alexametrics
21.9 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Tiga Ancaman Global, Ciptakan Dampak Nyata terhadap Utang

Mobile_AP_Rectangle 1

BADUNG, BALI, RADARJEMBER.ID  – Sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah sudah berada dalam atau dekat dengan kesulitan utang, sementara selusin negara berkembang mungkin tidak dapat memenuhi pembayaran utang selama tahun depan. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada Pembukaan Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (3rd FMCBG) G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali.

BACA JUGA : Gen Z Harus Miliki Ketahanan Ideologi Tak Terpapar Radikalisme

“Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa, ini menjadi meluas,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sri Mulyani menekankan hal tersebut menjadi isu yang perlu menjadi perhatian Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20, bersama organisasi internasional dan lembaga multilateral.

Tiga ancaman global, yakni perang, lonjakan/harga komoditas, dan peningkatan inflasi global meningkatkan dan menciptakan dampak nyata terhadap utang, tak hanya untuk negara-negara berpenghasilan rendah tetapi juga di negara-negara berpenghasilan menengah atau bahkan ekonomi maju.

Dia menjelaskan sebelum pandemi dan saat pandemi, ruang fiskal telah digunakan berbagai negara yang berimplikasi pada peningkatan posisi utang. Dengan tiga ancaman tersebut, situasi akan menjadi sangat kompleks untuk dikelola.

Tantangan signifikan ini berada di atas masalah global yang belum terpecahkan seperti yang dibahas oleh semua negara dalam dua tahun terakhir, yaitu pandemi, perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi iklim, dan keberlanjutan utang yang ada di banyak negara berpenghasilan rendah.

- Advertisement -

BADUNG, BALI, RADARJEMBER.ID  – Sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah sudah berada dalam atau dekat dengan kesulitan utang, sementara selusin negara berkembang mungkin tidak dapat memenuhi pembayaran utang selama tahun depan. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada Pembukaan Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (3rd FMCBG) G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali.

BACA JUGA : Gen Z Harus Miliki Ketahanan Ideologi Tak Terpapar Radikalisme

“Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa, ini menjadi meluas,” katanya.

Sri Mulyani menekankan hal tersebut menjadi isu yang perlu menjadi perhatian Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20, bersama organisasi internasional dan lembaga multilateral.

Tiga ancaman global, yakni perang, lonjakan/harga komoditas, dan peningkatan inflasi global meningkatkan dan menciptakan dampak nyata terhadap utang, tak hanya untuk negara-negara berpenghasilan rendah tetapi juga di negara-negara berpenghasilan menengah atau bahkan ekonomi maju.

Dia menjelaskan sebelum pandemi dan saat pandemi, ruang fiskal telah digunakan berbagai negara yang berimplikasi pada peningkatan posisi utang. Dengan tiga ancaman tersebut, situasi akan menjadi sangat kompleks untuk dikelola.

Tantangan signifikan ini berada di atas masalah global yang belum terpecahkan seperti yang dibahas oleh semua negara dalam dua tahun terakhir, yaitu pandemi, perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi iklim, dan keberlanjutan utang yang ada di banyak negara berpenghasilan rendah.

BADUNG, BALI, RADARJEMBER.ID  – Sekitar 60 persen negara berpenghasilan rendah sudah berada dalam atau dekat dengan kesulitan utang, sementara selusin negara berkembang mungkin tidak dapat memenuhi pembayaran utang selama tahun depan. Hal itu dikatakan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani pada Pembukaan Pertemuan Ketiga Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (3rd FMCBG) G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Badung, Bali.

BACA JUGA : Gen Z Harus Miliki Ketahanan Ideologi Tak Terpapar Radikalisme

“Jadi ini bukan hanya satu atau dua kasus luar biasa, ini menjadi meluas,” katanya.

Sri Mulyani menekankan hal tersebut menjadi isu yang perlu menjadi perhatian Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20, bersama organisasi internasional dan lembaga multilateral.

Tiga ancaman global, yakni perang, lonjakan/harga komoditas, dan peningkatan inflasi global meningkatkan dan menciptakan dampak nyata terhadap utang, tak hanya untuk negara-negara berpenghasilan rendah tetapi juga di negara-negara berpenghasilan menengah atau bahkan ekonomi maju.

Dia menjelaskan sebelum pandemi dan saat pandemi, ruang fiskal telah digunakan berbagai negara yang berimplikasi pada peningkatan posisi utang. Dengan tiga ancaman tersebut, situasi akan menjadi sangat kompleks untuk dikelola.

Tantangan signifikan ini berada di atas masalah global yang belum terpecahkan seperti yang dibahas oleh semua negara dalam dua tahun terakhir, yaitu pandemi, perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi iklim, dan keberlanjutan utang yang ada di banyak negara berpenghasilan rendah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/