Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Launching Buku Navigasi Perubahan NU dan Pesantren, Gus Yahya: NU Harus Bisa Bertindak Strategis!

M. Ainul Budi
Penulis: M. Ainul Budi❯
Photo
Photo

RADAR JEMBER - Sebuah buku berjudul 'Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren' dilaunching Jumat (14/11) siang yang dilanjutkan dengan diskusi buku dalam Forum Kramat yang digelar di Plaza PBNU, Jl. Kramat Raya, Jakarta.


Advertisement

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf dan sejumlah jajarannya, serta empat pembicara diskusi, yakni pengamat politik Islam, Prof. Fachri Ali, Intelektual NU, Helmy Ali Yafie dan Sekretaris Badan Litbang-Diklat Kementerian Agama RI, Prof. Ahmad Zainul Hamdi.

Buku 337 halaman itu ditulis oleh 10 pakar dan aktivis NU sebagai syarah atas 2 matan tulisan Gus Yahya tentang NU dan Pesantren. Tulisan pertama berjudul 'Peta Masalah Dunia Pesantren', dan yang kedua 'Konsolidasi, Sebuah Keharusan bagi NU'.

Kata pengantar ditulis oleh.Ketua PBNU, Prof. Rumadi Ahmad yang dalam kesempatan itu memberikan sambutan dan menyerahkan buku syarah ini secara simbolis kepada Gus Yahya di hadapan seratusan peserta diskusi.

Advertisement

Menurut Gus Yahya, buku ini penting sebagai navigasi agar NU bergerak secara strategis, tidak hanya ada tanpa posisi dan peran strategis untuk menyelesaikan masalah keagamaan dan kebangsaan.

Bergerak Strategis itu, menurut Gus Yahya, NU Harus bisa merumuskan visi yang akan dituju, bisa mengelola keadaan untuk mencapai tujuannya, serta mampu bertindak strategis untuk menggerakkan lingkungan di sekitarnya demi mewujudkan visi.

"Kalau NU tidak bisa bertindak dan bergerak secara strategis, maka keberadaan NU tidak akan dianggap, wujuduhu ka adamihi, dan itu bukan pilihan kita," tegasnya.

Advertisement

Dalam tulisan matan yang ditulisnya dalam buku ini, Gus Yahya mengajukan tiga matra konsolidasi sebagai sebuah keharusan bagi NU, untuk mewujudkan target bergerak secara strategis.

Tiga matra itu, adalah konsolidasi tata kelola, konsolidasi Sumber daya dan konsolidasi agenda. Konsekuensinya, lanjut gus Yahya, PBNU membuat aturan main bahwa setiap tindakan atas nama NU harus mengikuti aturan dan prosedur demi menjaga integritas dan martabat NU. "Dan ini, pasti menimbulkan keluhan yang harus dihadapi dengan kepala dingin," tambahnya.

Dalam tulisan matan tentang peta masalah pesantren, Gus Yahya menyoroti perlunya integrasi pesantren ke dalam sistem untuk menghadapi masalah, dengan menempatkan pesantren ke dalam tiga klaster utama.

Ketiga klaster itu adalah klaster pesantren sebagai lembaga pendidikan, pesantren sebagai pilar komunitas dan terakhir kaitan pesantren dengan NU.

"Kita harus melihat secara akurat, komfigurasi dari problematika yang dihadapi pesantren melalui tiga hal ini," ungkapnya sambil mengajukan perlunya transformasi pengelolaan pesantren melalui governing system melalui standarisasi dalam hal infrastruktur, kurikulum, SDM dan tata kelola pesantren.

Buku Menavigasi Perubahan NU dan Pesantren melibatkan 10 penulis, untuk mensyarahi dua tulisan matan pemikiran Gus Yahya. Masing-masing, Ahmad Suaedy menulis abad kedua NU dan transformasi digital, Ahmad Zainul Hamdi tentang peta masalah NU, Hasanudin Ali menulis tantangan sumber daya NU, Ahsanul Minan tentang Konsolidasi Agenda program NU dan Abdul Moqsith Ghozali tentang pengambilan keputusan hukum Islam di lingkungan NU.

Sementara, syarah navigasi Perubahan Pesantren, ditulis oleh Badiul Hadi tentang politik anggaran pesantren, Marzuki Wahid tentang desain pendidikan pesantren, Basnang Said soal politik rekognisi pesantren, Nur Rofiah seputar kekerasan di pesantren dan Hisbullah Satrawi tentang kemandirian pesantren.

Penulis kata pengantar, Rumadi Ahmad berharap buku ini bisa jadi bahan diskusi oleh aktivis dan pengurus NU, di lembaga, badan otonom atau di tingkat kepengurusan di tingkat PBNU, PWNU, PCNU hingga ranting.

Dia berharap buku ini bisa menjadi penunjuk arah atau navigasi bagi NU dan Pesantren dalam menghadapi multi perubahan.

"Terima kasih kepada semua pihak, khususnya para penulis syarah yang memungkinkan kita bisa melihat secara lebih jelas perubahan apa yang harus dihadapi NU dan pesantren bagimana mengantisipasinya," lanjut Rumadi.

Advertisement

Artikel Terkait

Gus Yahya ke Bondowoso Hadiri Pelantikan PCNU, Beri Pesan Titipkan Konsolidasi

Gus Yahya ke Bondowoso Hadiri Pelantikan PCNU, Beri Pesan Titipkan Konsolidasi

PENGURUS Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso periode 2026–2031 resmi dilantik. Sebanyak 46 pengurus dikukuhkan di Pondok Pesantren Darul Falah, Desa Ramban Kulon, Kecamatan Cermee, Sabtu (8/8) malam.

Gus Yahya: Delegasi Indonesia ke Iran Sampaikan Belasungkawa dan Dorong Perdamaian

Gus Yahya: Delegasi Indonesia ke Iran Sampaikan Belasungkawa dan Dorong Perdamaian

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengungkapkan bahwa delegasi Indonesia menyampaikan pesan perdamaian saat bertemu Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di Mash

Komnas Perempuan Telanjangi Pelanggaran SOP Polisi di Sukoharjo, Desak Kompolnas hingga LPSK Turun

Komnas Perempuan Telanjangi Pelanggaran SOP Polisi di Sukoharjo, Desak Kompolnas hingga LPSK Turun

Berdasarkan kronologi resmi, belasan aparat bersenjata laras panjang, termasuk personel Brimob, mendobrak pintu asrama sekitar pukul 03.20 WIB saat para santriwati masih tertidur lelap.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer