalah penggunaan lauk, tidak lagi menggunakan daging babi. Timlo dilengkapi telur atau jeroan ayam sebagai lauk. Dua lauk itu sengaja dipilih agar umat muslim bisa menikmati, karena masakan Jawa dominan memakai lauk telur dan jeroan ayam.(*) 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/