alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Ngelawak! Dirjen Kemendag Jadi Tersangka Kasus Korupsi Minyak Goreng

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kejaksaan Agung telah menetapkan tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi ekspor minyak sawit mentah (CPO). Hal ini lantas mengundang perhatian ekonom senior Faisal Basri. Pasalnya, salah satu tersangka berasal dari lingkungan pemerintahan. Bahkan jabatannya adalah eselon I atau Direktur Jenderal di Kementerian Perdagangan (Kemendag) berinisial IWW. IWW menjadi tersangka bersama tiga orang lainnya yang merupakan pihak swasta.

Pihak swasta tersebut diduga produsen Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affairs PT Permata Hijau Group, Togar Sitanggang General Manager PT Musim Mas dan Komisaris Wilmar Nabati Indonesia Parlindungan Tumanggor. Dikutip laman web resmi masing-masing, Wilmar Group merupakan produsen minyak goreng dengan berbagai merek diantaranya, Sania, Siip, Sovia, Mahkota, Oleis, Bukit Zaitun, Goldie, Fortune, dan Camilla. Sementara, PT Permata Hijau Group memproduksi minyak goreng dengan merek Permata, Parveen, Palmata, dan Panina.

Ekonom senior Faisal Basri pun turut berkomentar tentang hal ini, dilansir dari akun twitter pribadi Faisal Basri “ ini namanya maling teriak maling, ” tulis Faisal Basri. 

Mobile_AP_Rectangle 2

Faisal sendiri juga merupakan salah satu pihak yang vokal dengan fenomena kelangkaan minyak goreng. Pada awal April lalu, dia sempat menyebut kisruh kelangkaan dan mahalnya minyak goreng merupakan ulah pemerintah. Hal ini terjadi karena pembuat kebijakan menerapkan dua harga minyak sawit mentah. Dua harga itu tercipta karena pemerintah mengenakan tarif pajak ke eksportir yang menjual CPO ke luar negeri. Selain itu juga pemerintah tidak mengenakan pajak jika eksportir menjual CPO ke pabrik biodiesel.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kejaksaan Agung telah menetapkan tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi ekspor minyak sawit mentah (CPO). Hal ini lantas mengundang perhatian ekonom senior Faisal Basri. Pasalnya, salah satu tersangka berasal dari lingkungan pemerintahan. Bahkan jabatannya adalah eselon I atau Direktur Jenderal di Kementerian Perdagangan (Kemendag) berinisial IWW. IWW menjadi tersangka bersama tiga orang lainnya yang merupakan pihak swasta.

Pihak swasta tersebut diduga produsen Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affairs PT Permata Hijau Group, Togar Sitanggang General Manager PT Musim Mas dan Komisaris Wilmar Nabati Indonesia Parlindungan Tumanggor. Dikutip laman web resmi masing-masing, Wilmar Group merupakan produsen minyak goreng dengan berbagai merek diantaranya, Sania, Siip, Sovia, Mahkota, Oleis, Bukit Zaitun, Goldie, Fortune, dan Camilla. Sementara, PT Permata Hijau Group memproduksi minyak goreng dengan merek Permata, Parveen, Palmata, dan Panina.

Ekonom senior Faisal Basri pun turut berkomentar tentang hal ini, dilansir dari akun twitter pribadi Faisal Basri “ ini namanya maling teriak maling, ” tulis Faisal Basri. 

Faisal sendiri juga merupakan salah satu pihak yang vokal dengan fenomena kelangkaan minyak goreng. Pada awal April lalu, dia sempat menyebut kisruh kelangkaan dan mahalnya minyak goreng merupakan ulah pemerintah. Hal ini terjadi karena pembuat kebijakan menerapkan dua harga minyak sawit mentah. Dua harga itu tercipta karena pemerintah mengenakan tarif pajak ke eksportir yang menjual CPO ke luar negeri. Selain itu juga pemerintah tidak mengenakan pajak jika eksportir menjual CPO ke pabrik biodiesel.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID- Kejaksaan Agung telah menetapkan tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi ekspor minyak sawit mentah (CPO). Hal ini lantas mengundang perhatian ekonom senior Faisal Basri. Pasalnya, salah satu tersangka berasal dari lingkungan pemerintahan. Bahkan jabatannya adalah eselon I atau Direktur Jenderal di Kementerian Perdagangan (Kemendag) berinisial IWW. IWW menjadi tersangka bersama tiga orang lainnya yang merupakan pihak swasta.

Pihak swasta tersebut diduga produsen Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affairs PT Permata Hijau Group, Togar Sitanggang General Manager PT Musim Mas dan Komisaris Wilmar Nabati Indonesia Parlindungan Tumanggor. Dikutip laman web resmi masing-masing, Wilmar Group merupakan produsen minyak goreng dengan berbagai merek diantaranya, Sania, Siip, Sovia, Mahkota, Oleis, Bukit Zaitun, Goldie, Fortune, dan Camilla. Sementara, PT Permata Hijau Group memproduksi minyak goreng dengan merek Permata, Parveen, Palmata, dan Panina.

Ekonom senior Faisal Basri pun turut berkomentar tentang hal ini, dilansir dari akun twitter pribadi Faisal Basri “ ini namanya maling teriak maling, ” tulis Faisal Basri. 

Faisal sendiri juga merupakan salah satu pihak yang vokal dengan fenomena kelangkaan minyak goreng. Pada awal April lalu, dia sempat menyebut kisruh kelangkaan dan mahalnya minyak goreng merupakan ulah pemerintah. Hal ini terjadi karena pembuat kebijakan menerapkan dua harga minyak sawit mentah. Dua harga itu tercipta karena pemerintah mengenakan tarif pajak ke eksportir yang menjual CPO ke luar negeri. Selain itu juga pemerintah tidak mengenakan pajak jika eksportir menjual CPO ke pabrik biodiesel.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/