alexametrics
24.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Kakek Pekak Budra Rela Jualan Keliling Demi Kesembuhan Cucu

Mobile_AP_Rectangle 1

TABANAN, RADARJEMBER – Ketika melewati traffic light di RSUD Tabanan, tepat sebelah Kantor Bupati Tabanan, Rabu (20/7) ada pemandangan sedikit berbeda. Di trotoar sisi utara traffic light, terlihat seorang kakek sedang memainkan seruling bambu untuk menghibur pengguna kendaraan yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Menjual seruling di traffic light RSUD Tabanan ini, diakui Pekak Budra adalah yang pertama kalinya. Karena sejak tiga hari lalu cucu paling kecilnya dirawat di RSUD Tabanan karena mengalami demam dan muntah-muntah. Sang Istri sedang menunggu cucu, dia jualan seruling dibawah terik matahari.

Kakek tiga cucu ini mengatakan sudah membuat seruling sejak tahun 1980-an lalu. “Membuat seruling ini pertama saya lakukan di tahun 1980-an, itu karena saya melihat banyak turis yang datang ke Tanah Lot, saya coba menawarkan seruling bambu ternyata turis ini suka, akhirnya saya buat dan saya jual,” papar Pekak.

Karena itu, akhirnya sejak tahun 1980-an, berjualan seruling dan lukisan pun dilakukannya di DTW Tanah Lot. Selama berjualan seruling ini, Pekak Budra mengaku sering mendapat pesanan seruling untuk cendramata dari wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot.Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, secara otomatis membuat tidak ada kunjungan wisatawan .

- Advertisement -

TABANAN, RADARJEMBER – Ketika melewati traffic light di RSUD Tabanan, tepat sebelah Kantor Bupati Tabanan, Rabu (20/7) ada pemandangan sedikit berbeda. Di trotoar sisi utara traffic light, terlihat seorang kakek sedang memainkan seruling bambu untuk menghibur pengguna kendaraan yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Menjual seruling di traffic light RSUD Tabanan ini, diakui Pekak Budra adalah yang pertama kalinya. Karena sejak tiga hari lalu cucu paling kecilnya dirawat di RSUD Tabanan karena mengalami demam dan muntah-muntah. Sang Istri sedang menunggu cucu, dia jualan seruling dibawah terik matahari.

Kakek tiga cucu ini mengatakan sudah membuat seruling sejak tahun 1980-an lalu. “Membuat seruling ini pertama saya lakukan di tahun 1980-an, itu karena saya melihat banyak turis yang datang ke Tanah Lot, saya coba menawarkan seruling bambu ternyata turis ini suka, akhirnya saya buat dan saya jual,” papar Pekak.

Karena itu, akhirnya sejak tahun 1980-an, berjualan seruling dan lukisan pun dilakukannya di DTW Tanah Lot. Selama berjualan seruling ini, Pekak Budra mengaku sering mendapat pesanan seruling untuk cendramata dari wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot.Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, secara otomatis membuat tidak ada kunjungan wisatawan .

TABANAN, RADARJEMBER – Ketika melewati traffic light di RSUD Tabanan, tepat sebelah Kantor Bupati Tabanan, Rabu (20/7) ada pemandangan sedikit berbeda. Di trotoar sisi utara traffic light, terlihat seorang kakek sedang memainkan seruling bambu untuk menghibur pengguna kendaraan yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Menjual seruling di traffic light RSUD Tabanan ini, diakui Pekak Budra adalah yang pertama kalinya. Karena sejak tiga hari lalu cucu paling kecilnya dirawat di RSUD Tabanan karena mengalami demam dan muntah-muntah. Sang Istri sedang menunggu cucu, dia jualan seruling dibawah terik matahari.

Kakek tiga cucu ini mengatakan sudah membuat seruling sejak tahun 1980-an lalu. “Membuat seruling ini pertama saya lakukan di tahun 1980-an, itu karena saya melihat banyak turis yang datang ke Tanah Lot, saya coba menawarkan seruling bambu ternyata turis ini suka, akhirnya saya buat dan saya jual,” papar Pekak.

Karena itu, akhirnya sejak tahun 1980-an, berjualan seruling dan lukisan pun dilakukannya di DTW Tanah Lot. Selama berjualan seruling ini, Pekak Budra mengaku sering mendapat pesanan seruling untuk cendramata dari wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot.Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda, secara otomatis membuat tidak ada kunjungan wisatawan .

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/