alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Kalah Saing Mobil Pribadi Ancam Bus Tidak Beroperasi

Mobile_AP_Rectangle 1

PACITAN, RADARJEMBER.ID- Dua tahun dilanda pandemi Covid-19 nasib angkutan massal di Pacitan, Jawa Timur  sangatlah memprihatinkan. Bukan malah terus bertambah, saban tahun justru mengalami penurunan. Di Terminal Tipe A Pacitan,Jawa Timur,  jumlah bus antar kota dalam provinsi (AKDP) kini dapat dihitung jari.

Suyono, Kepala Terminal Pacitan mengatakan, keberadaan bus AKDP kian terdegradasi kendaraan pribadi. Dulu tak semua orang memiliki mobil pribadi. Namun, sekarang bak jamur di musim penghujan. Belum lagi, orang  jarang bepergian dua tahun belakangan kian membuat nasib bus AKDP terpuruk dan sekarang ini tinggal 10 unit.

“Kondisi bus rata-rata telah uzur tak pernah mendapatkan peremajaan. Perusahaan otobus (PO) juga minim inovasi, padahal, kemudahan akses transportasi di zaman modern ini menuntut kecanggihan dan kenyamanan. Jika ingin bertahan dan tetap mendapatkan apresiasi masyarakat, maka harus mampu menjaga penampilan,” ungkap Suyono.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain itu di Pacitan banyak pengusaha masih menganut konsep lama, jumlah kursi banyak tapi tidak lagi empuk untuk diduduki penumpang. Sementara bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menunjukkan kondisi sebaliknya, moda transportasi ini memang memiliki jangkauan trayek lebih panjang itu sanggup bertahan dan berkembang hingga sekarang. 

“Tak kurang dari 400-an armada keluar-masuk Terminal Pacitan saban harinya. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah seiring pelonggaran kebijakan bepergian untuk berlebaran di kampung halaman. Saat ini saja di Kabupaten Pacitan, sudah ada dua PO yang mengajukan trayek baru,” tutur Suyono.

- Advertisement -

PACITAN, RADARJEMBER.ID- Dua tahun dilanda pandemi Covid-19 nasib angkutan massal di Pacitan, Jawa Timur  sangatlah memprihatinkan. Bukan malah terus bertambah, saban tahun justru mengalami penurunan. Di Terminal Tipe A Pacitan,Jawa Timur,  jumlah bus antar kota dalam provinsi (AKDP) kini dapat dihitung jari.

Suyono, Kepala Terminal Pacitan mengatakan, keberadaan bus AKDP kian terdegradasi kendaraan pribadi. Dulu tak semua orang memiliki mobil pribadi. Namun, sekarang bak jamur di musim penghujan. Belum lagi, orang  jarang bepergian dua tahun belakangan kian membuat nasib bus AKDP terpuruk dan sekarang ini tinggal 10 unit.

“Kondisi bus rata-rata telah uzur tak pernah mendapatkan peremajaan. Perusahaan otobus (PO) juga minim inovasi, padahal, kemudahan akses transportasi di zaman modern ini menuntut kecanggihan dan kenyamanan. Jika ingin bertahan dan tetap mendapatkan apresiasi masyarakat, maka harus mampu menjaga penampilan,” ungkap Suyono.

Selain itu di Pacitan banyak pengusaha masih menganut konsep lama, jumlah kursi banyak tapi tidak lagi empuk untuk diduduki penumpang. Sementara bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menunjukkan kondisi sebaliknya, moda transportasi ini memang memiliki jangkauan trayek lebih panjang itu sanggup bertahan dan berkembang hingga sekarang. 

“Tak kurang dari 400-an armada keluar-masuk Terminal Pacitan saban harinya. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah seiring pelonggaran kebijakan bepergian untuk berlebaran di kampung halaman. Saat ini saja di Kabupaten Pacitan, sudah ada dua PO yang mengajukan trayek baru,” tutur Suyono.

PACITAN, RADARJEMBER.ID- Dua tahun dilanda pandemi Covid-19 nasib angkutan massal di Pacitan, Jawa Timur  sangatlah memprihatinkan. Bukan malah terus bertambah, saban tahun justru mengalami penurunan. Di Terminal Tipe A Pacitan,Jawa Timur,  jumlah bus antar kota dalam provinsi (AKDP) kini dapat dihitung jari.

Suyono, Kepala Terminal Pacitan mengatakan, keberadaan bus AKDP kian terdegradasi kendaraan pribadi. Dulu tak semua orang memiliki mobil pribadi. Namun, sekarang bak jamur di musim penghujan. Belum lagi, orang  jarang bepergian dua tahun belakangan kian membuat nasib bus AKDP terpuruk dan sekarang ini tinggal 10 unit.

“Kondisi bus rata-rata telah uzur tak pernah mendapatkan peremajaan. Perusahaan otobus (PO) juga minim inovasi, padahal, kemudahan akses transportasi di zaman modern ini menuntut kecanggihan dan kenyamanan. Jika ingin bertahan dan tetap mendapatkan apresiasi masyarakat, maka harus mampu menjaga penampilan,” ungkap Suyono.

Selain itu di Pacitan banyak pengusaha masih menganut konsep lama, jumlah kursi banyak tapi tidak lagi empuk untuk diduduki penumpang. Sementara bus antarkota antarprovinsi (AKAP) menunjukkan kondisi sebaliknya, moda transportasi ini memang memiliki jangkauan trayek lebih panjang itu sanggup bertahan dan berkembang hingga sekarang. 

“Tak kurang dari 400-an armada keluar-masuk Terminal Pacitan saban harinya. Jumlah tersebut masih akan terus bertambah seiring pelonggaran kebijakan bepergian untuk berlebaran di kampung halaman. Saat ini saja di Kabupaten Pacitan, sudah ada dua PO yang mengajukan trayek baru,” tutur Suyono.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/