23.7 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Pemkab Gorontalo Utara Ritual Mandi Safar Dikemas dalam Bentuk Festival

Mobile_AP_Rectangle 1

Gorontalo, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo menggelar ritual budaya Mandi Safar yang digelar dalam bentuk festival.

BACA JUGA : Gambarkan Nasib Perempuan dalam Lukisan

Ritual mandi bersama tersebut bermakna membuang sial dan membersihkan diri dari segala dosa. Acara dipusatkan di Sungai Andagile, Desa Buata, Kecamatan Atinggola, dibuka Sekretaris Daerah setempat, Suleman Lakoro, di Gorontalo, Rabu (21/9).

Mobile_AP_Rectangle 2

Acara tersebut dihadiri Sekda didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Camat Atinggola, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, tokoh agama dan tokoh adat, juga pimpinan organisasi perangkat daerah.

Doa ritual budaya pun dipusatkan di gedung adat Desa Buata, dipimpin imam wilayah. “Ritual ini digelar setiap tahun di bulan Safar. Pada minggu pertama hingga ketiga, digelar doa-doa. Kemudian minggu keempat, ritual doa dan mandi di sungai dibuka untuk umum,” katanya.

Makna ritual mandi Safar kata dia sangat luas. “Pemkab bersyukur, budaya ini tetap terjaga dan lestari hingga saat ini,” katanya pula.

Mandi Safar dipercaya sebagai ritual membuang sial dengan mandi di sungai. Sejak tahun 2013, Pemkab memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan budaya yang lekat dengan masyarakat di Kecamatan Atinggola atau di wilayah timur kabupaten ini.

Suleman mengatakan, dengan memohon doa dalam ucapan syukur, diharapkan negeri ini akan terus makmur dan terhindar dari bencana. Ritual budaya tersebut, kini dikemas dalam bentuk festival dalam upaya melestarikan doa dan Mandi Safar.

“Ritual ini juga mengandung makna yang sangat besar, berupa pembersihan jasmani kita. Dicuci dengan cara mandi, maknanya agar terhindar dari marabahaya dan seluruh hajat atau keinginan dapat terwujud,” katanya.

Sedangkan makna secara rohani, menurut Sekda, diharapkan tubuh menjadi bersih, serta hilang dari sifat penyakit hati seperti angkuh, iri, sombong.

Peserta Mandi Safar juga bermohon kepada Pencipta, agar diberi kebaikan, kesejahteraan, ketaatan dan terus berusaha dalam hidup.

“Alhamdulillah ritual ini mampu menyedot perhatian ribuan pengunjung. Bahkan banyak pengunjung dari luar kabupaten ini datang untuk ikut mandi di sungai,” katanya.

Festival ritual budaya Mandi Safar juga diwarnai dengan kegiatan olah raga tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.

Pemkab berharap, dampak pariwisata dan perekonomian di sektor riil akan dinikmati masyarakat secara langsung. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Susanti Sako

Sumber Berita : Antara

- Advertisement -

Gorontalo, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo menggelar ritual budaya Mandi Safar yang digelar dalam bentuk festival.

BACA JUGA : Gambarkan Nasib Perempuan dalam Lukisan

Ritual mandi bersama tersebut bermakna membuang sial dan membersihkan diri dari segala dosa. Acara dipusatkan di Sungai Andagile, Desa Buata, Kecamatan Atinggola, dibuka Sekretaris Daerah setempat, Suleman Lakoro, di Gorontalo, Rabu (21/9).

Acara tersebut dihadiri Sekda didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Camat Atinggola, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, tokoh agama dan tokoh adat, juga pimpinan organisasi perangkat daerah.

Doa ritual budaya pun dipusatkan di gedung adat Desa Buata, dipimpin imam wilayah. “Ritual ini digelar setiap tahun di bulan Safar. Pada minggu pertama hingga ketiga, digelar doa-doa. Kemudian minggu keempat, ritual doa dan mandi di sungai dibuka untuk umum,” katanya.

Makna ritual mandi Safar kata dia sangat luas. “Pemkab bersyukur, budaya ini tetap terjaga dan lestari hingga saat ini,” katanya pula.

