30.2 C
Jember
Friday, 2 December 2022

Keuntungan Dobel Diperoleh Melalui Pola Mina Padi

Mobile_AP_Rectangle 1

TORAJA, RADARJEMBER.ID – Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas perikanan terus dilakukan para pembudidaya di seluruh tanah air. Salah satunya adalah dengan budidaya ikan melalui pemanfaatan lahan sawah atau lebih dikenal dengan istilah mina padi.

BACA JUGA : Keseluruhan Denda  ELTE Jawa Tengah Capai Rp 27 Miliar

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui mina padi, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi dihasilkan maupun hasil panen dari ikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mina padi mulai dikembangkan di Indonesia sebagai salah satu sistem budidaya ikan pada tahun 1970-an. Di Toraja Utara, mina padi biasa dilakukan pembudidaya melalui dua cara, yaitu dengan sistem penyelang dan sistem tumpang sari.

“Sistem penyelang memproduksi ikan dengan ukuran kecil dan dipanen ketika umur ikan mencapai 20 harian, lalu dijadikan bibit.Sistem mina padi tumpang sari memproduksi ikan lebih besar masa pemeliharaan 3-4 bulan,” jelas Irvan Parewang, Penyuluh Perikanan Kabupaten Toraja Utara.

Para pembudidaya di Toraja Utara lebih banyak membesarkan ikan mas dengan cara tumpangsari. Metode ini dipandang lebih menguntungkan karena ikan yang dijual telah memasuki ukuran kosumsi sehingga harganya lebih tinggi.

Lebih lanjut, mengenai proses sistem tumpang sari diawali dengan penanaman padi di lahan berukuran 2.000 m2 hingga 1 hektare. Setelah akar padi sudah kuat atau memasuki usia minimal satu bulan, volume air ditambah dan ikan berukuran 7-15 cm sudah bisa ditebar.

“Untuk kepadatan tebarnya sendiri itu satu ekor ikan per meter persegi. Jadi kalau satu hektare, ikan yang ditebar bisa sampai 10.000 ekor yang ukurannya 7 cm. Hasilnya dari situ bisa mencapai 6 ton paling tinggi,” tambah Irvan.

Seiring meningkatnya kebutuhan akan konsumsi ikan mas, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) fokus menaikan angka produksi ikan ini melalui pengembangan kampung budidaya.

Kedepan diharapkan ikan mas dapat menjadi sektor utama penunjang perekonomian masyarakat, terlebih lagi didukung oleh Lembaga Pengelola Modal PePengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:LPMUKP For JawaPos.com

Sumber Berita:jawapos.com

 

- Advertisement -

TORAJA, RADARJEMBER.ID – Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas perikanan terus dilakukan para pembudidaya di seluruh tanah air. Salah satunya adalah dengan budidaya ikan melalui pemanfaatan lahan sawah atau lebih dikenal dengan istilah mina padi.

BACA JUGA : Keseluruhan Denda  ELTE Jawa Tengah Capai Rp 27 Miliar

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui mina padi, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi dihasilkan maupun hasil panen dari ikan.

Mina padi mulai dikembangkan di Indonesia sebagai salah satu sistem budidaya ikan pada tahun 1970-an. Di Toraja Utara, mina padi biasa dilakukan pembudidaya melalui dua cara, yaitu dengan sistem penyelang dan sistem tumpang sari.

“Sistem penyelang memproduksi ikan dengan ukuran kecil dan dipanen ketika umur ikan mencapai 20 harian, lalu dijadikan bibit.Sistem mina padi tumpang sari memproduksi ikan lebih besar masa pemeliharaan 3-4 bulan,” jelas Irvan Parewang, Penyuluh Perikanan Kabupaten Toraja Utara.

Para pembudidaya di Toraja Utara lebih banyak membesarkan ikan mas dengan cara tumpangsari. Metode ini dipandang lebih menguntungkan karena ikan yang dijual telah memasuki ukuran kosumsi sehingga harganya lebih tinggi.

Lebih lanjut, mengenai proses sistem tumpang sari diawali dengan penanaman padi di lahan berukuran 2.000 m2 hingga 1 hektare. Setelah akar padi sudah kuat atau memasuki usia minimal satu bulan, volume air ditambah dan ikan berukuran 7-15 cm sudah bisa ditebar.

“Untuk kepadatan tebarnya sendiri itu satu ekor ikan per meter persegi. Jadi kalau satu hektare, ikan yang ditebar bisa sampai 10.000 ekor yang ukurannya 7 cm. Hasilnya dari situ bisa mencapai 6 ton paling tinggi,” tambah Irvan.

Seiring meningkatnya kebutuhan akan konsumsi ikan mas, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) fokus menaikan angka produksi ikan ini melalui pengembangan kampung budidaya.

Kedepan diharapkan ikan mas dapat menjadi sektor utama penunjang perekonomian masyarakat, terlebih lagi didukung oleh Lembaga Pengelola Modal PePengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:LPMUKP For JawaPos.com

Sumber Berita:jawapos.com

 

TORAJA, RADARJEMBER.ID – Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas perikanan terus dilakukan para pembudidaya di seluruh tanah air. Salah satunya adalah dengan budidaya ikan melalui pemanfaatan lahan sawah atau lebih dikenal dengan istilah mina padi.

BACA JUGA : Keseluruhan Denda  ELTE Jawa Tengah Capai Rp 27 Miliar

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui mina padi, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi dihasilkan maupun hasil panen dari ikan.

Mina padi mulai dikembangkan di Indonesia sebagai salah satu sistem budidaya ikan pada tahun 1970-an. Di Toraja Utara, mina padi biasa dilakukan pembudidaya melalui dua cara, yaitu dengan sistem penyelang dan sistem tumpang sari.

“Sistem penyelang memproduksi ikan dengan ukuran kecil dan dipanen ketika umur ikan mencapai 20 harian, lalu dijadikan bibit.Sistem mina padi tumpang sari memproduksi ikan lebih besar masa pemeliharaan 3-4 bulan,” jelas Irvan Parewang, Penyuluh Perikanan Kabupaten Toraja Utara.

Para pembudidaya di Toraja Utara lebih banyak membesarkan ikan mas dengan cara tumpangsari. Metode ini dipandang lebih menguntungkan karena ikan yang dijual telah memasuki ukuran kosumsi sehingga harganya lebih tinggi.

Lebih lanjut, mengenai proses sistem tumpang sari diawali dengan penanaman padi di lahan berukuran 2.000 m2 hingga 1 hektare. Setelah akar padi sudah kuat atau memasuki usia minimal satu bulan, volume air ditambah dan ikan berukuran 7-15 cm sudah bisa ditebar.

“Untuk kepadatan tebarnya sendiri itu satu ekor ikan per meter persegi. Jadi kalau satu hektare, ikan yang ditebar bisa sampai 10.000 ekor yang ukurannya 7 cm. Hasilnya dari situ bisa mencapai 6 ton paling tinggi,” tambah Irvan.

Seiring meningkatnya kebutuhan akan konsumsi ikan mas, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) fokus menaikan angka produksi ikan ini melalui pengembangan kampung budidaya.

Kedepan diharapkan ikan mas dapat menjadi sektor utama penunjang perekonomian masyarakat, terlebih lagi didukung oleh Lembaga Pengelola Modal PePengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Editor:Winardyasto HariKirono

Foto:LPMUKP For JawaPos.com

Sumber Berita:jawapos.com

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/