alexametrics
21.9 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Jaksa Agung Minta Siswa SMA yang Bunuh Begal Dikembalikan ke Orang Tua

Mobile_AP_Rectangle 1

Pernyataan tersebut disampaikan Burhanuddin setelah rapat kerja dengan komisi III di gedung DPR kemarin (20/1). Dia menyatakan, pembunuhan itu terjadi karena ZA berusaha membela diri. Namun, ZA tidak dalam keadaan terpaksa penuh. Sebab, kata dia, sebenarnya si begal tidak punya keinginan memerkosa pacar ZA. Namun, ZA kadung membawa senjata tajam. Senjata itulah yang digunakan pelajar tersebut untuk membela diri dan menghabisi korban.

Burhanuddin menegaskan bahwa kejaksaan tidak menahan ZA. Menurut dia, hari ini ada pembacaan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU). ’’Tuntutannya juga akan kami kembalikan ke orang tuanya,’’ tegasnya.

Sementara itu, kemarin (20/1) diadakan sidang tertutup di Ruang Sidang Anak Pengadilan Negeri Kepanjen. Agendanya mendengarkan keterangan saksi-saksi. Salah seorang saksi adalah VN, teman perempuan ZA yang berada di lokasi kejadian. Saat ditemui seusai sidang, VN kembali menceritakan peristiwa tersebut. Semua berawal pada 8 September 2019. Saat itu, ZA dan VN selesai menonton konser musik di Stadion Kanjuruhan. Perempuan kelahiran 2002 itu menerangkan, waktu kejadian sekitar pukul 19.00 di ladang tebu, Serangan, Gondanglegi, Malang.

Mobile_AP_Rectangle 2

ZA memilih jalur alternatif untuk pulang. Jalur tersebut dianggap lebih cepat lantaran aksesnya lebih enak. Namun, jalan itu sepi. ’’Melewati ladang tebu,’’ katanya. Pada saat itulah mereka dibuntuti empat orang yang mengendarai dua motor. Para pelaku langsung memepet dan memaksa ZA menepikan motornya. Kemudian, pelaku merampas handphone dan motor korban. ’’Handphone Mas ZA sudah diberikan karena diancam,’’ cerita VN. Dua pelaku, yakni Misnan dan Aliwafa, hendak merampas motor ZA. ’’Di situ saya inget betul. Saya juga diancem-ancem mau diperkosa,’’ jelas dia.

Mendengar ancaman pemerkosaan itu, ZA yang semula menurut akhirnya melawan. Dia mengambil pisau dapur yang berada di jok motor. Pisau itu ditusukkan ke Misnan. ZA lalu ganti mengancam Aliwafa. ’’Ndredeg gak keruan, Mas. Aku langsung ambil motornya untuk ditarik ke belakang karena disuruh Mas ZA,’’ jelas VN. Menurut dia, ZA tidak tahu bahwa Misnan akhirnya meninggal dunia.

MENCARI KEADILAN: Dari kiri, ZA, Bakti Riza Hidayat, dan Sudarto di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang, kemarin. (DENNY MAHARDIKA/JAWA POS)

Saat sidang, ZA dan VN terlihat masih mengenakan seragam putih abu-abu. ZA duduk di sebelah kanan pengacaranya. Dia menyimak keterangan saksi-saksi. Pengunjung hanya bisa menonton dari pintu kaca secara bergantian.

Bakti Riza Hidayat, penasihat hukum ZA, mengatakan, beberapa saksi sangat menguntungkan kliennya. Misalnya, keterangan Aliwafa. Bakti mengungkapkan, Aliwafa dan Misnan bukan kali pertama melakukan pemerasan di lokasi tersebut. Mereka bahkan pernah dipenjara dalam kasus yang sama.

- Advertisement -

Pernyataan tersebut disampaikan Burhanuddin setelah rapat kerja dengan komisi III di gedung DPR kemarin (20/1). Dia menyatakan, pembunuhan itu terjadi karena ZA berusaha membela diri. Namun, ZA tidak dalam keadaan terpaksa penuh. Sebab, kata dia, sebenarnya si begal tidak punya keinginan memerkosa pacar ZA. Namun, ZA kadung membawa senjata tajam. Senjata itulah yang digunakan pelajar tersebut untuk membela diri dan menghabisi korban.

Burhanuddin menegaskan bahwa kejaksaan tidak menahan ZA. Menurut dia, hari ini ada pembacaan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU). ’’Tuntutannya juga akan kami kembalikan ke orang tuanya,’’ tegasnya.

Sementara itu, kemarin (20/1) diadakan sidang tertutup di Ruang Sidang Anak Pengadilan Negeri Kepanjen. Agendanya mendengarkan keterangan saksi-saksi. Salah seorang saksi adalah VN, teman perempuan ZA yang berada di lokasi kejadian. Saat ditemui seusai sidang, VN kembali menceritakan peristiwa tersebut. Semua berawal pada 8 September 2019. Saat itu, ZA dan VN selesai menonton konser musik di Stadion Kanjuruhan. Perempuan kelahiran 2002 itu menerangkan, waktu kejadian sekitar pukul 19.00 di ladang tebu, Serangan, Gondanglegi, Malang.

