DARI PENGUASA JADI TERSANGKA: Totok Santoso dan Fanny Aminadia di Ditreskrimum Polda Jateng, Semarang, kemarin. (ADITYO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

JawaPos.com – ”Raja” dan ”ratu” itu lebih sering menundukkan kepala. Sesekali sang ratu mengusap air mata sembari menengok ke arah sang raja. Di halaman Ditreskrimum Polda Jateng, Semarang, kemarin (15/1), Totok Santoso dan Fanny Aminadia tidak hanya kehilangan ”kekuasaan”.

Tapi sekaligus berstatus tersangka tindak penipuan.

”Tentunya, dengan adanya kejadian ini, saya minta kepada seluruh masyarakat menjadi jelas tentang apa yang terjadi di Jateng. Pihak kepolisian sudah melakukan tindakan cepat dan tegas untuk menangani fenomena ini supaya tidak bertambah jumlah korban,” tutur Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel dalam rilis kemarin seperti dilansir Jawa Pos Radar Semarang.

Ya, Totok adalah Totok Santosa Hadiningrat, raja Keraton Agung Sejagat (KAS) yang ”diproklamasikan” di Desa Pogungjurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jateng, pada Minggu (12/1). Sedangkan Fanny mengaku sebagai ratu atau permaisuri dengan nama Dyah Gitarja.

Keduanya ditangkap paksa oleh Ditreskrimum Polda Jateng di daerah Kulonprogo, Jogjakarta, Selasa (14/1). Selanjutnya, keduanya digelandang ke Mapolda Jateng untuk dilakukan pemeriksaan.

Di akun Facebook pribadinya, Fanny tertulis bekerja sebagai penulis skenario, script writer, dan tim kreatif di beberapa rumah produksi. Status terakhirnya tercatat pada 18 November 2018 yang terkait dengan diskon belanja di salah satu lokapasar (marketplace).

Di ”pusat kerajaan” di Desa Pogungjurutengah, Purworejo, garis polisi terpasang mengelilingi KAS. Dan bangunan itu ternyata bukan punya Totok atau Fanny. Melainkan milik Chikmawan yang merupakan mantan pegawai negeri sipil (PNS) Kabupaten Purworejo. Informasi yang didapatkan Jawa Pos, Chikmawan merupakan tangan kanan Totok. Dia pun dianugerahi gelar Resi Joyodiningrat. Tugasnya menjadi penasihat kerajaan.

Dari polisi yang berjaga di lokasi, Hikmawan, sapaan akrab Chikmawan, kabarnya ikut diamankan polisi. Warga sekitar juga tak asing dengan dia. Sebab, dia pernah menjabat sekretaris Desa (Sekdes) Pogungjurutengah. ”Dulu mantan PNS juga,” ujar Kepala Desa (Kades) Pogungjurutengah Slamet Purwadi kepada Jawa Pos.

Kata Slamet, setelah menjabat Sekdes, Hikmawan diangkat sebagai PNS. Karena itu, dia mengundurkan diri dari Sekdes. Dia kemudian ditempatkan di salah satu dinas Pemkab Purworejo. Entah tepatnya kapan, selanjutnya dia memilih keluar dari PNS. Slamet memprediksi keputusan itu tak lain diambil karena bergabung dengan Totok yang dulu pernah mendirikan Jogjakarta Development Committee.

Tetangga Hikmawan, Mariyati, menjelaskan bahwa bangunan KAS terdiri atas dua bagian: ruang sidang Gedung Sri Ratu Indratayana dan padepokan keraton. Di ruang sidang ada air conditioner, tempat duduk, serta tongkat raja beserta permaisuri.

Dalam rilis di Semarang, Rycko menyebutkan, Totok dan Fanny mengaku memperoleh wangsit beberapa bulan lalu dari para leluhur dan diminta segera mendirikan kerajaan. Dengan pusatnya di Kecamatan Bayan. ”Atas dasar wangsit tersebut kemudian melengkapi beberapa kartu yang berasal dari PBB, tapi palsu,” jelasnya.

Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Totok Santosa (kanan)- Dyah Gitarja (kiri). (BUDI AGUNG/JAWA POS RADAR JOGJA)

Masyarakat yang menjadi korban dalam fenomena itu mencapai ratusan orang dan sudah nyaris menjadi pengikut. Mereka juga diwajibkan memberikan iuran hingga puluhan juta rupiah.

Berbekal keyakinan dan hasutan tersebut, Totok menyebarkan sebuah paham yang diduga menyesatkan. Yakni, mereka yang ikut dengan kerajaan itu akan terbebas dari malapetaka. Juga kehidupan mereka akan berubah menjadi lebih baik.