alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Selipkan Peserta Palsu Trik Arisan Bodong Keruk Keuntungan

Mobile_AP_Rectangle 1

BANJARBARU, RADARJEMBER.ID – Kemarin Jum’at (22/7) pagi, Febri mendarat di Banjarbaru. Sudah sebulan ia buron. Membawa kabur uang arisan ke Kota Malang, Jawa Timur.Potret warga Jalan Dharma Bakti ini sempat viral di Instagram, sebulan lewat. Disebarkan oleh korbann,ia pun dicap sebagai penipu.

BACA JUGA: Doa Nyelekit, Buang Sampah Sembarangan

Dua sosialita bahkan menggelar Selipkansayembara di medsos. Menjanjikan duit Rp20 juta dan sebuah sepeda motor bagi siapa saja yang bisa memberi tahu di mana keberadaan Febri. Dikawal aparat, Febri langsung dibawa ke markas Ditkrimum Polda Kalsel untuk diperiksa. Penyambutan ini sangat meriah. Sebab, korban sudah menyiapkan “acara” ini dengan baik.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kalung yang dibuat dari sandal jepit bekas telah disiapkan. Niatnya hendak dikalungkan ke leher Febri. Tentu saja, rencana itu gagal lantaran dihalangi polisi. Sepanjang lorong dari pintu kedatangan hingga area parkir, sampai masuk ke dalam mobil, Febri terus menyembunyikan wajahnya di bahu polisi.

Mewakili para korban, Mira dan Risna mengaku senang karena Febri telah ditangkap. Keduanya menyanjung kinerja Kapolda Kalsel, Dirkrimum, Macan Kalsel dan penyidik. “Dia (Febri) ditemukan di sebuah apartemen di Malang. Jadi dijemput paksa,” ungkap Mira.Modus Febri berbeda dengan Rizki Amalia, sesama pelaku arisan bodong di Banjarmasin.

Jika Rizki bermain-main dengan skema Ponzi, maka trik Febri lebih sederhana. Dia memasukkan peserta palsu dalam kocokan arisan. Namanya ada, tapi orangnya tidak ada. Ketika nama peserta fiktif keluar, uangnya masuk ke kantong si bandar.“Awalnya aman saja. Pada tahun pertama arisan, tidak ada masalah. Nah, memasuki tahun kedua yang mulai kacau,” tambah Mira.

Mengapa ibu-ibu sosialita ini mau saja mengikuti arisan Febri? Mira menceritakan, Febri pernah mengaku-ngaku sebagai istri jenderal polisi. Korban pun merasa mendapat jaminan. Merasa aman. “Benar tidaknya cerita itu masih diselidiki. Atau mungkin hanya modusnya saja. Sampai nekat mencatut nama seorang jenderal,” jelas dia.

Yang luar biasa, dari selusin peserta arisan, delapan nama ternyata fiktif. Milik Febri semuanya. Tak ada yang mencurigainya saat nama pertama sampai keenam keluar dari kocokan. Aksi Febri didukung oleh keadaan. Sejak pandemi covid, arisan digelar secara daring. Tak pernah lagi dengan tatap muka.

- Advertisement -

BANJARBARU, RADARJEMBER.ID – Kemarin Jum’at (22/7) pagi, Febri mendarat di Banjarbaru. Sudah sebulan ia buron. Membawa kabur uang arisan ke Kota Malang, Jawa Timur.Potret warga Jalan Dharma Bakti ini sempat viral di Instagram, sebulan lewat. Disebarkan oleh korbann,ia pun dicap sebagai penipu.

BACA JUGA: Doa Nyelekit, Buang Sampah Sembarangan

Dua sosialita bahkan menggelar Selipkansayembara di medsos. Menjanjikan duit Rp20 juta dan sebuah sepeda motor bagi siapa saja yang bisa memberi tahu di mana keberadaan Febri. Dikawal aparat, Febri langsung dibawa ke markas Ditkrimum Polda Kalsel untuk diperiksa. Penyambutan ini sangat meriah. Sebab, korban sudah menyiapkan “acara” ini dengan baik.

Kalung yang dibuat dari sandal jepit bekas telah disiapkan. Niatnya hendak dikalungkan ke leher Febri. Tentu saja, rencana itu gagal lantaran dihalangi polisi. Sepanjang lorong dari pintu kedatangan hingga area parkir, sampai masuk ke dalam mobil, Febri terus menyembunyikan wajahnya di bahu polisi.

