alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

“Fandom” Dorong Kreativitas yang Digemari

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Riset dari Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) melalui studi “Into the Fandom – How Tribes of Fans will be the Next Power in Society?” menyimpulkan bahwa kehadiran komunitas penggemar (fandom) mampu menggugah rasa kebersamaan antara anggota hingga memberikan dorongan kreativitas kepada subjek/objek yang digemari.

BACA JUGA : Kisah Ihza Muhammad, Atlet Sepeda Lumajang di SEA Games Vietnam

Devi Attamimi, Institute Director HILL ASEAN dan Executive Director Strategy Hakuhodo International Indonesia dalam pemaparannya, dikutip pada Jumat, mengatakan kehadiran fandom di Asia Tenggara (ASEAN) bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan kondisi pandemi yang ternyata mendorong jumlah orang yang mengikuti komunitas fandom meningkat secara signifikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Ini karena masyarakat menjadi lebih punya banyak waktu di rumah dan mencari cara yang paling memungkinkan untuk mengakses hal yang mereka sukai dan memenuhi afirmasi diri,” katanya.

“Di sisi lain, antusiasme terhadap fandom juga mengingatkan tentang berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang telah mengakar di ASEAN dan sulit atau tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat umum,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Devi mengatakan komunitas fandom di ASEAN merupakan bentuk “masyarakat ideal” (utopia) di mana semua anggota sama sejajar – tidak ada hirarki, berkomunikasi dengan bebas, tidak memandang usia, jenis kelamin, kebangsaan, atau status ekonomi dan sosial.

Selain kesetaraan, komunitas fandom ASEAN memiliki kreativitas – bekerja sama untuk merencanakan sesuatu untuk bersenang-senang bersama; sebagai keluarga kedua – saling percaya dan dapat membantu satu sama lain; dan memiliki kekuatan kelompok – memanfaatkan kekuatan bersama untuk memberikan pengaruh terhadap kepentingan fandom dan masyarakat, merasakan sensasi nyata membuat perbedaan di dunia.

“Dapat dikatakan, keragaman dan kesetaraan sungguh diwujudkan dalam komunitas ini sehingga terbentuk hubungan dan solidaritas yang murni tanpa untung atau rugi. HILL ASEAN menyebut fandom ini sebagai ‘MATTER-VERSE’ – sebuah komunitas ideal yang merespon kebutuhan penting masyarakat yang sulit dicapai di dunia nyata,” jelasnya.

Bagi masyarakat ASEAN, bergabung dalam fandom merupakan salah satu bentuk dalam memenuhi kebutuhan untuk memiliki hubungan/bersosialisasi dengan orang lain. Mereka secara aktif berinteraksi dan berbagi informasi di antara sesama anggota komunitas.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Riset dari Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) melalui studi “Into the Fandom – How Tribes of Fans will be the Next Power in Society?” menyimpulkan bahwa kehadiran komunitas penggemar (fandom) mampu menggugah rasa kebersamaan antara anggota hingga memberikan dorongan kreativitas kepada subjek/objek yang digemari.

BACA JUGA : Kisah Ihza Muhammad, Atlet Sepeda Lumajang di SEA Games Vietnam

Devi Attamimi, Institute Director HILL ASEAN dan Executive Director Strategy Hakuhodo International Indonesia dalam pemaparannya, dikutip pada Jumat, mengatakan kehadiran fandom di Asia Tenggara (ASEAN) bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan kondisi pandemi yang ternyata mendorong jumlah orang yang mengikuti komunitas fandom meningkat secara signifikan.

“Ini karena masyarakat menjadi lebih punya banyak waktu di rumah dan mencari cara yang paling memungkinkan untuk mengakses hal yang mereka sukai dan memenuhi afirmasi diri,” katanya.

“Di sisi lain, antusiasme terhadap fandom juga mengingatkan tentang berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang telah mengakar di ASEAN dan sulit atau tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat umum,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Devi mengatakan komunitas fandom di ASEAN merupakan bentuk “masyarakat ideal” (utopia) di mana semua anggota sama sejajar – tidak ada hirarki, berkomunikasi dengan bebas, tidak memandang usia, jenis kelamin, kebangsaan, atau status ekonomi dan sosial.

