alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Medan Sulit, BAKTI tetap Bangun Menara di Pegunungan Bintang

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pembangunan menara Base Tranceiver Station (BTS) 4G di wilayah Pegunungan Bintang oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus dilakukan meski medan berat dihadapi.

BACA JUGA : Ancam Akan Datangkan Lebih Banyak Massa

Pembangunan menara, menurut Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif, BTS 4G di Pegunungan Bintang masuk dalam wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) penting untuk diselesaikan, agar masyarakat di sana bisa menikmati akses telekomunikasi yang memadai. “Saudara-saudara kita yang ada di Papua, di Pegunungan Bintang juga perlu mendapatkan sinyal seperti kita yang sudah lebih dulu mendapatkannya di pulau Jawa,” ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kabupaten dengan ibu kota Oksibil, menurut Anang, memiliki kondisi geografis yang khas di mana sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan sehingga pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang tidaklah mudah.

Penduduknya bermukim di distrik-distrik yang terletak di lereng gunung terjal dan lembah-lembah kecil, terpencar dan terisolasi. Untuk menjangkaunya, hanya bisa menggunakan transportasi udara.

Dengan kondisi geografis tersebut, pengiriman material ke lokasi pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang menjadi tantangan berat tersendiri yang harus dihadapi. “Kondisi geografis masih menjadi tantangan. Beberapa lokasi harus memakai helikopter. Biayanya cukup mahal ketika logistik ini dikirimkan,” ujarnya.

ANTARA berkesempatan meninjau langsung proses pendistribusian material pembangunan menara BTS 4G di sejumlah distrik di Pegunungan Bintang yang dilakukan BAKTI Kominfo melalui PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS).

PT IBS bersama ZTE adalah pemenang tender pekerjaan Paket 4 dan Paket 5 pengadaan menara BTS 4G di wikayah 3T, di mana Pegunungan Bintang masuk dalam paket tersebut.

Untuk membangun satu site menara BTS 4G, PT IBS harus memboyong sekitar 90 jenis komponen, terbagi untuk tower, power, VSAT, dan BTS. Material tersebut dimuat dari gudang mereka yang berada di Jayapura, Papua.

Dari Jayapura, material dengan bobot total mencapai 10 ton itu dibawa menuju Senggeh, Kabupaten Keerom menggunakan jalur darat selama sekitar enam jam. Dari Senggeh, material tersebut lalu diangkut melalui jalur udara menuju lokasi pembangunan di Pegunungan Bintang.

Material dengan dimensi panjang maksimal 3,5 meter diangkut menggunakan pesawat jenis caravan. Sementara material dengan dimensi yang lebih pendek, dapat dimuat menggunakan pesawat jenis pilatus.
Adapun material dengan dimensi yang lebar seperti pagar atau antena, harus dibawa menggunakan helikopter secara eksternal memakai sling.

Proses pengiriman material via jalur udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila cuaca buruk, maka proses pengiriman harus ditunda untuk sementara waktu.

“Kendalanya di cuaca. Kalau cuaca buruk, pengiriman tidak bisa dilakukan,” kata Head of Supply Chain Management IBS Meita Dwivernia.

Pengiriman material dari Senggeh ke Pegunungan Bintang memakan waktu sekitar 20-45 menit tergantung jarak lokasi yang dituju.
Pilot pesawat atau helikopter dituntut untuk fokus dan berhati-hati lantaran medan yang dilalui berada di antara bukit dan tebing pegunungan.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pembangunan menara Base Tranceiver Station (BTS) 4G di wilayah Pegunungan Bintang oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus dilakukan meski medan berat dihadapi.

BACA JUGA : Ancam Akan Datangkan Lebih Banyak Massa

Pembangunan menara, menurut Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif, BTS 4G di Pegunungan Bintang masuk dalam wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) penting untuk diselesaikan, agar masyarakat di sana bisa menikmati akses telekomunikasi yang memadai. “Saudara-saudara kita yang ada di Papua, di Pegunungan Bintang juga perlu mendapatkan sinyal seperti kita yang sudah lebih dulu mendapatkannya di pulau Jawa,” ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Kabupaten dengan ibu kota Oksibil, menurut Anang, memiliki kondisi geografis yang khas di mana sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan sehingga pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang tidaklah mudah.

Penduduknya bermukim di distrik-distrik yang terletak di lereng gunung terjal dan lembah-lembah kecil, terpencar dan terisolasi. Untuk menjangkaunya, hanya bisa menggunakan transportasi udara.

Dengan kondisi geografis tersebut, pengiriman material ke lokasi pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang menjadi tantangan berat tersendiri yang harus dihadapi. “Kondisi geografis masih menjadi tantangan. Beberapa lokasi harus memakai helikopter. Biayanya cukup mahal ketika logistik ini dikirimkan,” ujarnya.

ANTARA berkesempatan meninjau langsung proses pendistribusian material pembangunan menara BTS 4G di sejumlah distrik di Pegunungan Bintang yang dilakukan BAKTI Kominfo melalui PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS).