Mandi Safar dipercaya sebagai ritual membuang sial dengan mandi di sungai. Sejak tahun 2013, Pemkab memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan budaya yang lekat dengan masyarakat di Kecamatan Atinggola atau di wilayah timur kabupaten ini.

Suleman mengatakan, dengan memohon doa dalam ucapan syukur, diharapkan negeri ini akan terus makmur dan terhindar dari bencana. Ritual budaya tersebut, kini dikemas dalam bentuk festival dalam upaya melestarikan doa dan Mandi Safar.

“Ritual ini juga mengandung makna yang sangat besar, berupa pembersihan jasmani kita. Dicuci dengan cara mandi, maknanya agar terhindar dari marabahaya dan seluruh hajat atau keinginan dapat terwujud,” katanya.

Sedangkan makna secara rohani, menurut Sekda, diharapkan tubuh menjadi bersih, serta hilang dari sifat penyakit hati seperti angkuh, iri, sombong.

Peserta Mandi Safar juga bermohon kepada Pencipta, agar diberi kebaikan, kesejahteraan, ketaatan dan terus berusaha dalam hidup.

“Alhamdulillah ritual ini mampu menyedot perhatian ribuan pengunjung. Bahkan banyak pengunjung dari luar kabupaten ini datang untuk ikut mandi di sungai,” katanya.

Festival ritual budaya Mandi Safar juga diwarnai dengan kegiatan olah raga tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.

Pemkab berharap, dampak pariwisata dan perekonomian di sektor riil akan dinikmati masyarakat secara langsung. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Susanti Sako

Sumber Berita : Antara

Gorontalo, RADARJEMBER.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo menggelar ritual budaya Mandi Safar yang digelar dalam bentuk festival.

BACA JUGA : Gambarkan Nasib Perempuan dalam Lukisan

Ritual mandi bersama tersebut bermakna membuang sial dan membersihkan diri dari segala dosa. Acara dipusatkan di Sungai Andagile, Desa Buata, Kecamatan Atinggola, dibuka Sekretaris Daerah setempat, Suleman Lakoro, di Gorontalo, Rabu (21/9).

Acara tersebut dihadiri Sekda didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Camat Atinggola, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, tokoh agama dan tokoh adat, juga pimpinan organisasi perangkat daerah.

Doa ritual budaya pun dipusatkan di gedung adat Desa Buata, dipimpin imam wilayah. “Ritual ini digelar setiap tahun di bulan Safar. Pada minggu pertama hingga ketiga, digelar doa-doa. Kemudian minggu keempat, ritual doa dan mandi di sungai dibuka untuk umum,” katanya.

Makna ritual mandi Safar kata dia sangat luas. “Pemkab bersyukur, budaya ini tetap terjaga dan lestari hingga saat ini,” katanya pula.

Mandi Safar dipercaya sebagai ritual membuang sial dengan mandi di sungai. Sejak tahun 2013, Pemkab memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan budaya yang lekat dengan masyarakat di Kecamatan Atinggola atau di wilayah timur kabupaten ini.

Suleman mengatakan, dengan memohon doa dalam ucapan syukur, diharapkan negeri ini akan terus makmur dan terhindar dari bencana. Ritual budaya tersebut, kini dikemas dalam bentuk festival dalam upaya melestarikan doa dan Mandi Safar.

“Ritual ini juga mengandung makna yang sangat besar, berupa pembersihan jasmani kita. Dicuci dengan cara mandi, maknanya agar terhindar dari marabahaya dan seluruh hajat atau keinginan dapat terwujud,” katanya.

Sedangkan makna secara rohani, menurut Sekda, diharapkan tubuh menjadi bersih, serta hilang dari sifat penyakit hati seperti angkuh, iri, sombong.

Peserta Mandi Safar juga bermohon kepada Pencipta, agar diberi kebaikan, kesejahteraan, ketaatan dan terus berusaha dalam hidup.

“Alhamdulillah ritual ini mampu menyedot perhatian ribuan pengunjung. Bahkan banyak pengunjung dari luar kabupaten ini datang untuk ikut mandi di sungai,” katanya.

Festival ritual budaya Mandi Safar juga diwarnai dengan kegiatan olah raga tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.

Pemkab berharap, dampak pariwisata dan perekonomian di sektor riil akan dinikmati masyarakat secara langsung. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Susanti Sako

Sumber Berita : Antara

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca