Praktek prostitusi berkedok griya pijat kembali marak di Jakarta Selatan (Istimewa)

JawaPos.com – Upaya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam menertibkan praktik prostitusi di Jakarta dianggap sepele oleh para pengusaha tempat hiburan malam. Terbukti, baru setahun ditutup, beberapa tempat pijat di sekitaran Gandaria kembali buka. Praktek prostitusi terselubung itu hanya berganti nama saja untuk mengelabui aparat.

IKLAN

Seperti terlihat di sebuah ruko yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda, atau tepatnya seberang Mall Gandaria City, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dahulu ruko bernama Gives dan sudah ditutup aparat Satpol PP DKI Jakarta. Namun, saat ini sudah berganti nama yaitu Mr B.

Untuk masuk ke Mr B, pengunjung ditawarkan sejumlah paket layanan pijat dengan sistem deposit, antara lain pijat minimal 30 menit seharga Rp 285 ribu hingga pijat minimal 60 menit seharga Rp 380 ribu. Usai pengunjung memilih dan membayar paket yang dipilih, pelayan kemudian memberikan kartu berisi saldo sesuai dengan deposit yang dibayarkan.

Selain pijet plus-plus, di sana juga terdapat live music untuk para tamu menunggu. Beberapa minuman beralkohol pun dijual disana. Para pelayan pun menawarkan beberapa terapis dan minuman beralkohol yang dijajakan disana.

Usai memilih seorang terapis, sang terpilih kemudian mengambil handuk yang sudah tertata di pojok tempat duduk mereka. Sang terapis kemudian meminta kartu deposit dan mengarahkan untuk naik ke kamar yang terletak di lantai atas. Terlihat belasan kamar berpintu rapat. Usai mempersiapkan diri, terapis kemudian mengunci rapat untuk memberikan pelayanan.

“Saya sudah dua tahun kerja di sini, sama aja, dulu namanya Gives sekarang Mr B, yang kerja (terapis) juga sama,” ungkap salah seorang terapis yang kerap disebut Mawar.

Dirinya menyebut layanan pijat plus plus yang diberikan merupakan komitmen perusahaan, bukan keinginan para terapis. Sehingga, seluruh terapis diwajibkan untuk melayani para tamu, termasuk berhubungan intim pada akhir sesi pijat. “Kalau nggak (berhubungan intim), bisa dipecat. Kita juga nggak boleh ambil tips, karena setengah dari deposit masuk ke kita,” tutur perempuan berusia 20 tahun itu.

Pijat Plus-plus Tertutup

Praktik prostitusi terselubung juga terjadi di layanan pijat plus plus di Griya Pijat RV, Jalan Sultan Iskandar Muda, persisnya sebelum Mall Gandaria City. Namun, lokasinya sangat tertutup sekali. Untuk layanan pijat plus-plus berdurasi 60 menit dipatok harga Rp 620 ribu. Sedangkan pijat biasa tarifnya yaitu Rp 300 ribu. Sedangkan untuk menikmati fasilitas sauna yaitu Rp 100 ribu.

Para pengunjung yang datang diberikan kunci loker untuk berganti pakaian di ruang uap yang berada di lantai dasar. Dalam ruangan tersebut, terdapat sebuah kamar sauna serta dua buah kolam berendam dangkal yang terdiri dari air hangat dan dingin.

Usai merelaksasi tubuh di ruang uap, pengunjung dapat menaiki lantai dua yang berupa sebuah bar. Dalam ruangan tersebut, seorang pegawai mendatangi setiap tamu yang datang dengan manja. Perempuan berparas cantik itu menawarkan pijat andalan, termasuk layanan plus plus yang diberikan oleh puluhan terapis yang diasuhnya.

Usai memilih seorang terapis, pengunjung diarahkan menuju kamar yang berada di lantai tiga. Serupa dengan Mr B, ruang pijat berupa kamar berpintu yang dapat dikunci rapat, begitu juga dengan layanan pijat serta hubungan intim yang wajib diberikan kepada para tamu yang datang.

Satpol PP Akan Menindak

Dihubungi terpisah Kasatpol PP Jakarta Selatan Ujang Hermawan mengaku baru mengetahui bahwa praktik prostitusi kembali menjamur di wilayahnya. Oleh sebab itu, dia mengaku akan menindaknya. Menurutnya, memang di daerah Gandaria City rawan usaha seperti itu.

“Iya nanti kordinasi sama PTSP. Tindakannya, nanti lihat saja. Saya lapor pimpinan dulu, Wali Kota dan Kasatpol PP DKI Jakarta. Iya nanti bakal ditindak,” tutur Ujang.

Ujang tidak menampik banyak praktek prostitusi berkedok pijat plus-plus di Gandaria. Seperti Mr B, NV, G2, RV yang berada di sekitaran Gandaria City. “Jadi nanti kita lihat dulu rekomendasi dari Dinas Pariwisata, kalau memang terbukti melanggar, nanti akan tindak dan dicabut izinnya di PTSP,” ungkap dia.

Membantah Praktik Prostitusi

Sementara itu, salah seorang pengelola Mr B, Anton membantah kalau usahanya ada praktik prostitusi. Menurutnya, usahanya hanya sebatas live music saja. “Enggak ada massage, itu perempuan yang duduk disitu LC. Jadi hanya untuk menemani tamu minum di bar,” bantah Anton.

Dia mengatakan usaha seperti Mr B banyak di sekitaran Gandaria. Sehingga, dia mengaku sudah mengurus izin untuk usahanya tersebut.”Sudah  ada izinnya. Kalau yang dulu (Gives) beda pengelola dengan sekarang,” pungkas Anton.

 

Editor : Bintang Pradewo