alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Kedepankan Empati dan Kode Etik Jurnalistik untuk Hindari Traumatik

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pemberitaan di media yang bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi akan berdampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh sebab itu, insan pers diharapkan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. Hal tersebut dikatakan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers Yadi Hendriana di Jakarta, menyikapi pemberitaan kasus penembakan polisi baru-baru ini.

BACA JUGA : Walikota Gibran Geram Ketahui Kios Pasar Dijual Online

Dewan Pers mengimbau insan pers mengedepankan empati dan tidak membangun spekulasi terkait pemberitaan tentang istri Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ferdy mengatakan, hal itu untuk menghindari traumatis yang dialami istri dan keluarga Ferdy Sambo. “Menghindari pengalaman yang traumatik itu penting. Kita paham keluarga memiliki putra dan putri; dan juga hindari spekulasi, kemudian asumsi tak mendasar, dan lain-lain. Saya paham jurnalis sudah paham apa itu jurnalisme empati,” kata Yadi Hendriana kepada wartawan di Gedung Dewan Pers Lantai 7, Jakarta.

Dia menilai sejumlah pemberitaan di media bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi; sehingga, menurut dia dampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh karena itu, dia mengimbau insan pers berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. “Informasi harus betul-betul dilihat secara profesional. Jangan ada spekulasi,” tambahnya.

Insan pers seharusnya menulis penjelasan dari Mabes Polri tanpa berspekulasi lebih jauh. “Artinya, spekulasi lebih jauh kan banyak terjadi. Artinya, kita belum tahu benar atau tidak,” katanya.

Pernyataan serupa disuarakan pengacara pihak istri Ferdy Sambo, Arman Hanis. Dia memohon insan pers mengedepankan empati sambil menunggu hasil penyelidikan dari tim khusus yang telah dibentuk Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pemberitaan di media yang bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi akan berdampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh sebab itu, insan pers diharapkan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. Hal tersebut dikatakan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers Yadi Hendriana di Jakarta, menyikapi pemberitaan kasus penembakan polisi baru-baru ini.

BACA JUGA : Walikota Gibran Geram Ketahui Kios Pasar Dijual Online

Dewan Pers mengimbau insan pers mengedepankan empati dan tidak membangun spekulasi terkait pemberitaan tentang istri Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo.

Ferdy mengatakan, hal itu untuk menghindari traumatis yang dialami istri dan keluarga Ferdy Sambo. “Menghindari pengalaman yang traumatik itu penting. Kita paham keluarga memiliki putra dan putri; dan juga hindari spekulasi, kemudian asumsi tak mendasar, dan lain-lain. Saya paham jurnalis sudah paham apa itu jurnalisme empati,” kata Yadi Hendriana kepada wartawan di Gedung Dewan Pers Lantai 7, Jakarta.

Dia menilai sejumlah pemberitaan di media bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi; sehingga, menurut dia dampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh karena itu, dia mengimbau insan pers berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. “Informasi harus betul-betul dilihat secara profesional. Jangan ada spekulasi,” tambahnya.

Insan pers seharusnya menulis penjelasan dari Mabes Polri tanpa berspekulasi lebih jauh. “Artinya, spekulasi lebih jauh kan banyak terjadi. Artinya, kita belum tahu benar atau tidak,” katanya.

Pernyataan serupa disuarakan pengacara pihak istri Ferdy Sambo, Arman Hanis. Dia memohon insan pers mengedepankan empati sambil menunggu hasil penyelidikan dari tim khusus yang telah dibentuk Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID – Pemberitaan di media yang bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi akan berdampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh sebab itu, insan pers diharapkan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. Hal tersebut dikatakan Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers Yadi Hendriana di Jakarta, menyikapi pemberitaan kasus penembakan polisi baru-baru ini.

BACA JUGA : Walikota Gibran Geram Ketahui Kios Pasar Dijual Online

Dewan Pers mengimbau insan pers mengedepankan empati dan tidak membangun spekulasi terkait pemberitaan tentang istri Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol. Ferdy Sambo.

Ferdy mengatakan, hal itu untuk menghindari traumatis yang dialami istri dan keluarga Ferdy Sambo. “Menghindari pengalaman yang traumatik itu penting. Kita paham keluarga memiliki putra dan putri; dan juga hindari spekulasi, kemudian asumsi tak mendasar, dan lain-lain. Saya paham jurnalis sudah paham apa itu jurnalisme empati,” kata Yadi Hendriana kepada wartawan di Gedung Dewan Pers Lantai 7, Jakarta.

Dia menilai sejumlah pemberitaan di media bersifat spekulatif dan berasal dari sumber tidak resmi; sehingga, menurut dia dampak pemberitaan tersebut sangat berbahaya. Oleh karena itu, dia mengimbau insan pers berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik dalam melakukan pemberitaan. “Informasi harus betul-betul dilihat secara profesional. Jangan ada spekulasi,” tambahnya.

Insan pers seharusnya menulis penjelasan dari Mabes Polri tanpa berspekulasi lebih jauh. “Artinya, spekulasi lebih jauh kan banyak terjadi. Artinya, kita belum tahu benar atau tidak,” katanya.

Pernyataan serupa disuarakan pengacara pihak istri Ferdy Sambo, Arman Hanis. Dia memohon insan pers mengedepankan empati sambil menunggu hasil penyelidikan dari tim khusus yang telah dibentuk Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/