alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Keliling Pesantren Beri Keterampilan Kepada Santri

Mobile_AP_Rectangle 1

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Ada hal unik dalam diri Khoirul Kamami. ASN Kementerian Agama (Kemenag) Madiun, pria tersebut rajin berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lainn. Tidak ada maksud lain kenapa ia gemar sambangi pesantren, memberikan pelatihan keterampilan bagi para santri itu adalah kemauan dari Khoirul. Aktivitas itu dijalani sejak Februari lalu, dimulai di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Huda, Mayak, Ponorogo.

Koirul berbagi ilmu membuat kasur busa lateks alias springbed. Baru delapan kali pertemuan, santri sudah bisa membuat tiga springbed. Ilmu ini diharapkan bisa menjadi bekal mereka saat lulus dari pondok. Sejak lulus kuliah pada 1991 silam Khoirul menjajal berbagai usaha, mulai menjahit, berjualan jamu keliling, hingga kontraktor. Dia juga sempat berprofesi sebagai tukang jok sofa, kursi, dan springbed, kini keterampilan itu ia tularkan kepada santri pondok pesantren.

“Saya memiliki rencana setelah program pelatihan pembuatan springbed rampung, berlanjut ke konveksi dan tata boga. Untuk itu saya menginginkan di setiap pondok pesantren mendirikan badan usaha untuk menunjang pemasaran produk, selain itu ada lembaga penjamin mutu agar laku di pasaran. Untuk itu saya menghimbau santri terus berupaya meningkat kualitas produk, itu penting dan jangan dilupakan.” kata Khoirul.

Mobile_AP_Rectangle 2

Khoirul mengenal pesantren sejak kecil. Dimulai dengan mondok di Ponpes Al-Husna, Kediri, saat menempuh pendidikan guru agama negeri (PGAN) era 1980-an silam. Setelah lulus di tahun 1985. Dia melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, selama kuliah di IAIN itu Khoirul tinggal di Ponpes Darul Huda, Mayak, Ponorogo. Setelah lulus pada 1991, dia menikah dan fokus menjadi wirausahawan.

- Advertisement -

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Ada hal unik dalam diri Khoirul Kamami. ASN Kementerian Agama (Kemenag) Madiun, pria tersebut rajin berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lainn. Tidak ada maksud lain kenapa ia gemar sambangi pesantren, memberikan pelatihan keterampilan bagi para santri itu adalah kemauan dari Khoirul. Aktivitas itu dijalani sejak Februari lalu, dimulai di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Huda, Mayak, Ponorogo.

Koirul berbagi ilmu membuat kasur busa lateks alias springbed. Baru delapan kali pertemuan, santri sudah bisa membuat tiga springbed. Ilmu ini diharapkan bisa menjadi bekal mereka saat lulus dari pondok. Sejak lulus kuliah pada 1991 silam Khoirul menjajal berbagai usaha, mulai menjahit, berjualan jamu keliling, hingga kontraktor. Dia juga sempat berprofesi sebagai tukang jok sofa, kursi, dan springbed, kini keterampilan itu ia tularkan kepada santri pondok pesantren.

“Saya memiliki rencana setelah program pelatihan pembuatan springbed rampung, berlanjut ke konveksi dan tata boga. Untuk itu saya menginginkan di setiap pondok pesantren mendirikan badan usaha untuk menunjang pemasaran produk, selain itu ada lembaga penjamin mutu agar laku di pasaran. Untuk itu saya menghimbau santri terus berupaya meningkat kualitas produk, itu penting dan jangan dilupakan.” kata Khoirul.

Khoirul mengenal pesantren sejak kecil. Dimulai dengan mondok di Ponpes Al-Husna, Kediri, saat menempuh pendidikan guru agama negeri (PGAN) era 1980-an silam. Setelah lulus di tahun 1985. Dia melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, selama kuliah di IAIN itu Khoirul tinggal di Ponpes Darul Huda, Mayak, Ponorogo. Setelah lulus pada 1991, dia menikah dan fokus menjadi wirausahawan.

MADIUN, RADARJEMBER.ID – Ada hal unik dalam diri Khoirul Kamami. ASN Kementerian Agama (Kemenag) Madiun, pria tersebut rajin berkeliling dari satu pesantren ke pesantren lainn. Tidak ada maksud lain kenapa ia gemar sambangi pesantren, memberikan pelatihan keterampilan bagi para santri itu adalah kemauan dari Khoirul. Aktivitas itu dijalani sejak Februari lalu, dimulai di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Huda, Mayak, Ponorogo.

Koirul berbagi ilmu membuat kasur busa lateks alias springbed. Baru delapan kali pertemuan, santri sudah bisa membuat tiga springbed. Ilmu ini diharapkan bisa menjadi bekal mereka saat lulus dari pondok. Sejak lulus kuliah pada 1991 silam Khoirul menjajal berbagai usaha, mulai menjahit, berjualan jamu keliling, hingga kontraktor. Dia juga sempat berprofesi sebagai tukang jok sofa, kursi, dan springbed, kini keterampilan itu ia tularkan kepada santri pondok pesantren.

“Saya memiliki rencana setelah program pelatihan pembuatan springbed rampung, berlanjut ke konveksi dan tata boga. Untuk itu saya menginginkan di setiap pondok pesantren mendirikan badan usaha untuk menunjang pemasaran produk, selain itu ada lembaga penjamin mutu agar laku di pasaran. Untuk itu saya menghimbau santri terus berupaya meningkat kualitas produk, itu penting dan jangan dilupakan.” kata Khoirul.

Khoirul mengenal pesantren sejak kecil. Dimulai dengan mondok di Ponpes Al-Husna, Kediri, saat menempuh pendidikan guru agama negeri (PGAN) era 1980-an silam. Setelah lulus di tahun 1985. Dia melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo, selama kuliah di IAIN itu Khoirul tinggal di Ponpes Darul Huda, Mayak, Ponorogo. Setelah lulus pada 1991, dia menikah dan fokus menjadi wirausahawan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/