alexametrics
22 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Soeharto dan Jokowi Favoritkan Sate Buntel ala Mbok Galak

Mobile_AP_Rectangle 1

SOLO, RADARJEMBER.ID –  Siapa yang tak tahu dengan kuliner satu ini saat berkunjung ke kota Solo, Sate Kambing Mbok Galak merupakan favorit para wisatawan. Letak warung tepat di pinggir Jalan Ki Mangun Sarkoro, salah satu jalur penghubung Solo dengan kota-kota lain. Memudahkan wisatawan hingga pengemudi kendaraan besar untuk mampir menikmati sate buntel, sate daging kambing, tengkleng, dan tongseng.

Muhtar Sidiq, pengelola Sate Kambing Mbok Galak mengatakan, tongseng dan tengkleng buatan Mbok Galak masih disimpan dalam panci besar di dalam pikulan. Sakiyem dan Sudarto, suaminya, memang mengawali kisah Mbok Galak dengan berkeliling. ”Bapak dan ibu itu keliling mengikuti kebiasaan mbah saya yang juga jualan sate,” ucapnya.

Keduanya mulai menetap di satu lokasi pada 1983. Tepatnya, perempatan lampu merah dekat Graha Saba Buana. ”Awaln namanya Warung Sate Kambing Seng. Tapi, berubah karena dijuluki Mbok Galak itu,” ucap Sidiq. Lokasi pertama itu tak lama ditempati Sakiyem dan Sudarto. Keduanya kemudian membeli rumah sederhana di dekat Pom Bensin Ki Mangun Sarkoro, sekitar 200 meter dari lokasi saat ini. ”Namun, ada pelebaran jalan. Akhirnya pindah lagi ke lokasi sekarang. Itu sejak 1990-an,” tuturnya. Meski pindah-pindah lokasi, pelanggan Mbok Galak tetap setia berkunjung. Kenikmatan sate buntel dan sate dagingnya memang bikin orang ketagihan. Termasuk keluarga Soeharto dan Jokowi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jokowi sudah biasa berkunjung ke warung Mbok Galak sejak masih menjadi wali kota. ”Saat jadi gubernur DKI Jakarta juga masih sering main ke sini,” tutur Sidiq. Menu favoritnya adalah sate campur. Yaitu, lima tusuk sate daging dan satu tusuk sate buntel. Sate buntel memang punya ukuran yang bikin mata tergiur. Satu tusuk sate buntel setara dengan lima tusuk sate daging biasa.

Kalau urusan rasa, sate Mbok Galak memang juara. Kalangan antikambing tak perlu khawatir mencicipi. Bau kambing sama sekali tidak tercium. Rasa sate buntel juga juicy, gurih, dan manis tak berlebihan.

Rasa renyah itu berasal dari lapisan lemak yang digunakan untuk membungkus daging kambing yang sudah digiling. ”Kadang lemaknya habis karena permintaan yang tinggi, kami gunakan aluminium foil sebagai pengganti,” ucap pria kelahiran 1984 itu.

- Advertisement -

SOLO, RADARJEMBER.ID –  Siapa yang tak tahu dengan kuliner satu ini saat berkunjung ke kota Solo, Sate Kambing Mbok Galak merupakan favorit para wisatawan. Letak warung tepat di pinggir Jalan Ki Mangun Sarkoro, salah satu jalur penghubung Solo dengan kota-kota lain. Memudahkan wisatawan hingga pengemudi kendaraan besar untuk mampir menikmati sate buntel, sate daging kambing, tengkleng, dan tongseng.

Muhtar Sidiq, pengelola Sate Kambing Mbok Galak mengatakan, tongseng dan tengkleng buatan Mbok Galak masih disimpan dalam panci besar di dalam pikulan. Sakiyem dan Sudarto, suaminya, memang mengawali kisah Mbok Galak dengan berkeliling. ”Bapak dan ibu itu keliling mengikuti kebiasaan mbah saya yang juga jualan sate,” ucapnya.

Keduanya mulai menetap di satu lokasi pada 1983. Tepatnya, perempatan lampu merah dekat Graha Saba Buana. ”Awaln namanya Warung Sate Kambing Seng. Tapi, berubah karena dijuluki Mbok Galak itu,” ucap Sidiq. Lokasi pertama itu tak lama ditempati Sakiyem dan Sudarto. Keduanya kemudian membeli rumah sederhana di dekat Pom Bensin Ki Mangun Sarkoro, sekitar 200 meter dari lokasi saat ini. ”Namun, ada pelebaran jalan. Akhirnya pindah lagi ke lokasi sekarang. Itu sejak 1990-an,” tuturnya. Meski pindah-pindah lokasi, pelanggan Mbok Galak tetap setia berkunjung. Kenikmatan sate buntel dan sate dagingnya memang bikin orang ketagihan. Termasuk keluarga Soeharto dan Jokowi.

Jokowi sudah biasa berkunjung ke warung Mbok Galak sejak masih menjadi wali kota. ”Saat jadi gubernur DKI Jakarta juga masih sering main ke sini,” tutur Sidiq. Menu favoritnya adalah sate campur. Yaitu, lima tusuk sate daging dan satu tusuk sate buntel. Sate buntel memang punya ukuran yang bikin mata tergiur. Satu tusuk sate buntel setara dengan lima tusuk sate daging biasa.

Kalau urusan rasa, sate Mbok Galak memang juara. Kalangan antikambing tak perlu khawatir mencicipi. Bau kambing sama sekali tidak tercium. Rasa sate buntel juga juicy, gurih, dan manis tak berlebihan.

Rasa renyah itu berasal dari lapisan lemak yang digunakan untuk membungkus daging kambing yang sudah digiling. ”Kadang lemaknya habis karena permintaan yang tinggi, kami gunakan aluminium foil sebagai pengganti,” ucap pria kelahiran 1984 itu.

SOLO, RADARJEMBER.ID –  Siapa yang tak tahu dengan kuliner satu ini saat berkunjung ke kota Solo, Sate Kambing Mbok Galak merupakan favorit para wisatawan. Letak warung tepat di pinggir Jalan Ki Mangun Sarkoro, salah satu jalur penghubung Solo dengan kota-kota lain. Memudahkan wisatawan hingga pengemudi kendaraan besar untuk mampir menikmati sate buntel, sate daging kambing, tengkleng, dan tongseng.

Muhtar Sidiq, pengelola Sate Kambing Mbok Galak mengatakan, tongseng dan tengkleng buatan Mbok Galak masih disimpan dalam panci besar di dalam pikulan. Sakiyem dan Sudarto, suaminya, memang mengawali kisah Mbok Galak dengan berkeliling. ”Bapak dan ibu itu keliling mengikuti kebiasaan mbah saya yang juga jualan sate,” ucapnya.

Keduanya mulai menetap di satu lokasi pada 1983. Tepatnya, perempatan lampu merah dekat Graha Saba Buana. ”Awaln namanya Warung Sate Kambing Seng. Tapi, berubah karena dijuluki Mbok Galak itu,” ucap Sidiq. Lokasi pertama itu tak lama ditempati Sakiyem dan Sudarto. Keduanya kemudian membeli rumah sederhana di dekat Pom Bensin Ki Mangun Sarkoro, sekitar 200 meter dari lokasi saat ini. ”Namun, ada pelebaran jalan. Akhirnya pindah lagi ke lokasi sekarang. Itu sejak 1990-an,” tuturnya. Meski pindah-pindah lokasi, pelanggan Mbok Galak tetap setia berkunjung. Kenikmatan sate buntel dan sate dagingnya memang bikin orang ketagihan. Termasuk keluarga Soeharto dan Jokowi.

Jokowi sudah biasa berkunjung ke warung Mbok Galak sejak masih menjadi wali kota. ”Saat jadi gubernur DKI Jakarta juga masih sering main ke sini,” tutur Sidiq. Menu favoritnya adalah sate campur. Yaitu, lima tusuk sate daging dan satu tusuk sate buntel. Sate buntel memang punya ukuran yang bikin mata tergiur. Satu tusuk sate buntel setara dengan lima tusuk sate daging biasa.

Kalau urusan rasa, sate Mbok Galak memang juara. Kalangan antikambing tak perlu khawatir mencicipi. Bau kambing sama sekali tidak tercium. Rasa sate buntel juga juicy, gurih, dan manis tak berlebihan.

Rasa renyah itu berasal dari lapisan lemak yang digunakan untuk membungkus daging kambing yang sudah digiling. ”Kadang lemaknya habis karena permintaan yang tinggi, kami gunakan aluminium foil sebagai pengganti,” ucap pria kelahiran 1984 itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/