Mewakili para korban, Mira dan Risna mengaku senang karena Febri telah ditangkap. Keduanya menyanjung kinerja Kapolda Kalsel, Dirkrimum, Macan Kalsel dan penyidik. “Dia (Febri) ditemukan di sebuah apartemen di Malang. Jadi dijemput paksa,” ungkap Mira.Modus Febri berbeda dengan Rizki Amalia, sesama pelaku arisan bodong di Banjarmasin.

Jika Rizki bermain-main dengan skema Ponzi, maka trik Febri lebih sederhana. Dia memasukkan peserta palsu dalam kocokan arisan. Namanya ada, tapi orangnya tidak ada. Ketika nama peserta fiktif keluar, uangnya masuk ke kantong si bandar.“Awalnya aman saja. Pada tahun pertama arisan, tidak ada masalah. Nah, memasuki tahun kedua yang mulai kacau,” tambah Mira.

Mengapa ibu-ibu sosialita ini mau saja mengikuti arisan Febri? Mira menceritakan, Febri pernah mengaku-ngaku sebagai istri jenderal polisi. Korban pun merasa mendapat jaminan. Merasa aman. “Benar tidaknya cerita itu masih diselidiki. Atau mungkin hanya modusnya saja. Sampai nekat mencatut nama seorang jenderal,” jelas dia.

Yang luar biasa, dari selusin peserta arisan, delapan nama ternyata fiktif. Milik Febri semuanya. Tak ada yang mencurigainya saat nama pertama sampai keenam keluar dari kocokan. Aksi Febri didukung oleh keadaan. Sejak pandemi covid, arisan digelar secara daring. Tak pernah lagi dengan tatap muka.

BANJARBARU, RADARJEMBER.ID – Kemarin Jum’at (22/7) pagi, Febri mendarat di Banjarbaru. Sudah sebulan ia buron. Membawa kabur uang arisan ke Kota Malang, Jawa Timur.Potret warga Jalan Dharma Bakti ini sempat viral di Instagram, sebulan lewat. Disebarkan oleh korbann,ia pun dicap sebagai penipu.

BACA JUGA: Doa Nyelekit, Buang Sampah Sembarangan

Dua sosialita bahkan menggelar Selipkansayembara di medsos. Menjanjikan duit Rp20 juta dan sebuah sepeda motor bagi siapa saja yang bisa memberi tahu di mana keberadaan Febri. Dikawal aparat, Febri langsung dibawa ke markas Ditkrimum Polda Kalsel untuk diperiksa. Penyambutan ini sangat meriah. Sebab, korban sudah menyiapkan “acara” ini dengan baik.

Kalung yang dibuat dari sandal jepit bekas telah disiapkan. Niatnya hendak dikalungkan ke leher Febri. Tentu saja, rencana itu gagal lantaran dihalangi polisi. Sepanjang lorong dari pintu kedatangan hingga area parkir, sampai masuk ke dalam mobil, Febri terus menyembunyikan wajahnya di bahu polisi.

Mewakili para korban, Mira dan Risna mengaku senang karena Febri telah ditangkap. Keduanya menyanjung kinerja Kapolda Kalsel, Dirkrimum, Macan Kalsel dan penyidik. “Dia (Febri) ditemukan di sebuah apartemen di Malang. Jadi dijemput paksa,” ungkap Mira.Modus Febri berbeda dengan Rizki Amalia, sesama pelaku arisan bodong di Banjarmasin.

Jika Rizki bermain-main dengan skema Ponzi, maka trik Febri lebih sederhana. Dia memasukkan peserta palsu dalam kocokan arisan. Namanya ada, tapi orangnya tidak ada. Ketika nama peserta fiktif keluar, uangnya masuk ke kantong si bandar.“Awalnya aman saja. Pada tahun pertama arisan, tidak ada masalah. Nah, memasuki tahun kedua yang mulai kacau,” tambah Mira.

Mengapa ibu-ibu sosialita ini mau saja mengikuti arisan Febri? Mira menceritakan, Febri pernah mengaku-ngaku sebagai istri jenderal polisi. Korban pun merasa mendapat jaminan. Merasa aman. “Benar tidaknya cerita itu masih diselidiki. Atau mungkin hanya modusnya saja. Sampai nekat mencatut nama seorang jenderal,” jelas dia.

Yang luar biasa, dari selusin peserta arisan, delapan nama ternyata fiktif. Milik Febri semuanya. Tak ada yang mencurigainya saat nama pertama sampai keenam keluar dari kocokan. Aksi Febri didukung oleh keadaan. Sejak pandemi covid, arisan digelar secara daring. Tak pernah lagi dengan tatap muka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/