Selain kesetaraan, komunitas fandom ASEAN memiliki kreativitas – bekerja sama untuk merencanakan sesuatu untuk bersenang-senang bersama; sebagai keluarga kedua – saling percaya dan dapat membantu satu sama lain; dan memiliki kekuatan kelompok – memanfaatkan kekuatan bersama untuk memberikan pengaruh terhadap kepentingan fandom dan masyarakat, merasakan sensasi nyata membuat perbedaan di dunia.

“Dapat dikatakan, keragaman dan kesetaraan sungguh diwujudkan dalam komunitas ini sehingga terbentuk hubungan dan solidaritas yang murni tanpa untung atau rugi. HILL ASEAN menyebut fandom ini sebagai ‘MATTER-VERSE’ – sebuah komunitas ideal yang merespon kebutuhan penting masyarakat yang sulit dicapai di dunia nyata,” jelasnya.

Bagi masyarakat ASEAN, bergabung dalam fandom merupakan salah satu bentuk dalam memenuhi kebutuhan untuk memiliki hubungan/bersosialisasi dengan orang lain. Mereka secara aktif berinteraksi dan berbagi informasi di antara sesama anggota komunitas.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID  – Riset dari Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN) melalui studi “Into the Fandom – How Tribes of Fans will be the Next Power in Society?” menyimpulkan bahwa kehadiran komunitas penggemar (fandom) mampu menggugah rasa kebersamaan antara anggota hingga memberikan dorongan kreativitas kepada subjek/objek yang digemari.

BACA JUGA : Kisah Ihza Muhammad, Atlet Sepeda Lumajang di SEA Games Vietnam

Devi Attamimi, Institute Director HILL ASEAN dan Executive Director Strategy Hakuhodo International Indonesia dalam pemaparannya, dikutip pada Jumat, mengatakan kehadiran fandom di Asia Tenggara (ASEAN) bukanlah hal yang baru. Apalagi dengan kondisi pandemi yang ternyata mendorong jumlah orang yang mengikuti komunitas fandom meningkat secara signifikan.

“Ini karena masyarakat menjadi lebih punya banyak waktu di rumah dan mencari cara yang paling memungkinkan untuk mengakses hal yang mereka sukai dan memenuhi afirmasi diri,” katanya.

“Di sisi lain, antusiasme terhadap fandom juga mengingatkan tentang berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang telah mengakar di ASEAN dan sulit atau tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat umum,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Devi mengatakan komunitas fandom di ASEAN merupakan bentuk “masyarakat ideal” (utopia) di mana semua anggota sama sejajar – tidak ada hirarki, berkomunikasi dengan bebas, tidak memandang usia, jenis kelamin, kebangsaan, atau status ekonomi dan sosial.

Selain kesetaraan, komunitas fandom ASEAN memiliki kreativitas – bekerja sama untuk merencanakan sesuatu untuk bersenang-senang bersama; sebagai keluarga kedua – saling percaya dan dapat membantu satu sama lain; dan memiliki kekuatan kelompok – memanfaatkan kekuatan bersama untuk memberikan pengaruh terhadap kepentingan fandom dan masyarakat, merasakan sensasi nyata membuat perbedaan di dunia.

“Dapat dikatakan, keragaman dan kesetaraan sungguh diwujudkan dalam komunitas ini sehingga terbentuk hubungan dan solidaritas yang murni tanpa untung atau rugi. HILL ASEAN menyebut fandom ini sebagai ‘MATTER-VERSE’ – sebuah komunitas ideal yang merespon kebutuhan penting masyarakat yang sulit dicapai di dunia nyata,” jelasnya.

Bagi masyarakat ASEAN, bergabung dalam fandom merupakan salah satu bentuk dalam memenuhi kebutuhan untuk memiliki hubungan/bersosialisasi dengan orang lain. Mereka secara aktif berinteraksi dan berbagi informasi di antara sesama anggota komunitas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/