23.7 C
Jember
Saturday, 4 February 2023

Tak Berharap Untung Ketika Harga Kedelai Melejit

Mobile_AP_Rectangle 1

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Produsen tempe dihadapkan pada persoalan pelik. Mereka dihantui kerugian seiring harga kedelai di pasaran terus melambung. ‘’Naik sejak sebulan lalu,’’ kata Sukemi, salah seorang perajin tempe di Desa Mojorayung, Wungu, kepada wartawan.

BACA JUGA : YLKI : Produsen AMDK agar Terbuka kepada Publik Konsumen di Indonesia

Sukemi menjelaskan, sebelum itu harga kedelai hanya sekitar Rp 12 ribu per kilogram. Namun, saat ini mencapai Rp 14.500 untuk eceran. Sedangkan harga partai besar Rp 13.900 per kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 2

‘’Tapi, sudah beberapa bulan agen tidak melayani pembelian grosiran karena harga tidak stabil. Mereka pastinya juga tidak mau rugi,’’ ungkap pria tersebut.Tingginya harga kedelai memaksa Sukemi memutar otak agar produksi tempenya terus berjalan.

Seperti mengecilkan ukuran hingga nyaris setengah dari biasanya. ‘’Kalau harganya dinaikkan, pasti banyak pembeli yang tidak mau. Ingiinya tetap Rp 2 ribu per bungkus walau ukurannya lebih kecil,’’ imbuh Sukemi.

Sukemi mengaku, semenjak harga kedelai bergejolak, omzet penjualan tempe buatannya turun signifikan. Jika sebelumnya sehari bisa mencapai Rp 500.000, kini menyusut menjadi hanya sekitar Rp 330.000. ‘’Kalau terus-terusan seperti ini, perajin bisa gulung tikar,’’ keluh dia.

Sukemi berharap harga kedelai bisa kembali normal di kisaran Rp 10.000 per kilogram. ‘’Ada baiknya juga perajin tempe diberi bantuan kedelai gratis dua kuintal per bulan seperti saat ada PKH (Program Keluarga Harapan, Red) beberapa tahun lalu,’’ imbuh Sukemi. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Sumber Berita: Jawa Pos Radar Madiun

 

- Advertisement -

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Produsen tempe dihadapkan pada persoalan pelik. Mereka dihantui kerugian seiring harga kedelai di pasaran terus melambung. ‘’Naik sejak sebulan lalu,’’ kata Sukemi, salah seorang perajin tempe di Desa Mojorayung, Wungu, kepada wartawan.

BACA JUGA : YLKI : Produsen AMDK agar Terbuka kepada Publik Konsumen di Indonesia

Sukemi menjelaskan, sebelum itu harga kedelai hanya sekitar Rp 12 ribu per kilogram. Namun, saat ini mencapai Rp 14.500 untuk eceran. Sedangkan harga partai besar Rp 13.900 per kilogram.

‘’Tapi, sudah beberapa bulan agen tidak melayani pembelian grosiran karena harga tidak stabil. Mereka pastinya juga tidak mau rugi,’’ ungkap pria tersebut.Tingginya harga kedelai memaksa Sukemi memutar otak agar produksi tempenya terus berjalan.

Seperti mengecilkan ukuran hingga nyaris setengah dari biasanya. ‘’Kalau harganya dinaikkan, pasti banyak pembeli yang tidak mau. Ingiinya tetap Rp 2 ribu per bungkus walau ukurannya lebih kecil,’’ imbuh Sukemi.

Sukemi mengaku, semenjak harga kedelai bergejolak, omzet penjualan tempe buatannya turun signifikan. Jika sebelumnya sehari bisa mencapai Rp 500.000, kini menyusut menjadi hanya sekitar Rp 330.000. ‘’Kalau terus-terusan seperti ini, perajin bisa gulung tikar,’’ keluh dia.

Sukemi berharap harga kedelai bisa kembali normal di kisaran Rp 10.000 per kilogram. ‘’Ada baiknya juga perajin tempe diberi bantuan kedelai gratis dua kuintal per bulan seperti saat ada PKH (Program Keluarga Harapan, Red) beberapa tahun lalu,’’ imbuh Sukemi. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Sumber Berita: Jawa Pos Radar Madiun

 

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Produsen tempe dihadapkan pada persoalan pelik. Mereka dihantui kerugian seiring harga kedelai di pasaran terus melambung. ‘’Naik sejak sebulan lalu,’’ kata Sukemi, salah seorang perajin tempe di Desa Mojorayung, Wungu, kepada wartawan.

BACA JUGA : YLKI : Produsen AMDK agar Terbuka kepada Publik Konsumen di Indonesia

Sukemi menjelaskan, sebelum itu harga kedelai hanya sekitar Rp 12 ribu per kilogram. Namun, saat ini mencapai Rp 14.500 untuk eceran. Sedangkan harga partai besar Rp 13.900 per kilogram.

‘’Tapi, sudah beberapa bulan agen tidak melayani pembelian grosiran karena harga tidak stabil. Mereka pastinya juga tidak mau rugi,’’ ungkap pria tersebut.Tingginya harga kedelai memaksa Sukemi memutar otak agar produksi tempenya terus berjalan.

Seperti mengecilkan ukuran hingga nyaris setengah dari biasanya. ‘’Kalau harganya dinaikkan, pasti banyak pembeli yang tidak mau. Ingiinya tetap Rp 2 ribu per bungkus walau ukurannya lebih kecil,’’ imbuh Sukemi.

Sukemi mengaku, semenjak harga kedelai bergejolak, omzet penjualan tempe buatannya turun signifikan. Jika sebelumnya sehari bisa mencapai Rp 500.000, kini menyusut menjadi hanya sekitar Rp 330.000. ‘’Kalau terus-terusan seperti ini, perajin bisa gulung tikar,’’ keluh dia.

Sukemi berharap harga kedelai bisa kembali normal di kisaran Rp 10.000 per kilogram. ‘’Ada baiknya juga perajin tempe diberi bantuan kedelai gratis dua kuintal per bulan seperti saat ada PKH (Program Keluarga Harapan, Red) beberapa tahun lalu,’’ imbuh Sukemi. (*)

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Sumber Berita: Jawa Pos Radar Madiun

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca