alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Rekaman CCTV di RS Polri Kramat Jati Ditengarai Raib

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tirai penutup kasus kematian Brigadir Polisi Nofiansyah Yoshua Hutabarat (Brigpol) J perlahan mulai tersingkap. Soal rekaman CCTV bisa menjadi kunci mengungkapkan kasus tersebut. Ternyata, bukan hanya rekaman CCTV di sekitar rumah Kadivpropam Polri Irjen Ferdy Sambo yang hilang.

BACA JUGA : Pedagang Tahu Kocek Terpaksa Pakai Cabai Hijau

Rekaman CCTV di RS Bhayangkara Tk 1 R. Said Sukanto (RS Polri) pun ditengarai raib.Jawa Pos kemarin mendatangi RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. RS itu disebut menjadi lokasi pengurusan jasad Yosua pascainsiden di rumah Kadivpropam Jumat (8/7) lalu. ”Kebanyakan baru tahu (kalau dibawa ke RS Polri) setelah viral hari Senin (11/7) itu,” kata seorang petugas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Petugas yang tidak ingin disebut namanya itu tidak tahu persis kapan jasad Yosua tiba di RS Polri. Sebab, pada saat itu dia sedang libur. ”Setahu saya nggak banyak yang tahu. Ketika ramai, baru pada tahu kalau jenazah sempat dibawa ke sini (RS Polri, Red),” ungkapnya.Dia melanjutkan, kemarin pagi ada rombongan anggota polisi datang ke RS Polri itu.

Mereka menggunakan ambulans. Meminta petugas menghapus rekaman CCTV, khususnya yang mengarah ke jalur masuk kendaraan. ”CCTV di tempat parkir juga diminta dihapus,” tuturnya.Dia tidak tahu persis alasan penghapusan memori CCTV tersebut. Namun, dia menduga ada kaitannya dengan peristiwa tewasnya Yosua

Sebagaimana diberitakan, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyebut Yosua tewas akibat baku tembak dengan Bharada E di rumah Kadivpropam Irjen Ferdy Sambo Jumat (8/7) lalu. Baku tembak dipicu ulah Yosua yang melecehkan dan menodong Putri Ferdy Sambo, istri Kadivpropam, dengan senjata api.

Namun, narasi tersebut dituding janggal. Pihak keluarga Yosua menyatakan bahwa Yosua sempat disiksa sebelum ditembak mati. Dugaan tersebut kemarin ditegaskan lagi oleh Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Yosua.Dia memaparkan fakta-fakta untuk mendukung dugaan tersebut.

Fakta itu mengacu pada foto jenazah sebelum dimakamkan. Kamaruddin menyebut, sejumlah ponsel keluarga Yosua sempat diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun, beruntung foto-foto tersebut bisa diselamatkan. ”Foto-foto itu ada backup-nya,” kata Kamaruddin saat dihubungi Jawa Pos kemarin (17/7).

Dari foto-foto itu, lanjut Kamaruddin, dapat dilihat bahwa selain bekas luka tembak, ada beberapa luka yang diduga bekas pukulan dan robekan akibat benda tajam. Di antaranya terdapat di tangan, kaki, belakang telinga, dan dagu sampai leher. ”Lubang telinganya bengkak, sampai rahangnya itu berpindah,” ujar advokat asal Medan tersebut.

Ada pula luka memar di bagian bahu dekat tulang selangka. Sekilas, bagian tubuh itu tampak rusak. Kerusakan parah yang diduga akibat penyiksaan juga terlihat di bagian jari-jari tangan. ”Pertanyaannya, itu luka setelah ditembak atau sebelum ditembak?” kata pengacara yang ditunjuk sebagai kuasa hukum keluarga Yosua tersebut.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tirai penutup kasus kematian Brigadir Polisi Nofiansyah Yoshua Hutabarat (Brigpol) J perlahan mulai tersingkap. Soal rekaman CCTV bisa menjadi kunci mengungkapkan kasus tersebut. Ternyata, bukan hanya rekaman CCTV di sekitar rumah Kadivpropam Polri Irjen Ferdy Sambo yang hilang.

BACA JUGA : Pedagang Tahu Kocek Terpaksa Pakai Cabai Hijau

Rekaman CCTV di RS Bhayangkara Tk 1 R. Said Sukanto (RS Polri) pun ditengarai raib.Jawa Pos kemarin mendatangi RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. RS itu disebut menjadi lokasi pengurusan jasad Yosua pascainsiden di rumah Kadivpropam Jumat (8/7) lalu. ”Kebanyakan baru tahu (kalau dibawa ke RS Polri) setelah viral hari Senin (11/7) itu,” kata seorang petugas.

Petugas yang tidak ingin disebut namanya itu tidak tahu persis kapan jasad Yosua tiba di RS Polri. Sebab, pada saat itu dia sedang libur. ”Setahu saya nggak banyak yang tahu. Ketika ramai, baru pada tahu kalau jenazah sempat dibawa ke sini (RS Polri, Red),” ungkapnya.Dia melanjutkan, kemarin pagi ada rombongan anggota polisi datang ke RS Polri itu.

Mereka menggunakan ambulans. Meminta petugas menghapus rekaman CCTV, khususnya yang mengarah ke jalur masuk kendaraan. ”CCTV di tempat parkir juga diminta dihapus,” tuturnya.Dia tidak tahu persis alasan penghapusan memori CCTV tersebut. Namun, dia menduga ada kaitannya dengan peristiwa tewasnya Yosua

Sebagaimana diberitakan, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyebut Yosua tewas akibat baku tembak dengan Bharada E di rumah Kadivpropam Irjen Ferdy Sambo Jumat (8/7) lalu. Baku tembak dipicu ulah Yosua yang melecehkan dan menodong Putri Ferdy Sambo, istri Kadivpropam, dengan senjata api.

Namun, narasi tersebut dituding janggal. Pihak keluarga Yosua menyatakan bahwa Yosua sempat disiksa sebelum ditembak mati. Dugaan tersebut kemarin ditegaskan lagi oleh Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Yosua.Dia memaparkan fakta-fakta untuk mendukung dugaan tersebut.

Fakta itu mengacu pada foto jenazah sebelum dimakamkan. Kamaruddin menyebut, sejumlah ponsel keluarga Yosua sempat diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun, beruntung foto-foto tersebut bisa diselamatkan. ”Foto-foto itu ada backup-nya,” kata Kamaruddin saat dihubungi Jawa Pos kemarin (17/7).

Dari foto-foto itu, lanjut Kamaruddin, dapat dilihat bahwa selain bekas luka tembak, ada beberapa luka yang diduga bekas pukulan dan robekan akibat benda tajam. Di antaranya terdapat di tangan, kaki, belakang telinga, dan dagu sampai leher. ”Lubang telinganya bengkak, sampai rahangnya itu berpindah,” ujar advokat asal Medan tersebut.

Ada pula luka memar di bagian bahu dekat tulang selangka. Sekilas, bagian tubuh itu tampak rusak. Kerusakan parah yang diduga akibat penyiksaan juga terlihat di bagian jari-jari tangan. ”Pertanyaannya, itu luka setelah ditembak atau sebelum ditembak?” kata pengacara yang ditunjuk sebagai kuasa hukum keluarga Yosua tersebut.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Tirai penutup kasus kematian Brigadir Polisi Nofiansyah Yoshua Hutabarat (Brigpol) J perlahan mulai tersingkap. Soal rekaman CCTV bisa menjadi kunci mengungkapkan kasus tersebut. Ternyata, bukan hanya rekaman CCTV di sekitar rumah Kadivpropam Polri Irjen Ferdy Sambo yang hilang.

BACA JUGA : Pedagang Tahu Kocek Terpaksa Pakai Cabai Hijau

Rekaman CCTV di RS Bhayangkara Tk 1 R. Said Sukanto (RS Polri) pun ditengarai raib.Jawa Pos kemarin mendatangi RS Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur. RS itu disebut menjadi lokasi pengurusan jasad Yosua pascainsiden di rumah Kadivpropam Jumat (8/7) lalu. ”Kebanyakan baru tahu (kalau dibawa ke RS Polri) setelah viral hari Senin (11/7) itu,” kata seorang petugas.

Petugas yang tidak ingin disebut namanya itu tidak tahu persis kapan jasad Yosua tiba di RS Polri. Sebab, pada saat itu dia sedang libur. ”Setahu saya nggak banyak yang tahu. Ketika ramai, baru pada tahu kalau jenazah sempat dibawa ke sini (RS Polri, Red),” ungkapnya.Dia melanjutkan, kemarin pagi ada rombongan anggota polisi datang ke RS Polri itu.

Mereka menggunakan ambulans. Meminta petugas menghapus rekaman CCTV, khususnya yang mengarah ke jalur masuk kendaraan. ”CCTV di tempat parkir juga diminta dihapus,” tuturnya.Dia tidak tahu persis alasan penghapusan memori CCTV tersebut. Namun, dia menduga ada kaitannya dengan peristiwa tewasnya Yosua

Sebagaimana diberitakan, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan menyebut Yosua tewas akibat baku tembak dengan Bharada E di rumah Kadivpropam Irjen Ferdy Sambo Jumat (8/7) lalu. Baku tembak dipicu ulah Yosua yang melecehkan dan menodong Putri Ferdy Sambo, istri Kadivpropam, dengan senjata api.

Namun, narasi tersebut dituding janggal. Pihak keluarga Yosua menyatakan bahwa Yosua sempat disiksa sebelum ditembak mati. Dugaan tersebut kemarin ditegaskan lagi oleh Kamaruddin Simanjuntak, pengacara keluarga Yosua.Dia memaparkan fakta-fakta untuk mendukung dugaan tersebut.

Fakta itu mengacu pada foto jenazah sebelum dimakamkan. Kamaruddin menyebut, sejumlah ponsel keluarga Yosua sempat diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun, beruntung foto-foto tersebut bisa diselamatkan. ”Foto-foto itu ada backup-nya,” kata Kamaruddin saat dihubungi Jawa Pos kemarin (17/7).

Dari foto-foto itu, lanjut Kamaruddin, dapat dilihat bahwa selain bekas luka tembak, ada beberapa luka yang diduga bekas pukulan dan robekan akibat benda tajam. Di antaranya terdapat di tangan, kaki, belakang telinga, dan dagu sampai leher. ”Lubang telinganya bengkak, sampai rahangnya itu berpindah,” ujar advokat asal Medan tersebut.

Ada pula luka memar di bagian bahu dekat tulang selangka. Sekilas, bagian tubuh itu tampak rusak. Kerusakan parah yang diduga akibat penyiksaan juga terlihat di bagian jari-jari tangan. ”Pertanyaannya, itu luka setelah ditembak atau sebelum ditembak?” kata pengacara yang ditunjuk sebagai kuasa hukum keluarga Yosua tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/