PT IBS bersama ZTE adalah pemenang tender pekerjaan Paket 4 dan Paket 5 pengadaan menara BTS 4G di wikayah 3T, di mana Pegunungan Bintang masuk dalam paket tersebut.

Untuk membangun satu site menara BTS 4G, PT IBS harus memboyong sekitar 90 jenis komponen, terbagi untuk tower, power, VSAT, dan BTS. Material tersebut dimuat dari gudang mereka yang berada di Jayapura, Papua.

Dari Jayapura, material dengan bobot total mencapai 10 ton itu dibawa menuju Senggeh, Kabupaten Keerom menggunakan jalur darat selama sekitar enam jam. Dari Senggeh, material tersebut lalu diangkut melalui jalur udara menuju lokasi pembangunan di Pegunungan Bintang.

Material dengan dimensi panjang maksimal 3,5 meter diangkut menggunakan pesawat jenis caravan. Sementara material dengan dimensi yang lebih pendek, dapat dimuat menggunakan pesawat jenis pilatus.
Adapun material dengan dimensi yang lebar seperti pagar atau antena, harus dibawa menggunakan helikopter secara eksternal memakai sling.

Proses pengiriman material via jalur udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila cuaca buruk, maka proses pengiriman harus ditunda untuk sementara waktu.

“Kendalanya di cuaca. Kalau cuaca buruk, pengiriman tidak bisa dilakukan,” kata Head of Supply Chain Management IBS Meita Dwivernia.

Pengiriman material dari Senggeh ke Pegunungan Bintang memakan waktu sekitar 20-45 menit tergantung jarak lokasi yang dituju.
Pilot pesawat atau helikopter dituntut untuk fokus dan berhati-hati lantaran medan yang dilalui berada di antara bukit dan tebing pegunungan.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pembangunan menara Base Tranceiver Station (BTS) 4G di wilayah Pegunungan Bintang oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus dilakukan meski medan berat dihadapi.

BACA JUGA : Ancam Akan Datangkan Lebih Banyak Massa

Pembangunan menara, menurut Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif, BTS 4G di Pegunungan Bintang masuk dalam wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) penting untuk diselesaikan, agar masyarakat di sana bisa menikmati akses telekomunikasi yang memadai. “Saudara-saudara kita yang ada di Papua, di Pegunungan Bintang juga perlu mendapatkan sinyal seperti kita yang sudah lebih dulu mendapatkannya di pulau Jawa,” ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Kabupaten dengan ibu kota Oksibil, menurut Anang, memiliki kondisi geografis yang khas di mana sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan sehingga pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang tidaklah mudah.

Penduduknya bermukim di distrik-distrik yang terletak di lereng gunung terjal dan lembah-lembah kecil, terpencar dan terisolasi. Untuk menjangkaunya, hanya bisa menggunakan transportasi udara.

Dengan kondisi geografis tersebut, pengiriman material ke lokasi pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang menjadi tantangan berat tersendiri yang harus dihadapi. “Kondisi geografis masih menjadi tantangan. Beberapa lokasi harus memakai helikopter. Biayanya cukup mahal ketika logistik ini dikirimkan,” ujarnya.

ANTARA berkesempatan meninjau langsung proses pendistribusian material pembangunan menara BTS 4G di sejumlah distrik di Pegunungan Bintang yang dilakukan BAKTI Kominfo melalui PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS).

PT IBS bersama ZTE adalah pemenang tender pekerjaan Paket 4 dan Paket 5 pengadaan menara BTS 4G di wikayah 3T, di mana Pegunungan Bintang masuk dalam paket tersebut.

Untuk membangun satu site menara BTS 4G, PT IBS harus memboyong sekitar 90 jenis komponen, terbagi untuk tower, power, VSAT, dan BTS. Material tersebut dimuat dari gudang mereka yang berada di Jayapura, Papua.

Dari Jayapura, material dengan bobot total mencapai 10 ton itu dibawa menuju Senggeh, Kabupaten Keerom menggunakan jalur darat selama sekitar enam jam. Dari Senggeh, material tersebut lalu diangkut melalui jalur udara menuju lokasi pembangunan di Pegunungan Bintang.

Material dengan dimensi panjang maksimal 3,5 meter diangkut menggunakan pesawat jenis caravan. Sementara material dengan dimensi yang lebih pendek, dapat dimuat menggunakan pesawat jenis pilatus.
Adapun material dengan dimensi yang lebar seperti pagar atau antena, harus dibawa menggunakan helikopter secara eksternal memakai sling.

Proses pengiriman material via jalur udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila cuaca buruk, maka proses pengiriman harus ditunda untuk sementara waktu.

“Kendalanya di cuaca. Kalau cuaca buruk, pengiriman tidak bisa dilakukan,” kata Head of Supply Chain Management IBS Meita Dwivernia.

Pengiriman material dari Senggeh ke Pegunungan Bintang memakan waktu sekitar 20-45 menit tergantung jarak lokasi yang dituju.
Pilot pesawat atau helikopter dituntut untuk fokus dan berhati-hati lantaran medan yang dilalui berada di antara bukit dan tebing pegunungan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/