ZA memilih jalur alternatif untuk pulang. Jalur tersebut dianggap lebih cepat lantaran aksesnya lebih enak. Namun, jalan itu sepi. ’’Melewati ladang tebu,’’ katanya. Pada saat itulah mereka dibuntuti empat orang yang mengendarai dua motor. Para pelaku langsung memepet dan memaksa ZA menepikan motornya. Kemudian, pelaku merampas handphone dan motor korban. ’’Handphone Mas ZA sudah diberikan karena diancam,’’ cerita VN. Dua pelaku, yakni Misnan dan Aliwafa, hendak merampas motor ZA. ’’Di situ saya inget betul. Saya juga diancem-ancem mau diperkosa,’’ jelas dia.

Mendengar ancaman pemerkosaan itu, ZA yang semula menurut akhirnya melawan. Dia mengambil pisau dapur yang berada di jok motor. Pisau itu ditusukkan ke Misnan. ZA lalu ganti mengancam Aliwafa. ’’Ndredeg gak keruan, Mas. Aku langsung ambil motornya untuk ditarik ke belakang karena disuruh Mas ZA,’’ jelas VN. Menurut dia, ZA tidak tahu bahwa Misnan akhirnya meninggal dunia.

MENCARI KEADILAN: Dari kiri, ZA, Bakti Riza Hidayat, dan Sudarto di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang, kemarin. (DENNY MAHARDIKA/JAWA POS)

Saat sidang, ZA dan VN terlihat masih mengenakan seragam putih abu-abu. ZA duduk di sebelah kanan pengacaranya. Dia menyimak keterangan saksi-saksi. Pengunjung hanya bisa menonton dari pintu kaca secara bergantian.

Bakti Riza Hidayat, penasihat hukum ZA, mengatakan, beberapa saksi sangat menguntungkan kliennya. Misalnya, keterangan Aliwafa. Bakti mengungkapkan, Aliwafa dan Misnan bukan kali pertama melakukan pemerasan di lokasi tersebut. Mereka bahkan pernah dipenjara dalam kasus yang sama.

Pernyataan tersebut disampaikan Burhanuddin setelah rapat kerja dengan komisi III di gedung DPR kemarin (20/1). Dia menyatakan, pembunuhan itu terjadi karena ZA berusaha membela diri. Namun, ZA tidak dalam keadaan terpaksa penuh. Sebab, kata dia, sebenarnya si begal tidak punya keinginan memerkosa pacar ZA. Namun, ZA kadung membawa senjata tajam. Senjata itulah yang digunakan pelajar tersebut untuk membela diri dan menghabisi korban.

Burhanuddin menegaskan bahwa kejaksaan tidak menahan ZA. Menurut dia, hari ini ada pembacaan tuntutan dari jaksa penuntut umum (JPU). ’’Tuntutannya juga akan kami kembalikan ke orang tuanya,’’ tegasnya.

Sementara itu, kemarin (20/1) diadakan sidang tertutup di Ruang Sidang Anak Pengadilan Negeri Kepanjen. Agendanya mendengarkan keterangan saksi-saksi. Salah seorang saksi adalah VN, teman perempuan ZA yang berada di lokasi kejadian. Saat ditemui seusai sidang, VN kembali menceritakan peristiwa tersebut. Semua berawal pada 8 September 2019. Saat itu, ZA dan VN selesai menonton konser musik di Stadion Kanjuruhan. Perempuan kelahiran 2002 itu menerangkan, waktu kejadian sekitar pukul 19.00 di ladang tebu, Serangan, Gondanglegi, Malang.

ZA memilih jalur alternatif untuk pulang. Jalur tersebut dianggap lebih cepat lantaran aksesnya lebih enak. Namun, jalan itu sepi. ’’Melewati ladang tebu,’’ katanya. Pada saat itulah mereka dibuntuti empat orang yang mengendarai dua motor. Para pelaku langsung memepet dan memaksa ZA menepikan motornya. Kemudian, pelaku merampas handphone dan motor korban. ’’Handphone Mas ZA sudah diberikan karena diancam,’’ cerita VN. Dua pelaku, yakni Misnan dan Aliwafa, hendak merampas motor ZA. ’’Di situ saya inget betul. Saya juga diancem-ancem mau diperkosa,’’ jelas dia.

Mendengar ancaman pemerkosaan itu, ZA yang semula menurut akhirnya melawan. Dia mengambil pisau dapur yang berada di jok motor. Pisau itu ditusukkan ke Misnan. ZA lalu ganti mengancam Aliwafa. ’’Ndredeg gak keruan, Mas. Aku langsung ambil motornya untuk ditarik ke belakang karena disuruh Mas ZA,’’ jelas VN. Menurut dia, ZA tidak tahu bahwa Misnan akhirnya meninggal dunia.

MENCARI KEADILAN: Dari kiri, ZA, Bakti Riza Hidayat, dan Sudarto di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang, kemarin. (DENNY MAHARDIKA/JAWA POS)

Saat sidang, ZA dan VN terlihat masih mengenakan seragam putih abu-abu. ZA duduk di sebelah kanan pengacaranya. Dia menyimak keterangan saksi-saksi. Pengunjung hanya bisa menonton dari pintu kaca secara bergantian.

Bakti Riza Hidayat, penasihat hukum ZA, mengatakan, beberapa saksi sangat menguntungkan kliennya. Misalnya, keterangan Aliwafa. Bakti mengungkapkan, Aliwafa dan Misnan bukan kali pertama melakukan pemerasan di lokasi tersebut. Mereka bahkan pernah dipenjara dalam kasus yang sama.

Previous articleArwana 6 T
Next articleJangan Diam, Pak Anas!

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/